
**Sebelum baca, Yuk Votenya.
Happy Reading ❣️**
"Ansell gue suka sama lo. Mau gak jadi pacar gue?"
Beauty mengutarakan hatinya. Ditengah kehebohan lapangan basket atas kemenangan laki-laki itu, Beauty menambah kehebohan tersebut dengan mengutarakan perasaannya. Seluruh pasang mata fokus pada keduanya. Dan segala macam bisikan setan berhamburan hingga terdengar ke telinga gadis tersebut.
"*gak punya malu banget. Sama gue masih cantikan gue lah."
"nyali nya wajib diacungi jempol sumpah."
"bakalan ditolak. liat aja nanti*."
Ansell membeku. Ia melirik sekitar mencoba meminta bantuan tetapi tak ada satupun yang dapat membantunya. Hatinya sangat menolak Beauty. Tak ada rasa cinta sedikitpun pada gadis di depannya. Hanya ada rasa penasaran yang menggebu setiap melihatnya.
Ia melirik sekilas mendapati Anya dengan tangannya yang mengepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih sempurna. Disampingnya ada Bella yang menatapnya seperti ingin membunuh. Keduanya adalah gadis yang terbilang sangat mengenalnya terutama Anya, mantan kekasihnya.
Ansell sudah kewalahan, akhirnya ia melangkah maju dan berbisik lirih kepada Beauty hingga membuat semua mata melotot melihatnya.
"Gue jawab jam 2 siang di lapangan belakang sekolah." bisik Ansell.
Beauty mengangguk sambil tersenyum, lalu ia meninggalkan lapangan basket dengan senyum mengembang hingga menimbulkan banyak spekulasi tentang kata-kata yang Ansell bisikkan ke telinga Beauty.
__ADS_1
***
Hasil Penilaian Tengah Semester hari ini dibagikan. Akan tetapi, nilai yang Ansell dapatkan tak sesuai dengan ekspektasinya. Beberapa masih dibawah kkm. Terutama pelajaran bahasa inggris, ia mendapat nilai terendah di kelas.
Meskipun nilai matematika nya melonjak cukup tinggi, tetapi Ansell tak mau bangga hanya dengan nilai matematika. Yang ia inginkan adalah rata-rata nilainya naik dengan drastis sehingga ia tak akan dipaksa ayahnya untuk sekolah bisnis diluar negeri.
Selain itu, akhir-akhir ini dirinya mempunyai sebuah cita-cita untuk menjadi seorang dokter anak karena Ia sangat menyukai anak kecil.
"Udah kan? sampai disini aja?" kata Alva tiba-tiba.
Ansell menoleh menatap Alva dengan kening berkerut. "maksud lo?"
"Cukup buat manfaatin Beauty." tegas Alva.
"Sorry, gak bisa. Hidup gue bergantung sama dia." kata Ansell sambil berjalan meninggalkan Alva.
***
Jam 2 siang, Beauty sudah berada di lapangan belakang sekolah menunggu kehadiran sang pangeran. Dengan sedikit malu-malu dan sempat tertahan oleh Anya dan Bella.
Setelah mengungkapkan perasaannya kepada Ansell dirinya semakin dibenci oleh satu sekolahan. Saat dirinya berjalan, semua mata dan bibir berbisik kepadanya. Semua aura kebencian berkumpul menjadi satu disekitarnya. Bahkan, Lala sempat marah karena hal konyol yang dilakukan Beauty tadi.
Lala marah hingga menangis membayangkan jika Ansell tiba-tiba sangat jahat kepadanya dan memakinya di tengah lapangan basket. Ia tak bisa membayangkan sahabatnya akan dipermalukan satu sekolahan oleh seorang laki-laki hanya perihal Cinta.
__ADS_1
Saat Beauty tengah menunggu, ia dikejutkan oleh Bella dan Anya yang ternyata sedang berada di sana. Bella mengeluarkan seringaiannya, dan Anya sepeti akan menerkamnya.
"Lo yakin Ansell bakalan nerima lo?" ketus Anya.
"Cewek kaya lo gak usah belagu pakai nembak Ansell ditengah lapangan gitu." timpal Bella.
Beauty malas meladeni. Gadis itu hanya menghembuskan nafasnya berat, seakan bertemu dengan kedua setan itu benar-benar hal yang membuatnya terbebani.
Sebelum keduanya kembali menggila, Ansell sudah datang terlebih dahulu dan menarik tangan Beauty dari sana.
Ansell memperingati Beauty. "Gue udah bilang kan, jauh-jauh dari mereka!"
Beauty tersenyum lega, Ansell perhatian kepadanya.
Melihat Beauty tersenyum seperti kesetanan membuat Ansell merasa heran. Apa yang salah dengan kata-kata nya? Ia hanya tak mau Beauty mengetahui bahwa Ansell memanfaatkannya saja melalui Bella dan Anya.
"Hm, gue mau jadi pacar lo." kata Ansell membuat Beauty melotot seketika.
Beauty mengorek telinganya, mengucek matanya, bahkan mencubit pipinya untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi dan dirinya tidak salah dengar.
"Gimana?" tanya Beauty memastikan.
Ansell mengangguk tanpa ragu membuat Beauty menatap laki-laki itu dengan dalam. Beauty merasa keganjilan pada sesuatu di sana. Dimata Ansell..
__ADS_1
tidak ada Cinta untuknya.