
**Sebelum baca, Yuk Votenya.
Happy Reading ❣️**
Tawa Ansell menggema seantero sekolah. Ia menatap konyol gadis di depannya. Gadis yang baru saja menyatakan perasaannya. Gadis itu, Beauty. Iya, Beauty Marcellen.
"Gue kan udah bilang, jangan suka sama gue."kata Ansell diakhiri senyum mengejek.
Senyum yang tadinya terpatri pada bibis Beauty luntur perlahan. Ia juga tidak ingin mencintai laki-laki itu. Tetapi, ia tak bisa terus-menerus membohongi dirinya. Bahwa Beauty cinta kepada Ansell.
"Jangan ngaco ah, ayo pulang. Ajarin gue matematika. Besok kan kita udah Ulangan Akhir Semester."Ansell menarik tangan Beauty, menuntun gadis itu menuju mobilnya lalu melaju kerumahnya.
Kali ini, mereka tidak belajar di Cafe maupun rumah Beauty. Tetapi, di rumah Ansell karena ini hari terakhir mereka belajar bersama. Sejak awal Ansell meminta Beauty mengajarinya hanya sampai Ulangan Tengah Semester.
Selama di perjalanan, Beauty membisu. Ia tak mengatakan sepatah katapun. Matanya pun kosong menatap jalanan. Hatinya berkecamuk memikirkan perasaannya yang sepertinya tak terbalaskan. Tetapi, bukan Beauty namanya jika tak percaya diri. Beauty yakin Ansell menyukainya, Ansell adalah orang yang ditakdirkan untuknya. Hanya saja, laki-laki itu tak menyadari perasaannya. Setidaknya, itu yang Beauty yakini.
Mereka sampai di rumah Ansell. Rumah mewah yang pernah ia lihat waktu itu. Mereka turun dari mobil dan masuk kedalam rumah mewah tersebut. Baru sampai diruang tamu, mereka disambut oleh Lizzy, adik Ansell yang menurut Beauty sangat menggemaskan.
Lizzy berlari menghampiri Ansell dengan senyum merekah di bibirnya."Abang.... "
"Sini, peluk Abang." mereka berpelukan dengan erat.
"Abang udah lama gak pulang, kemana aja? Lizzy kangen." celoteh gadis kecil itu.
"Abang ada urusan sebentar hehe.."
"Itu siapa?" tanya Lizzy sembari menunjuk Beauty. Beauty berjongkok, menyetarakan tingginya dengan Lizzy lalu mengulurkan tangannya.
Selama beberapa saat,Lizzy hanya menatap uluran tangan tersebut tanpa mau membalasnya. Setelah diyakini oleh Ansell,barulah gadis itu membalasnya.
"Nama kakak,Beauty. Panggil aja kak Bee." kata Beauty memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Panggil Tante Lebah aja biar gampang,Zy..." timpal Ansell yang langsung mendapat jitakan dari Beauty di kepalanya.
"Astaga, ini anak Mamah 4 hari gak pulang kemana ini?" sambut Alesha, Ibu Ansell setelah melihat kedatangan anak laki-lakinya.
"Ada urusan di apartemen Mah." jawab Ansell seraya memeluk erat Ibunya.
Alesha mencubit gemas pipi Ansell sampai matanya melihat seorang gadis yang ia kenali sedang berdiri di depan Lizzy.
Beauty menghampiri Alesha dengan senyum mengembang lalu mengulurkan tangannya. "Beauty, Tante.. "
"Kita pernah ketemu kan? waktu tahun baru." kata Alesha.
"Kalian pernah ketemu?"tanya Ansell.
"Itu loh, cewek yang bantuin Mamah bawa belanjaan waktu tahun baru." jelasnya.
"Oh yang waktu sore-sore itu?"tanya Ansell. Beauty dan Alesha kompak menjawab dengan anggukan.
"Kalian pacaran?" tanya Alesha tiba-tiba.
***
Ansell menghela nafasnya kasar. Ia membanting tubuhnya keatas kasur empuk milik Alva. Entah mengapa, dirinya tiba-tiba rindu dengan Alva. Langit terlihat mendung, tetapi laki-laki itu nekat menembus gerimis bersama motor kesayangannya menuju rumah Alva.
"Tumben kesini tiba-tiba?" tanya Alva yang baru saja selesai mandi.
Alva melemparkan handuknya hingga mengenai wajah tampan Ansell membuat sahabatnya misuh-misuh sendiri. Setelah menggunakan celana, Alva duduk disamping Ansell yang sedang bermain ponsel.
"Gue mau tanya nih." ucap Alva ditengah suara gerimis.
"Kenapa harus Beauty?"
__ADS_1
Ansell tersentak mendengar pertanyaan Alva. Matanya melotot menatap tajam wajah sahabatnya. "Lo tau dari mana?"
"Dari Beauty." jawab Alva santai.
Melihat raut wajah Ansell yang sedikit panik menimbulkan kecurigaan dalam diri Alva.
"Jawab. Ada apa? gue tau lo nyembunyiin sesuatu."
Ansell menyerah. Ia menghela nafasnya kasar lalu kembali menatap sahabatnya.
"Gue juga gak tau apa yang terjadi. tapi, semua guru privat bahkan sampai bimbel sekalipun gak ada yang mempan di otak gue. Tapi, disaat itu Beauty gue langsung paham." jelas Ansell.
Alva masih diam menunggu penjelasan yang sesungguhnya.
"Gue cuman manfaatin dia. Tapi, dia berharap lebih. Dia bahkan sampai nembak gue." lanjut Ansell.
Alva kaget. Sahabatnya ini ternyata cukup licik. "Terus setelah nilai lo naik, Beauty gimana?"
Alva tertawa sinis, "Lo berharap gue bakal temenan atau bahkan pacaran sama dia? ya enggaklah. gila aja gue liat mukanya dia udah jijik setengah mati."
"Lo terlalu jahat bro...dia gak salah apapun, dan lo giniin. Apa jadinya kalo dia tau kalau lo cuman manfaatin Beauty?" tanya Ansell
Ansell tertawa renyah kemudian membanting tubuhnya di atas kasur milik Alva. Pikirannya tiba-tiba melayang begitu saja, ada sedikit rasa bersalah di dalam sana. Tetapi, lagi-lagi setan dalam dirinya terlalu kuat.
"I don't care. malah bagus dong, dia bakalan jauh-jauh dari gue." kata Ansell.
Alva menggeram kesal. Ansell memang sudah berubah semenjak disakiti oleh Anya. Sosok manis itu telah berubah menjadi anjing yang siap untuk memangsa siapapun. Alva merasa sudah tidak mengenali sahabatnya lagi. Tetapi, Alva tidak bisa menjauh begitu saja dengan Ansell. Karena sesungguhnya, sahabatnya itu tidak memiliki teman. Meskipun terkenal, tetapi Ansell menutup diri. Ia hanya berteman dengan orang-orang yang dapat menjalin simbiosis mutualisme dengannya.
"Lo terlalu sadis, sumpah." protes Alva.
"Lo kok peduli sama Lebah? lo naksir yah?" tanya Ansell tiba-tiba.
__ADS_1
Alva yang mendapat pertanyaan random tersebut tersedak ludahnya sendiri. Ia mengedarkan pandangannya berusaha menghindar dari tatapan sahabatnya.
"Lo naksir sama dia. Gue tau itu." kata Ansell.