
(RACHEL POV ON)
"Aamiin!" kami serentak mengaminkan hal tersebut.
"By the way, lu tau gak kalau Renata, Jessie, Evelyn, sama si Ficky bakalan dipindahin setelah ujian semester dua kita ini?" aku sontak menatapnya tak percaya.
"Gak, lu tau dari mana soal ini?" diriku berbalik bertanya, Sabrina sontak membusungkan dadanya tanda sombong, aku menghela napas melihatnya.
"Gue itu punya banyak koneksi, wajar kalau tau!" aku menepuk jidatnya.
"Eleh, songong amat lu!" aku kembali menepuk jidatnya, kulihat gadis itu tertawa sembari menghindari tepukanku. Aku kemudian menyudahinya.
"Kalau beneran, Alhamdulillah sih. Adem kalau kagak ada mereka," ucapku sembari memakan keripik kentang yang dibawa oleh Sabrina.
"Bener kata lu! Gue eneg demi apapun liat tingkah mereka yang sok berkuasa di sini!" balas Sabrina dengan menggebu-gebu, aku mengangguk menyetujui perkataannya.
"Bener, jujur. Dari lubuk hati yang terdalam, gue pengen banget mereka ngerasain apa yang udah mereka perbuat sama kita," sahutku dengan mata menatap datar ke arah Renata dan kawan-kawan
(RACHEL POV OFF)
"Woy, Napa lu ngeliatin kita kek gitu, hah?!" Rachel dan Sabrina sontak terkejut, mendapati Renata dan kawan-kawannya yang telah ada dihadapan mereka.
"Emangnya kenapa kalau gue ngeliatin, gak seneng lu?!" Rachel kembali melirik ke arah Sabrina, gadis itu tak terima ketika mereka diteriaki oleh Renata.
Tanpa basa-basi, Sabrina langsung memukul meja dihadapannya untuk menggertak sekelompok remaja yang ada didekatnya.
__ADS_1
"Iya, gue gak seneng?! Sok banget lu jadi manusia, muka kayak b*bi aja sok keras lu!" maki Renata, Sabrina mendelik geram. Rachel masih terdiam, hingga sebuah tamparan yang diberikan oleh Renata membuat dirinya tersungkur ke lantai.
"Chel! lu apa-apaan banget sih sialan!" maki Sabrina sembari berlalu untuk membantu Rachel berdiri, tetapi sebelum itu terjadi, Evelyn dengan cepat menarik kerah Rachel dan menghantukkan kepalanya ke meja belajar yang dimana membuat gadis itu menjerit kesakitan.
"Akh! Jessie, itu sakit!" jerit Rachel kala rambutnya kembali ditarik keras oleh Jessie, sepupu Renata itu sontak tertawa sinis dan menendang perut gadis malang tersebut.
"Sok banget lah! Satunya anak guru, satunya lagi babunya. Duh, cocok deh lu berdua-akh!" Zahra terpekik keras kala Sabrina memukul tengkuknya dengan tangannya. Gadis itu sontak terduduk merintih kesakitan.
Sabrina gelap mata, dirinya kemudian menarik kerah Renata dan membanting gadis itu ke lantai. diikuti oleh beberapa temannya yang mendapat satu tendangan di bagian paha, betis, dan perut.
Mereka semua sontak terduduk setelah mendapatkan hal itu.
"Rin, udah! Mereka bisa m*ti!" Rachel memeluk Sabrina dari belakang guna menghentikan aksi gadis yang tengah dilanda amarah itu. Sabrina sontak menoleh dengan pandangan dingin, Rachel agak merasa takut. Namun, demi keamanan diri sendiri dan Sabrina, dirinya harus menghentikan aksi temannya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Gak! Gue gak terima mereka bully lo kayak gitu! Ini udah termasuk penyiksaan, Chel. Lu kenapa sih masih aja belain mereka?!" Rachel menunduk mendengar penuturan sang sahabat, gadis itu kembali mendongak untuk memberikan beberapa patah kata yang mampu membungkam Sabrina.
"Huft ... oke, gue bakalan ikut kata lo. sekarang, puas?" Rachel terkekeh geli, tetapi raut gadis itu sontak berubah. Dirinya mengaduh kesakitan kala keningnya terasa perih, terlihat darah menetes dari sana.
