
**Sebelum baca, Yuk Votenya.
Happy Reading ❣️**
"Kok bisa cewek jelek kaya dia bisa masuk sekolahan ini?"
Beauty mendengarnya dengan sangat jelas. Sakit hati? tentu saja. gadis mana yang tidak merasa sakit hati saat mendengar hal tersebut?
Tetapi, lagi-lagi Beauty memilih diam. baginya, dengan melawan setiap cacian itu, tak akan ada untungnya juga.
Beauty kembali ke kelasnya dengan menggenggam surat skorsing yang baru saja di dapatkan dari kepala sekolah secara langsung. Ia membuang nafas berat memikirkan apa yang harus dikatakan kepada ibunya?
Di pintu kelas, Bella sudah bertengger layaknya seorang Ratu yang sedang berbahagia karena memenangkan perang. Ia menatap Beauty dengan wajah kasihan. Kasihan yang mengejek. Beauty yang malas melihat kemenangan Bella memilih menunduk dan melewatinya begitu saja hingga akhirnya, Beauty kembali menabrak seseorang.
"Maaf." katanya kepada seseorang yang ia tabrak.
"Ck! ****." cerca orang yang ditabrak Beauty.
Beauty mendongak menatap seorang laki-laki dengan ketampanan maksimum berdiri di depannya. Untuk sekedar berkedip saja ia tak sanggup. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, ada sesuatu yang berbeda dan cukup aneh. Beauty tak menyukai hal ini.
"Lo, Beauty?" tanya laki-laki tersebut membuat Beauty mengangguk cepat.
"Gue Ansell." kata Ansell membuat Beauty menganga. Selama ini, Beauty sering mendengar perihal ketampanan Ansell yang tiada tara. Dan ternyata, hal tersebut benar adanya. bahkan, disaat babak belur begini Ansell masih terlihat tampan.
***
Beauty bergumam tak jelas sedari tadi. Ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri atas apa yang dirasakannya saat melihat Ansell. Kata orang, cinta pandangan pertama itu ada. tetapi, hal tersebut tidak dapat dipercaya oleh Beauty. sehingga gadis itu selalu menyangkal perasaannya.Bukannya tak ingin, tetapi menurutnya cinta dan benci hanya dibatasi halusinasi. Sehingga apa yang ia percaya itulah yang akan terjadi.
__ADS_1
Sedang asik berkecamuk dengan pikirannya sendiri, suara Ibunya memekakkan telinga Beauty. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat membayangkan hukuman apa yang akan ia terima dari Ibunya.
"Bee,sini kamu!" suara Nyonya Marcellen, ibunya Beauty menggema di seluruh ruangan.
Dengan berat hati,Beauty menghampiri Nyonya Marcellen yang berada di ruang keluarga. Terlihat ibunya yang sedang duduk santai di kursi kebesarannya-kursi dengan dominan warna silver yang mencolok ditengah ruangan. "Ada apa mah?" tanya Beauty.
Dengan menggebu-gebu, Nyonya Marcellen melempari Beauty menggunakan bantal sofa disekitarnya. Beberapa tepat sasaran dan sisanya meleset. Sesaat setelah bantal sofa habis, Nyonya Marcellen melemparkan vas bunga kepada Beauty dengan memburu. Dan vas bunga tersebut tepat sasaran. tangan kanan Beauty berdarah karenanya. tetapi, Nyonya Marcellen sama sekali tidak memperdulikannya. Jika sudah seperti ini, Beauty yakin bahwa surat skorsing itu sudah diterima oleh ibunya.
"Dasar tidak tahu malu! Gadis jelek sepertimu masih berani bertengkar dengan anak kepala sekolah?!" bentak Nyonya Marcellen. Matanya setajam elang, ucapannya setajam belati, dan rahangnya sekeras baja menatap wajah anak gadisnya.
"Maaf." lirih Beauty tanpa menatap Ibunya sedikitpun.
"Maafnya kamu nggak berguna. Sangat memalukan! untung saja tak ada yang mengetahui kalau kamu anak saya." ketus Nyonya Marcellen.
