
**Sebelum baca, Yuk Votenya.
Happy Reading ❣️**
Penilaian Tengah Semester sudah selesai, selama itu pula Beauty dan Ansell tak pernah bertemu. Mungkin, laki-laki itu fokus belajar untuk tesnya. Setidaknya, itulah hal positif yang masuk akal.
Ditengah teriknya sang mentari, Beauty dan Lala berjalan menuju halte bus terdekat. Mereka memutuskan untuk pulang menaiki bus karena supir Lala tak bisa menjemput. Selama perjalanan, Lala merasakan perubahan suasana hati Beauty. Sedikit gundah, dan kecewa?
"Kenapa diem aja?" tanya Lala membuat Beauty menghentikan langkahnya.
"Gak papa kok." jawab Beauty.
"Jujur, lo pikir gue percaya kalau lo bilang gitu?" desak Lala.
Beauty menghela nafasnya kasar, lalu duduk di kursi halte. "Gimana caranya biar Ansell tau kalau gue suka sama dia?"
Lala tertawa. Ia tak menduga jika yang ada di otak Beauty saat ini adalah Ansell. Ia pikir, Beauty sudah melupakan laki-laki itu karena insiden ditertawakan saat menyatakan perasaan.
"Kalau mau di terima, harusnya lo nembak di tempat umum." saran Lala.
Beauty mengangguk mengerti. "Yang banyak orang yah?"
Lala tertawa lagi. Betapa polosnya Beauty jika menyangkut mengenai cinta. Tentu saja Lala hanya bercanda menyuruhnya menembak Ansell. Ia tak mungkin menjatuhkan harga diri temannya untuk kedua kalinya, bukan?
"Bercanda lah. Jangan nembak dia, biarin dia yang nembak lo."
Beauty menggeleng lesu, "kalo itu gak akan terjadi. Saingan gue seantero sekolah."
"Kecuali gue." koreksi Lala.
"Lo enak, saingan cuman beberapa."
"Makannya, naksir Alva aja jadi saingannya cuman gue. hehe" kata Lala diakhiri tawa.
__ADS_1
Flashback
*Suara sepatu terdengar ringan di tengah koridor kelas 11 Orymos High School . Orymos High School memiliki jam tambahan untuk murid-muridnya belajar. Meskipun peminatnya sedikit dikarenakan mereka lebih memilih untuk les, tetapi setidaknya hal ini diikuti beberapa anak seperti Lala dan Alva.
Tak sengaja, mereka duduk sebangku. Lala saat itu tak mengenali laki-laki di sebelahnya. Ia tak menyangka akan menemukan cinta sejatinya di sini.
Sesaat pembelajaran dimulai, Lala tak sengaja menjatuhkan bukunya. Alva dengan cekatan menangkap buku yang terjatuh tersebut. Dilihatnya buku yang ternyata mengenai kesenian.
Alva berdeham pelan, "Ehm, lo suka seni?" tanya nya.
Lala mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
"Gue benci banget." kata Alva tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Lala.
Sembari melirik guru yang sedang menjelaskan, Alva menjawab dengan suara lirih. "Seni itu ribet, gak bisa di mengerti."
"Lo aja yang ribet." gumam Lala.
"Hey! enggak ya, gue tuh orangnya simpel parah." balas Alva tak terima.
"halah."
Jam pelajaran selesai pukul 20.30 WIB. Sudah terlalu malam untuk seorang gadis seperti Lala berjalan menuju halte bus. Sopirnya berhalangan hadis karena istrinya sedang melahirkan dan kedua orang tuanya kebetulan sedang dinas luar kota.
Sesampainya ia di Halte Bus, ia kembali bertemu dengan laki-laki tadi. Ia duduk di sebelahnya, tetapi laki-laki itu tak menyadarinya. Entah sedang memikirkan apa, tatapannya kosong ke jalanan. Sepertinya sedang melamun.
"Gue Lala." kata Lala menyadarkan Alva yang sedang melamun.
Uluran tangan Lala disambut ringan oleh Alva. "Gue Alva."
Lala terkejut, ia bahkan membeku. Beauty sudah bercerita banyak dengan Alva bahwa laki-laki itu terlalu ramah bahkan kepadanya. Dan dari cerita tersebut, Lala sudah menyukai Alva.
__ADS_1
Keterkejutan Lala tak terhindarkan oleh Alva. Laki-laki itu merasa bingung kepada gadis di depannya. baru pertama kali ada yang mengajak berkenalan dan kaget hingga membeku tak bisa berkata-kata. Apa dirinya terlalu tampan? gumam Alva.
***
"Terus, pas hari itu lo pulang bareng sama Alva? " tanya Beauty excited.
"Enggaklah, gila lo. Gue udah keburu malu banget karena ekspresi gila gue pas kenalan. Ish, sampai sekarang gue bahkan gak berani ketemu dia." Lala mengadu kepada Beauty.
"Tapi, kayaknya lo bakal ketemu dia deh. Liat tuh.." Beauty menunjuk seorang laki-laki yang sedang berjalan kearahnya sembari melambaikan tangan.
Sontak, hal itu membuat beberapa siswa yang berada di sana merasa heran dan terkejut tak sedikit pula yang berbisik-bisik hingga menyinggung perasaan Beauty. Langsung saja, hal ini akan menjadi hot news karena Alva berteman dengan Beauty.
"Kenapa?" tanya Beauty.
"Gak ada urusannya sama lo." jawab Alva.
Lala berusaha semaksimal mungkin untuk bersembunyi di belakang Beauty agar tak terlihat. Namun tentunya gagal. Alva menepuk pundak Lala membuat gadis itu menggigit bibirnya merasa malu.
"Gue mau nyalonin diri jadi Ketos lagi. Mau jadi Waketos gue?" tanya Alva membuat Lala hampir mati.
Dikarenakan sudah tak mampu berkata-kata lagi, Lala akhirnya mengangguk tanpa sadar. Melihat wajah Alva di depannya persis saja membuatnya hampir mimisan. Dan sekarang? ia ditawari menjadi wakil ketua osis dengannya!!! Lala sepertinya overdosis hormon endorfin saat ini saking bahagianya.
"La, gue dapet ide." kata Beauty tiba-tiba.
Lala yang tadinya melamun segera sadar bahwa disebelahnya masih ada Beauty dan Alva sudah pergi begitu saja.
"Ide mau comblangin gue sama Alva? iya? oke setuju." kata Lala bersemangat.
Beauty menggeleng cepat menampik kata-kata Lala. "Enggak. Kayaknya gue harus nembak Ansell di tempat umum deh biar dia nerima. Kayak Alva tadi."
"Gila lo." bantah Lala segera. Dirinya tak siap melihat sahabatnya dipermalukan di depan umum.
"Nanti pulang sekolah kan bakal ada turnamen basket, Ansell kaptennya. Gue bakal nembak disana. Gimana?"
__ADS_1