Beauty To You

Beauty To You
Sticky note


__ADS_3

**Sebelum baca, Yuk Votenya.


Happy Reading ❣️**


Setelah dua hari berdiam diri di kamarnya,hari ini Beauty mulai berangkat sekolah. Dikurung dalam kamar selama dua hari bukan hal yang tabu untuk Beauty, dirinya bahkan pernah dikurung hingga seminggu di dalam kamar oleh ibunya. Tapi, hal tersebut tidak bisa membuat Beauty benci terhadap ibunya. Bahkan, Beauty semakin menyayanginya karena merasa ibunya masih peduli dengannya.


Beauty berjalan ditengah koridor kelas XI dengan wajah tertunduk. Ia terlalu malas meladeni cibiran orang-orang disekitarnya mengenai wajahnya yang jelek. Oleh karena itu ia lebih memilih menutup mata dan telinganya daripada menutup mulut semua orang.


Saat sampai di kelasnya, ia mendapati sebuah catatan kecil di kursinya. Catatan berwarna pink neon yang menarik matanya.


Ke ruang musik sekarang.


Beauty mengernyit bingung dengan catatan kecil tersebut. Feeling nya tidak enak mengenai ini. Ia takut jika yang memberikan catatan kecil ini adalah Bella dan Anya yang ingin mengerjainya sehingga Beauty memilih untuk tidak mengikuti arahan tersebut.


***


Ansell menggeram kesal saat mendengar bel sekolah berbunyi. Saat ini ia sedang berada di ruangan yang jaraknya cukup jauh dari kelas. Persetan dengan sekolah yang luas ini! gerutunya dalam hati.


Jika saja bukan pelajaran Pak Gio, maka Ansell tidak akan menyia-nyiakan tenaganya hanya untuk berlari dan menjadi santapan gadis-gadis disepanjang koridor.


Sekolah terluas di Indonesia ini, menyediakan banyak sekali hal-hal yang tak biasa. seperti indomaret pribadi, atm pribadi, bahkan hingga penginapan pribadi milik sekolah. Biaya perbulan sekolah ini tergolong cukup mahal, yaitu 2,5 Juta. Itulah mengapa sekolah ini disebut sebagai sekolah paling Elite di sini.


Ansell sampai di depan kelas dengan nafas yang ngos-ngosan. Ia mengintip sejenak kedalam, mendapati Pak Gio yang sedang menulis di papan tulis.Daripada dirinya alpa dan mendapat bacotan nasehat dari ayahnya, lebih baik ia masuk dan berurusan dengan Pak Gio.


Ansell masuk dengan sok santai padahal hatinya sudah siap menerima setiap konsekuensi. Pak Gio yang sedang membelakangi Ansell awalnya tidak menyadari kehadiran laki-laki itu sampai dirinya mendengar suara kaki yang tersandung meja.


gubrak!


"Aw!" ringis Ansell dengan mata terpejam karena belum siap melihat wajah marah Pak Gio.


"Darimana kamu? kenapa terlambat?" tanya Pak Gio dengan nada bicara yang sangat tidak santai.


"Kepo banget elah pak," jawab Ansell dengan santai.

__ADS_1


Pak Gio yang merasa diremehkan oleh Ansell akhirnya balik membalas, "Kenapa terlambat?"


"Salahin sekolah ini lah bukan salah saya, suruh siapa sekolah kegedean udah kaya cintaku ke Bu Nina. Aw!" kata Ansell dengan nada merayu.


Mendengar Ansell, Pak Gio bukannya luluh malah semakin naik pitam. Menatap geram Ansell lalu menunjuk pintu seakan memberi tahu bahwa itu adalah pintu keluar yang harus dilalui Ansell.


Dan Ansell berakhir bersama Pak Wawan bermesraan di taman kelas XI. Ansell untuk yang kesekian kalinya dihukum untuk membersihkan taman bersama Pak Wawan tercinta. Saking seringnya, mereka sampai dikatakan bapak dan anak. yang mereka lakukan saat bertemu adalah sharing cerita menarik seperti saat ini.


Ansell mengusap ingusnya saat mendengar cerita sedih dari Pak Wawan. Meskipun ia berbadan kekar dengan roti sobek 6 biji, tetapi hatinya mudah luluh terhadap cerita sedih.