"Eh, ayok kita ke UKS. obatin dulu lukanya." Sabrina menggandeng tangan Rachel dan bersiap untuk pergi. Namun, sebelum keluar mereka dikagetkan oleh pekikan Bu Lita.
"Apa-apaan ini!" pekik Bu Lita, guru seni-budaya sekaligus Bimbingan Konseling disekolahnya, Rachel masih terpaku diam mendengar pekikan gurunya.
"Ikut saya ke ruang BK semuanya, sekarang!"
....
__ADS_1
"Apa alasan kamu sampai membuat mereka seperti itu?" nada Bu Lita terdengar dingin, Rachel menelan ludah dengan kepayahan, sedangkan Sabrina. Anak itu masih duduk dengan anteng dengan raut wajah percaya diri.
"Mereka membully teman saya, dan ... dari awal masalah ini memang bermulai dari mereka!" Balas Sabrina tenang, Bu Lita segera mengernyitkan keningnya.
"Ada bukti?" Bu Lita kembali bertanya, Renata dan kawan-kawannya sontak tersenyum simpul. Kemenangan ada di pihaknya, begitulah pikirnya.
Sedangkan Rachel, gadis itu sudah berkeringat dingin, tentu saja dia tau. Bu Lita merupakan Bibi dari Renata dan Jessie, pastinya dia akan berpihak pada kedua gadis itu.
"Kami memang tidak memiliki bukti, tapi kami memiliki saksi. Ya gak, Rasya?" Sabrina kembali berujar dengan nada percaya dirinya dan sontak melirik ke arah pintu ruang BK tersebut. Ya, itu Rasya. Remaja pria itu tengah berdiri dengan satu tangan yang dimasukan ke dalam saku celananya.
"Hmm, bukan cuma saya. Sagara dan Reja juga menjadi saksinya." Ejeknya, Rachel kembali dibuat melongo dengan ini.
"Rin, lu kok bisa manggil mereka?" bisik Rachel, Sabrina terkekeh geli, dirinya juga ikut berbisik.
"Selama kita berantem tadi, mereka emang mantau kita. Makanya mereka bisa tau, lagian gue sama Rasya itu sepupu. Dia emang ditugaskan buat ngejaga gue," terangnya, Rachel kembali mangut-mangut, fakta mencengangkannya adalah bahwa Sabrina merupakan sepupu dari Rasya.
"Masih kurang meyakinkan, apakah ini hanya kerja sama antar kelompok untuk membantu anggotanya?" Bu Lita membenarkan kacamatanya. Seketika Reja yang sejak tadi diam tertawa cekikikan mendengarnya.
"Kerja sama sih, sesama teman harus saling membantu. Apalagi, mereka berdua emang teman dekat kita," sahut Reja, Rasya beserta Sagara mengangguk. Rachel kembali mengerutkan dahinya yang terluka itu. Dekat? Sejak kapan? Ah! dia hanya dekat dengan Reja. Namun, dekat dengan Rasya dan Sagara? mengobrol saja jarang!
"Kami punya buktinya," tambah Sagara, anak yang sejak tadi diam itu akhirnya mengeluarkan suaranya. Reja yang mendengar perkataan temannya sontak mengeluarkan sebuah ponsel di sakunya, Bu Lita sontak menajamkan penglihatannya.
"Kamu bawa ponsel ke sekolah?!" Reja tertawa cengengesan, Rachel, Sabrina, serta Sagara dan Rasya hanya menghela napas melihat tingkah bocah itu.
"Saya emang bawa ponsel, tapi karena ini berkenaan dengan masalah teman saya. Bukankah gak masalah?" Reja tersenyum penuh arti. anak itu kemudian membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah video yang menunjukan kejadian pembullyan yang telah dialami oleh Rachel beserta Sabrina. Renata, Jessie, Zahra dan Evelyn sontak bungkam dengan raut wajah pucat pasi.
__ADS_1
Bu Lita melihat video tersebut dengan serius, suasana seketika sunyi senyap. Hanya terdengar teriakan dan rintihan kesakitan dari ponsel yang tengah Reja pegang. Wajahnya sontak menggelap setelah video itu usai.