
**Sebelum baca, Yuk Votenya.
Happy Reading ❣️**
Di akhir pekan, yang biasa Beauty lakukan adalah berdiam diri di taman menunggu matahari tenggelam. Tetapi, berbeda dengan saat ini. Gadis itu tengah mengajari Ansell pelajaran bahasa inggris.
Beauty tak habis pikir, seharusnya orang sekaya Ansell sudah mempu menguasai bahasa inggris karena sering liburan keluar negeri. Tetapi, laki-laki itu malah sangat bodoh dalam pelajaran tersebut selain matematika.
"Lo kenapa sih ngelamun mulu?" suara Ansell membuat Beauty terhenyak kaget. Lamunannya buyar begitu saja karena suara berat tersebut.
"Bukan urusan lo." jawab Beauty dengan tergagap. Beauty memutar bola matanya menghindari kontak mata dengan Ansell agar tak ketahuan bohong.
"Lo tau gak?" -Ansell
"Hm?"-Beauty
"Kalo lo itu baik, terlalu baik malahan. Ati-ati ntar lo dimanfaatin orang." kata Ansell seraya mengelus rambut Beauty.
Gadis yang dielus kepalanya menganga, pipinya sudah semerah kepiting rebus dan jantungnya sudah berdetak dengan kecepatan maksimal. Beauty menelan ludahnya kasar berusaha kembali normal meskipun gagal karena masih ada kegugupan yang tampak jelas.
"Baper lo?" tanya Ansell.
Sialan emang, naksir sama orang yang ceplas-ceplos seperti Ansell memang cukup sulit. Apalagi Ansell memiliki tingkat kepekaan yang luar biasa.
***
Ansell terkejut saat pintu apartemennya dibanting seseorang. Dirinya yang semula rebahan, langsung berdiri tegak melihat kelakukan seorang gadis? ah, dia sudah tidak bisa dikatakan gadis karena sudah beranak satu.
"Pintu apartemen gue ga punya salah sama lo, kenapa lo rusak?"tanya Ansell. Matanya menyorot tajam kedalam manik Anya yang sedang berdiri sejajar di depannya.
Dada Anya naik turun menahan emosi, matanya memerah bengkak seperti habis menangis, dan rahangnya mengeras runcing. Anya hanya diam selama beberapa menit menatap tajam ke dalam bola mata Ansell.
"lo kenapa sih?" tanya Ansell lagi. Ansell yakin, ada yang salah dari diri Anya.
"ngapain lo ke rumahnya si kera? ngapain kalian berduaan sampai malem?!" tegas Anya.
Anya meneteskan air matanya, sedikit demi sedikit. Ia masih tak gentar sedikitpun untung meminta penjelasan laki-laki di depannya. sedangkan laki-laki itu malah tertawa mengejek.
"lo ngikutin gue?" tanya Ansell.
"apa yang lo sembunyiin, Ansell?" tangan Anya mengepal kuat menahan diri agar tidak terisak di depan Ansell.
__ADS_1
"bukan urusan lo. lo bukan siapa-siapa buat gue, jadi urus urusan lo sendiri ngerti?" Ansell menyeringai, lalu berpaling dari hadapan Anya.
"itu urusan gue, KARENA GUE SAYANG SAMA LO! GUE CINTA SAMA LO!" teriak Anya seperti orang kesetanan.
Ansell yang tadinya hendak ke kamarnya, menoleh sejenak."Sayang? Cinta? Lo cuman mau manfaatin gue. Gue tau itu."
Ansell kembali mendekati Anya, berdiri persis dihadapan gadis itu lalu mencekram rahangnya. "Rasa sayang dan cinta gue buat lo udah mati satu tahun yang lalu."
***
Satu tahun yang lalu, Tahun 2019
"Lo mau gak jadi pendamping hidup gue?" tanya Ansell kepada Anya.
Saat itu, hujan sedang sangat deras ditengah acara ulang tahun Bella yang diadakan dengan sangat meriah. Petir saling bersahutan menjadi saksi bisu terjalinnya hubungan antara Ansell dan Anya. Sebelum berpasangan, mereka memang sudah cukup dekat dari awal masuk ke Orymos High School. Meskipun fans keduanya sama-sama banyak, tetapi lebih banyak pula yang mendukung hubungan keduanya. Katanya sih, seperti romeo dan juliet.