"Kamu tidak saya izinkan keluar kamar selama 2 hari." lanjutnya sebelum meninggalkan Beauty .
Beauty menuju tangga, menaikinya dan masuk kedalam kamar pribadinya yang berada di lantai dua. Ruangan bernuansa softpink itu cukup luas dengan queenbed berada ditengah ruangan.
Setelah mengunci pintu, ia terduduk lemas sembari terisak. Sampai kapan ibunya akan benci terhadap dirinya? Sampai kapan ia akan dianggap seperti anak tiri oleh keluarga satu-satunya? Fisiknya memang tak seindah yang lain, tapi tak bisakah ibunya tak peduli akan hal tersebut?
"Hikss... Aku sayang mamah."
***
Mobil Ansell membelah jalanan memasuki salah satu perumahan mewah di kota ini. Mobilnya berhenti pada rumah mewah 3 lantai yang ditempatinya sejak terlahir di dunia. Rumah dengan nuansa kayu yang sangat nyaman ditempati keluarga besarnya. Pintu kayu berukuran besar terbuka sesaat setelah ia turun dari mobil hitamnya. Ia disambut oleh malaikat kecilnya yang ternyata sudah menunggu sedari tadi.
__ADS_1
"Abang.... " teriakan bocah berusia 15 tahun itu membuat senyum Ansell merekah.Ansell langsung berjongkok, menyetarakan tinggi badannya dengan bocah tersebut. Tangan kanannya memeluk gadis kecil tersebut dan tangan kirinya memegang box donat.
"Di tangan kakak, donat kesukaan Lizzy yah?"tanya Lizzy, gadis kecil yang menjadi penyemangat hidupnya.
Ansell mengangguk membuat Lizzy bersorak kegirangan. Gadis di depannya sudah cukup dewasa harusnya. Tapi, dikarenakan kelainan yang di derita membuat mental Lizzy seperti seorang bocah berusia 5 tahun. Dan Ansell tidak peduli akan hal tersebut. Yang ia tahu, gadis kecil itu adalah adik kesayangannya. Ansell tersenyum hangat ketika tangan mungil itu menggenggamnya dan menuntun Ansell kedalam rumah mewah di Jalan Virasta nomor 16.
memasuki ruang keluarga,mereka disambut oleh Tuan Lawson dan Nyonya Alesha yang sedang bermesraan di sofa sembari menonton TV. Ansell yang menggendong Lizzy menghampiri orang tuanya dan ikut duduk disana.
"Romantis banget sih kakak beradik ini?" goda Alesha sambil mengecup Lizzy yang berada pada gendongan Ansell sekarang.
"Kakak habis bertengkar lagi yah?" tanya Alesha saat melihat luka dan memar pada wajah tampan Ansell.
Ansell tersenyum lebar. "Biasa, anak muda. Kalo gak gini ntar dibilang banci mah."
"Halah, diluar sana sok jagoan pukul sana pukul sini. Giliran dirumah, sama nyonya kecil satu ini ajah kalah." sindir ayahnya sembari mencubit kedua pipi Lizzy yang menggemaskan.
Ansell mencium puncak kepala Lizzy. "Habisnya nyonya satu ini lucu banget sih yah, kalo enggak nurut ntar Ansell gak dikasih makan. Gimana dong?"
Lizzy terkekeh mendengarnya. Ia mencium pipi Ansell berkali-kali lalu memeluknya penuh kasih sayang. Sungguh, orang yang paling Ansell sayangi adalah keluarganya.
"Abang jangan berantem terus, ntar dimarahin sama penyihir kaya di buku dongeng yang Lizzy baca waktu itu." ujar Lizzy sambil mengelus bekas luka pada wajah Ansell.
Ansell meringis kesakitan, lalu kembali tersenyum. "Oh ya? Penyihirnya cantik enggak? Kalau cantik ntar abang jadiin pacar."
Lizzy menggeleng cepat. "Enggak! abang pacar Lizzy, gaboleh punya pacar lagi."Semua yang mendengarnya sontak tertawa.
***
__ADS_1
jangan lupa dukung cerita ini yah:)