
**Sebelum baca, Yuk Votenya.
Happy Reading ❣️**
Alva sudah berputar-putar di Jalan Virasta selama hampir satu jam. Ia mendapatkan alamat rumah Beauty dari data siswa yang ia miliki. Disini, tak dituliskan secara rinci rumah gadis itu sehingga Alva harus berusaha lebih keras dalam mencarinya. Ia sudah berkali-kali menelfon Beauty namun hasilnya nihil.
Akhirnya, Alva turun setelah melihat kumpulan warga di depan pos kamling. Sudah beberapa kali juga Alva tanya kepada beberapa warga disekitar tetapi aneh, tak ada yang mengenal Beauty satupun. Hal itu menimbulkan banyak pertanyaan di benak Alva.
Ia turun dari mobil dan disambut dengan cukup baik oleh warga.
"Ada apa cah lanang?" tanya salah satu warga.
"Mau tanya pak, Bapak tau Beauty? namanya Avalee Beauty pak." tanya Alva.
Bapak-bapak tersebut sedikit berdiskusi dengan raut wajah bingung,mirip dengan beberapa warga yang sebelumnya ia jumpai.
"Ehm, kita ndak tau siapa itu Beauty cah lanang." jawab salah satunya.
Alva menghela nafas kasar, berterimakasih dan berniat kembali ke mobilnya. Terlintas di benak Alva untuk bertanya kepada keluarga Ansell yang kebetulan rumahnya di dekat sini. Tetapi baru saja ia hendak membuka pintu mobil, suara seseorang membuatnya menoleh dan tersenyum lega.
"Hosh, hosh, Alva!" seru Beauty seraya menghampiri Alva yang tertawa renyah. Wajah berminyak Beauty yang tercampur keringat membuatnya sangat terlihat kusam dan tak terurus.
"Gue cariin rumah lo gak nemu." kata Alva saat Beauty sudah di depannya sedang mengatur nafas.
Beauty melirik sekilas kepada warga setempat yang sudah memperhatikan. Tanpa dipersilahkan ia segera memasuki mobil Alva diikuti dengan pemiliknya yang kebingungan.
"Lurus Al, trus pertigaan belok kiri." kata Beauty sebelum Alva banyak tanya.
Alva tak banyak tanya selain mengenai arah sampai akhirnya tiba di sebuah rumah sederhana dengan dominan warna putih. Beauty turun terlebih dahulu sedangkan Alva harus memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah sederhana tersebut.
Dengan segera, Beauty berlari membuka pintu dan membereskan ruang tamu secepat yang ia bisa. Maklum, Asisten rumah tangga yang biasa menjaga rumah ini harus pulang kampung karena akan menikah. Tepat saat ruang tamu terlihat lebih rapi, Alva masuk dan duduk di sofa berwarna abu-abu.
__ADS_1
Beauty ke dapur, mencari sesuatu yang dapat disuguhkan kepada Alva. Untungnya di kulkas ia menemukan minuman soda dan beberapa makanan ringan.
"Ada apa Va?" tanya Beauty sembari duduk disamping Alva.
Alva menegak habis soda yang di suguhkan lalu bertanya kepada Beauty, "Lo kenapa gak ada di daftar lomba sama gue?"
Beauty tidak kaget, ia sudah memperkirakan ini sedari tadi.
"Lagi males ajah." jawab Beauty diakhiri senyuman.
Alva merasakan kebohongan dengan jelas dari jawaban Beauty.
"Lo gak usah bohong, gue tau." kata Alva.
Beauty menunduk menahan air matanya. ia mengingat perjuangannya untuk berada pada posisi tersebut. lomba ini bukan asal pilih dari sekolahan, tetapi harus melewati lima kali seleksi. Dan Beauty belajar siang malam sampai mimisan hanya untuk itu. Tetapi setelah berhasil, namanya di keluarkan begitu saja dari daftar dengan alasan sepele.
"Apa yang kepsek omongin ke lo?" tanya Alva. Alva yakin Beauty tak akan semudah itu untuk mundur, pasti ada alasanya.
"Biaya dan tempat." kata Beauty.
Terdengar helaan nafas berat dari Beauty sebelum menjawab,"Gue gak punya temen Al."
"Lo anggap gue apa?"
Beauty tersentak, ia mendongak menatap Alva dengan mata berkaca-kaca. Seumur hidupnya, tak pernah ada yang mengatakan hal tersebut. Sedari kecil, Beauty homeschooling sehingga ia benar-benar tak memiliki teman. selama ini hidupnya hanya sendirian bersama Bi Asih yang menjadi tempat ceritanya. Dan saat ini, laki-laki nyaris sempurna itu seakan mengatakan bahwa ia adalah temannya. Beauty, terharu dan ingin menangis.
"Makasih, cuman lo yang mau jadi temen gue." kata Beauty disela isakannya.
Alva sedikit terkejut melihat Beauty menangis, ingin rasanya laki-laki itu memeluk Beauty yang sedang terlihat terpuruk. Tetapi, mengingat mereka tak sedekat itu membuat Alva mengurungkan niatnya.
Hening menerpa keduanya beberapa saat. Sampai akhirnya, Alva menemukan sebuah kejanggalan disini.
__ADS_1
"Rumah lo sepi? kok kaya gak berpenghuni?"tanya Alva.
"Eh? Mamah belum pulang kerja. Gue kan tinggal cuman berdua sama mamah." jawab Beauty diakhiri senyum canggung.
***
Ansell memasuki rumahnya sambil cengar-cengir. Dari turun mobil hingga masuk ke dalam kamar, laki-laki itu tak henti-hentinya tersenyum. Bahkan, Ansell sampai lupa menyapa ayah, ibu, dan Lizzy. Hal itu menimbulkan kecurigaan dari ketiganya.
Sesampainya di dalam kamar dengan nuansa abu-abu itu, Ansell meletakkan tasnya dan beralih ke kamar mandi. Sekitar 30 menit Ansell mandi. Sesudahnya, ia bermain ponsel dengan handuk yang masih melilit hingga
pintu kamar Ansell terbuka secara tiba-tiba membuat laki-laki itu terkejut. Dilihatnya Nyonya Alesha, ibu Ansell.
"Ada apa Mah?" tanya Ansell sembari mengenakan kaos dan celananya.
Nyonya Alesha duduk di pinggiran ranjang menatap putranya yang sedang berganti pakaian. "Kamu kenapa hari ini?ketawa-ketiwi kaya orang kesetanan."
"Eh? emang Ansell gitu? kapan?" Ansell ikut duduk disebelah ibunya.
"Dari tadi. Kamu udah kaya orang gila tau gak sih?" gerutu Nyonya Alesha
Ansell mengulum senyumnya membayangkan hal yang menjadi alasannya tertawa.
"Gara-gara seseorang mah." jawab Ansell diakhiri tawa kembali.
"Siapa sih? siapa coba yang berhasil bikin anak Mamah ini kaya orang gila?" tanya Nyonya Alesha.
"Cewek?" lanjutnya.
Melihat Ansell mengangguk, Nyonya Alesha langsung mengerti jika anaknya sedang jatuh cinta. Tetapi, hatinya merasa ada yang mengganjal mendengar tawa Ansell bukan tawa seperti mengagumi seseorang melainkan, seperti tawa orang yang sedikit meremehkan.
"Siapa namanya?" tanya Nyonya Alesha.
__ADS_1
"Beauty Mah, Avalee Beauty Marcellen." jawab Ansell.
Nyonya Alesha terkejut mendengarnya.