Beauty To You

Beauty To You
Kembali


__ADS_3

**Sebelum baca, Yuk Votenya.


Happy Reading ❣️**


Beauty menghela nafasnya dengan kasar, ia merebahkan tubuhnya di ranjang kesayangannya. Beauty menatap Hp di genggamannya cukup lama. Tak ada ucapan selamat tahun baru dari siapapun membuat hatinya sedikit kecewa.


Tak berapa lama, hpnya berdering ada telepon masuk. Anya rupanya. Beauty bimbang beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk menjawab telepon tersebut.


"Ini Beauty?" tanya seorang laki-laki dengan suara yang berat. Beauty menduga usianya sekitar 30 tahunan.


Beauty ragu sebelum menjawab,"Ada apa?"


"Anya mabuk dan terus manggil nama kamu. Saya harap kamu bisa menjemput dia, karena Anya sudah ngamuk sedari tadi." jawab laki-laki tersebut.


Beauty menghela nafas kasar, untuk apa juga ia berurusan dengan Anya? apalagi membantunya. bukannya ada Bella selaku sahabat Anya? mengapa ia yang harus repot?


"Maaf, saya tid- " Ucapannya terpotong oleh seseorang.


"Heh kera! Lo ga mau kesini? Kita gara-gara lo mabok tau gak?! aishhh gila. Dasar kera haha." suara Bella yang sedang ngelantur terdengar jelas di telinga Beauty.


Kemana perginya Ansell disaat sepasang sahabat yang tergila-gila kepadanya bertingkah seperti ini? haruskah seorang musuh yang menolong mereka?


"Kirim lokasinya, saya ke sana sekarang."


Beauty menyambar kunci mobilnya, lalu keluar rumah. Tetapi, baru sampa di teras ia teringat akan sesuatu. Tidak mungkin ia menggunakan mobil disaat seperti ini. Akhirnya, ia memutuskan untuk menggunakan taksi.


***

__ADS_1


Acara keluarga Ansell berlangsung cukup meriah, anak-anak kecil menari leluasa didepan semuanya. Ada Ansell yang melakukan stand up comedy sekaligus menunjukkan seni bela diri yang ditekuninya. Ada juga acara romantis antar suami istri disini, seperti dansa atau tanya jawab santai.


Hingga akhirnya, malam cukup larut membuat banyak dari mereka yang harus kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. Tersisa lah Ansell dengan ayahnya, Tuan Lawson yang sedang mengobrol di ruang keluarga.


"Ansell, mau lanjut kuliah dimana?" tanya Ayah Ansell, tuan Lawson.


Ansell yang tadinya menatap bintang dan bulan di atas sana menoleh, menatap Ayahnya yang sudah menunggu jawaban. Memang, ayahnya sudah beberapa kali bertanya seperti ini dan tak kunjung ia jawab.


Bukannya tak mau menjawab, hanya saja Ansell belum menentukan pilihan. Ansell ingin kuliah diluar negeri untuk mengejar cita-citanya. Tetapi, kondisi keluarganya tak mendukung.


"Indonesia." jawab Ansell berbohong.


"Kenapa?" tanya Ayahnya membuat Ansell bingung harus menjawab apa.


"Mau jagain Lizzy, ayah tau sendiri dia ga bisa di bawa ke luar negeri." jawab Ansell dengan senyuman.


Belum sempat ayahnya menimpali, dering ponsel Ansell membuat ayahnya pergi meninggalkan Ansell. Laki-laki itu meraih telfonnya di saku celana dan mengangkat telfon tersebut.


"maksud lo?" tanya Ansell merasa tidak mengerti dengan apa yang dikatakan perempuan itu.


"Anya sama Bella mabuk berat, dan akhirnya gue yang disuruh bawa mereka pulang." jawab Beauty.


"Wah korban yang baik hati, maap-maap aja ya, gue ga bisa di mintain tolong nih, soalnya lagi sibuk. Goodbye!" kata Ansell sebelum mematikan telfonnya.


Bagaimana bisa Beauty mengatakan bahwa kedua mak lampir tersebut adalah istrinya? idih amit-amit.


***

__ADS_1


Beauty berdecak kesal menatap Anya yang tertidur di sebelahnya, dan Bella yang masih sibuk mengoceh tidak jelas.


"Ehm... Eh, Si Kera. Lo tau gak?! lo itu... haha udah menghancurkan semuanya. Kenapa Ansell harus tertarik sama lo?!" gumam Anya tidak jelas.


"Ck, kalian masih SMA bisa gak sih berperilaku bagus dikit gitu?" kesal Beauty masih tidak memikirkan ucapan Anya.


"Heeh, Kera sialan. apa muka gue harus kaya lo dulu biar dibilang menarik sama Ansell?!" gumam Bella.


Beauty terkejut. Menarik? Dirinya? Menurut Ansell?


"maksud lo?" tanya Beauty ragu-ragu. ia menahan diri untuk tidak bahagia, karena entah mengapa hatinya serasa berbunga-bunga.


"Ansell bilang kalau lo lebih menarik daripada Anya. Ansell...... bilang kalau lo baik. hahaha Bullshit " lanjut Bella.


Beauty mengerjapkan matanya berusaha untuk tenang, ia sedikit bersyukur kedua gadis itu sedang mabuk. Jika saja tidak, mereka akan mengatakan hal itu sambil menjambak rambut Beauty.


Beauty tak ingin menganggap serius ucapan Anya dan Bella. tetapi, hatinya berharap. bodoh memang.


***


Setelah mengantarkan keduanya ke rumah Bella, lebih tepatnya di depan rumah Bella. Karena ia tidak ingin urusan ini menjadi rumit. Sudah pasti Beauty akan mendapat ancaman agar tutup mulut perihal keduanya sedangkan Beauty, tanpa mendapat ancaman sudah pasti akan menutup mulutnya. Bukannya dia takut, dia hanya malas berurusan dengan mereka.


Beauty kembali ke rumahnya, seharian ini dirinya cukup lelah. Kemarin malam, ia menginap di rumah peninggalan ayahnya sehingga tak bisa tidur dengan nyenyak. Ditambah hari ini, adalah hari yang cukup panjang untuk dia.


Sesampainya di rumah, Beauty langsung bersih diri dan mengenakan piyama berwarna kuning. Ia tidur menghadap jendela dengan pemandangan kota yang cukup memukau.


Ia menghela nafas, air matanya perlahan mulai menetes satu persatu hingga semakin deras. Gadis itu menangis terisak, mengingat tak ada yang mencintainya. Ia hanya hidup sendirian, ibunya tak peduli akan dirinya. Teman tak punya, hanya Alva yang terkadang membantunya. itupun Alva tak pernah secara terang-terangan membantu di depan umum.

__ADS_1


"Apa, aku tak pantas dicintai?" gumamnya di sela isak tangis.


Beauty berdiri, menatap tampilan dirinya di cermin. menatap wajah kusam dengan kulit sawo matang tersebut. menatap rambut kusut yang sangat sulit diatur. tetapi, ia tidak peduli dengan semua hal itu. baginya, dengan ia menjadi percaya diri, maka ia sempurna.


__ADS_2