Anya mengangguk malu-malu sembari menerima bunga mawar pemberian Ansell. Setelahnya, gadis itu dipeluk dengan eratnya. Karena hal tersebut, Acara ulang tahun Bella menjadi hot news dan dibicarakan satu sekolahan. Banyak dari kalangan senior yang menyesal karena melewatkan acara tersebut, tapi banyak juga yang beruntung karena tak melihat pujaan hatinya mengutarakan perasaannya kepada Anya.
"Cie, yang udah official." goda Bella.
Gaun Indah berwarna navy menjuntai hingga ke ujung kakinya. Tubuh proporsional yang dimilikinya sangat cocok dengan gaun yang dikenakan. Begitupun dengan Anya, yang menyandang sebagai Gadis tercantik di angkatan 21. Gaun maroon yang digunakan terlihat sangat elegan, ditambah dengan riasan natural pada wajah blasteran yang dimilikinya membuat kecantikan Anya tak terkalahkan, bahkan Ansell tak bisa memalingkan pandangannya dari wajah cantik kekasihnya.
"Lo kapan nih?" balas Anya sembari menyenggol bahu Bella.
"Emangnya gue nikung? kan udah ada kesepakatan zeyeng..."
Memang dulu, mereka sempat berselisih memperebutkan Ansell. Tetapi, mereka akhirnya memutuskan untuk membuat kesepakatan bersaing secara adil. Dan siapapun yang tak dipilih Ansell, maka harus menerima dengan lapang dada.
"He, Ansell kok lo mah sih sama nenek lampir kayak Anya? kenapa sama gue aja yang kaya Cinderella?" goda Bella sembari mengerlingkan sebelah matanya.
"Duh, maaf yah mbak Belle, tapi hatinya prince lebih milih nenek lampir daripada Cinderella." balas Ansell.
"Sebucin itu lo sama Anya ya?" tanya Bella.
Anya tertawa membayangkan hal-hal bucin yang pernah Ansell lakukan kepadanya. Seperti membawakan makan tengah malam, sampai menunggunya di salon selama 4 jam tanpa mengeluh sedikitpun.
Kisah cinta paling romantis di angkatan 21 itu membuat seisi sekolah cemburu. Mereka sering terlihat bermesraan di sekolahan, mulai dari berangkat dan pulang bareng, ke kantin berdua, sampai dihukum berdua pun pernah mereka lalui.
Sayangnya, kisah cinta itu harus berakhir tragis dalam kurun waktu hanya 6 bulan karena suatu hal yang membuat Ansell sangat membenci Anya hingga detik ini.
***
__ADS_1
"Lala...." teriakan Beauty menggema seantero kelas.
Beauty yang biasanya pendiam, setelah bertemu Lala sedikit demi sedikit mulai berubah. Yang dulunya gadis itu selalu menundukkan kepalanya, sekarang ia mulai menegakkan kepalanya. Kata Lala, kalau seorang wanita menunduk maka mahkota yang membuat dirinya bersinar akan jatuh.
"Ada apa sayangku?" tanya Lala.
Beauty meletakkan tasnya, menatap lama dengan senyum merekah di bibirnya.
"Gue suka sama Ansell." kata Beauty.
"Oh."
"Kok cuman oh sih?"
"Gue udah tau dari lama, bodoh."
Beauty mengerucutkan bibirnya. Lala menghela nafas kasar, mendekati sahabatnya lalu memeluknya erat sambil berbisik, "selamat, kehidupan lo gak akan lurus lagi setelah ini."
"Maksudnya?"tanya Beauty tak mengerti.
"Saat lo suka sama orang, itu artinya lo harus siap buat jatuh." jawab Lala.
"Terus gue harus gimana?"tanya Beauty lagi.
"Utarakan atau lupakan. cuman dua pilihannya."
***
Langit sore hari ini terlihat cukup cerah. Warna orange yang mendominasi menambah kesan hangat untuk menikmati senja. Semilir angin berhembus terasa sejuk saat dihirup. Sang mentari malu-malu menyembunyikan diri.
Seorang gadis tengah menunggu sang pangeran di depan gerbang sekolah. Sudah sekitar 30 menit Beauty menunggu, hingga akhirnya yang ditunggu datang juga.
"Ada apa?" tanya Ansell.
"Gue mau ngomong sesuatu." jawab Beauty dengan pipi yang memerah.
"Apa?"
"Gue jatuh cinta." Beauty tersenyum hangat, matanya menatap mata Ansell sedalam mungkin berharap perasaannya tersampaikan pada laki-laki tersebut.
"sama siapa?" tanya Ansell.
__ADS_1
"Sama lo, Ansell. Gue jatuh cinta sama lo."