"Terus Pak, nasibnya Jennie gimana?" tanya Ansell dengan antusias.


"Jennie mati." jawab Pak Wawan dengan lesu.


"Apa?!" Ansell mulai mendramatisir keadaan dengan berlagak seperti bintang film Insodiar.


"Matinya gimana?"


"Ketabrak mobil." jawab Pak Wawan membuat Ansell menghela nafas kasar sembari mengerucutkan bibirnya. Ansell geleng kepala beberapa kali seakan menunjukkan bahwa ia tak menerima keadaan ini. Hingga akhirnya, ia dikejutkan dengan seseorang yang menepuk pundaknya.


"Lo berurusan sama di botak lagi?" tanya Alva yang seakan sudah hafal dengan Ansell. Alva, Ansell, maupun Beauty beda kelas. Beauty dan Bella satu kelas, Ansell dan Anya, satu kelas.


Ansell mengangguk sebagai jawaban.


Mata Alva menangkap hal yang cukup mengganjal disana, air mata Ansell. tentu temannya itu tak mungkin menangis karena dikeluarkan dari kelas. pasti ada alasannya. dan sepertinya, Alva mengetahuinya.


"Tau gak? lo itu ditakuti banyak orang loh, bisa gak sih berwibawa dikit?" cibir Alva.


"Memang gue kurang berwibawa apa?! bela diri gue bisa, balapan liar gue pemenangnya, cewek pada ngantri jadi pacar gue. kurang apa coba gue?" protes Ansell tidak terima.


"Kurang otak. Otak lo kebawa angin atau gimana sih?!" tanya Alva sembari menjitak Ansell.


"Iya tau otak gue tepos-tepos gak kaya lo yang kebanyakan baking soda." gerutu Ansell.

__ADS_1


"Maksud lo tepos-tepos?" tanya Alva.


Ansell tertawa meremehkan,"Rata-rata. Gimana sih, katanya pinter!"


"Kalo otak rata, muka gue harusnya gepeng dong ****!" bela Alva tak mau kalah.


"Bukan gepeng, tapi kerucut sayang... kan di bawah ada mukanya, eh atasnya kosongan akhirnya melancip seperti anu."


"Anu apaan Sell?"


"anu: satu kata berjuta makna. semau lo ajah maknanya yang kali ini apa."


"Btw,emang baking soda tuh pengembang?" tanya Alva setelah hening beberapa saat.


Ansell mengendikkan bahunya membuat Alva menjitak kepalanya dan ikut jongkok di samping Ansell menatap sesuatu di depan Pak Wawan yang menarik perhatiannya.


"Lo abis nangisin ini?" tanya Alva yang dihadiahi gelengan cepat oleh Ansell.


"Lo seriusan nangis gara-gara kucing mati ini?!" tanya Alva lagi dengan nada bicara yang lebih keras.


"Kasihan, Jennie ketabrak mobil trus yang nabrak gamau tanggung jawab." jawab Ansell lirih.


"Astaga dragon!" keluh Alva tak habis fikir.


***


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, hujan mulai turun dengan perlahan. Awan gelap menghiasi langit. Rasanya, alam pun merasakan hal sama dengan Beauty.


Beauty baru saja mendapatkan kabar buruk. Ia dikeluarkan dari daftar calon lomba entah karena apa. Dan daftar tersebut digantikan oleh Bella yang nilainya bahkan jauh dibawah Beauty. Meskipun ibunya cukup berkuasa, tetapi Beauty tak ingin memanfaatkannya. Beauty mau semuanya berjalan dengan semestinya tanpa campur tangan orang tuanya. Toh, Ibunya juga tak sudi untuk mengurusi urusan pribadi Beauty.


Tanpa terasa, sudah cukup lama Beauty berjalan dibawah derasnya hujan. Air matanya luruh begitu saja dengan bibir tersungging senyuman. Beauty selalu menekankan kepada dirinya bahwa apapun itu harus di akhiri dengan senyuman.


Saat dirinya mendongak keatas membiarkan butir demi butir air hujan jatuh membasahi pipinya, tangannya ditarik seseorang sehingga ia berteriak memberontak.

__ADS_1


"Heh mau apain gue?!" protes Beauty.


Jangan lupa like dan komentarnya:)


__ADS_2