
**Sebelum baca, Yuk Votenya.
Happy Reading ❣️**
Anya Beatrix, seorang perempuan mandiri dengan kepribadian yang tegas. Apapun yang dia inginkan, maka harus dia dapatkan. Ibunya adalah seorang dokter, dan Ayahnya adalah seorang pengacara. Anak dari orang hebat ini selalu memiliki tekad yang kuat perihal apapun.
Di kelas 11 SMA ini, usianya tergolong cukup tua yaitu 18 tahun. Itu dikarenakan ia ditolak satu kali di Orymos High school. Sekolah berkelas juga menggunakan sistem otak, tidak hanya uang. Anya memilih digunjingkan beberapa temannya daripada harus masuk ke sekolahan lain. dan berkat usahanya selama setahun, ia berhasil mencapai tujuannya.
"*sungguh sulit buatmu percaya~
tiada yang berubah
bulan yang terus silih berganti
belum juga kucium tanganmu
tak akan lama
tak akan ku ingkari lagi
ku segera berlari
tak perlu menunggu
ku kan datang hari ini
pulang ke pelukanmu* ~ Raisa-lagu untukmu.
"Kenapa Cia suka lagu ini?" tanya Anya sembari mengusap rambut Cia.
"Karena ini lagu untuk ibu." jawab gadis kecik itu dengan suara lucunya. manik matanya yang mirip dengan Anya, hidungnya, serta bibir kecilnya selalu membuat Anya menangis saat mengingat masa lalunya.
"Kenapa Cia minta mamah nyanyiin lagu ini? harusnya, Cia yang nyanyi lagu ini buat mamah." kata Anya.
Cie menggembungkan pipinya dan berpose layaknya sedang berpikir. Kedua tangan kecilnya memeluk erat Anya dan mencium kedua pipi Anya.
__ADS_1
"Biar mamah sadar kalau mamah udah berkorban banyak buat Cia. Kan cuma mamah yang tau pengorbanan mamah." jawabnya dengan terbata-bata.
Suara Cia yang belum fasih berbicara membuat Anya menitihkan air mata. Anaknya itu membuat ia mengingat bagaimana perjuangannya dulu. Perjuangan diusir oleh kedua orang tuanya, berusaha menghidupi dirinya sendiri, dan berusaha menjaga buah hatinya. Hingga akhirnya, kedua orang tuanya memaafkan Anya setelah melihat cucunya lahir dengan selamat.
"Kenapa Cia ga pernah tanya tentang papah?" tanya Anya.
Cia menggeleng pelan. "Cia gak butuh papah, Cia udah punya mamah."
Mendengar itu, Anya mengerjapkan matanya beberapa kali menahan air mata yang akan menetes.
"Sekarang, Cia tidur yah.. mamah mau ke kamar sebelah dulu, soalnya mau belajar buat ulangan besok... Bye sayang, selamat tidur. " kata Anya sembari menarik selimut Cia sampai dada dan mengecup singkat dahi anaknya.
Anya menutup pintu kamar Cia, berjalan dengan rasa sesak di dadanya. Mati-matian ia menahan air matanya berusaha untuk tidak menangis di depan Cia. Hanya Cia kekuatannya saat ini. Hanya gadis kecil itu harapan hidupnya setelah dihancurkan oleh dirinya sendiri.
Anya menuju dapur, mengambil segelas air putih lalu menenggaknya habis. Bukannya semakin tenang, rasa sesak itu justru semakin menyeruak. Air matanya jatuh begitu saja. Anya berjongkok menangis tersedu-sedu dengan tangannya yang gemetar memegang gelas.
***
Brak!!
"Apa tadi lo bilang? gue cuman ngandelin orang tua gue?!" gertaknya membuat sang mangsa ketakutan.
"Siapa tadi nama lo? Lala? hahahaha mana Tinky winky, dipsy, sama pooh? Gak lo ajak pindah ke sini sekalian?" ketus Anya menimpali.
"Itu rumor yang aku denger disini Bella, maaf aku gak bermaksud." cicit Lala ketakutan.
Bella menyetarakan tingginya dengan Lala yang sedang berlutut. Ia menarik rambut Lala dan mencengkram dagunya. Lala sudah sangat ketakutan. Hari pertamanya di sekolah ini lebih buruk dari yang dibayangkan hanya karena satu hal. Bergosip tentang Bella dan terdengar ke telinganya.
Bella menarik kerah baju Lala hingga gadis itu terasa tercekik. Ia berusaha meminta tolong namun malah ditertawakan oleh Bella dan Anya. Tenggorokannya mulai memanas dan nafasnya mulai terasa sulit. Ia menepuk-nepuk lantai meminta belas kasihan agar Bella melepaskannya.
Sedang Bella? Gadis itu menikmati pemandangan di depan matanya. Seseorang sedang tak berdaya di tangannya, dan Bella suka itu. Sepertinya, ia memiliki mangsa baru selain Beauty. Setelah dirasa cukup, Bella melepaskannya lalu tertawa bahagia bersama Anya meninggalkan Lala di dalam gudang.
Lala terbatuk-batuk, lalu mengambil oksigen sebanyak mungkin seakan-akan dirinya hampir mati. Memang, ia hampir mati tetapi tetap saja Bella tak akan berbuat sejauh itu.
"Hai?" sapa seseorang membuat Lala mendongak.
__ADS_1
Dilihatnya seorang gadis dengan tubuh gempal dan wajah sedikit kusam. Tetapi, entah kenapa senyuman itu membuat hatinya merasa lega. Lala membalas senyuman tersebut dan berusaha untuk berdiri dengan susah payah.
Uluran tangan membuatnya membatu. Gadis di depannya ini sangat baik. Ia meraih uluran tangan tersebut dan berhasil berdiri meski dengan sedikit susah payah.
"Aku Beauty, kamu Lala kan?" tanya Beauty-gadis itu.
Lala tersenyum lalu mengangguk.
"Pindahan? Wah, berarti kamu pinter dong." kata Beauty.
Untuk pindah ke Orymos High school sangat sulit. Ada banyak standar yang harus dipenuhi. Seperti Iq yang tinggi, nilai raport dan sikap yang bagus, serta tidak memiliki catatan kriminal.
Lala tersipu malu. "hehe, iya."
"Kamu akan jadi saingannya Alva." kata Beauty.
"Alva?" tanya Lala.
"Iya, Alva si ketua osis yang pinternya bikin geleng kepala. Hampir semua pelajaran di kuasai. Ehm, kecuali seni." jawab Beauty.
"Padahal, aku suka seni." gumam Lala.
***
Semenjak kejadian itu, Beauty dan Lala berteman. Mereka seringkali membicarakan Bella dan Anya. Yah, mau bagaimana lagi? mereka berteman karena memiliki nasib yang sama. Yaitu, menjadi mangsa Duo Devil.
Duo Devil adalah sebutan untuk Bella dan Anya oleh beberapa orang. Dan entah bagaimana, mereka berdua tidak terganggu dengan julukan tersebut. Malah, terkadang bangga karena ditakuti.
Semenjak berteman dengan Beauty, Lala menjadi perbincangan hangat di kalangan penggosip. Banyak yang mengatakan jikalau Lala hanya kasihan dengan Beauty. Banyak juga yang merasa kasihan dengan Lala karena harus dijauhi banyak siswa karena berteman dengan Si Kera. Namun, ada beberapa juga yang tidak peduli perihal tersebut.
Siswa di Orymos High School ini tergolong sedikit. Hanya ada 3 kelas masing-masing jurusan. Dan hanya ada 3 jurusan di sana. Satu kelas hanya berisi 25 siswa. Itulah mengapa mereka cukup dekat satu sama lain.
"Bee? lo nglamun?" tanya Lala.
Sedari tadi Lala cerita, Beauty hanya memandang lurus kedepan. Tatapannya hanya tertuju ke satu hal. Lala mengikuti arah mata Beauty dan mengerti.
__ADS_1
"Lo suka yah sama Ansell?" tanya Lala membuat Beauty tersadar seketika.