
"Chel, lu beneran gak papa?" tanya Sabrina yang membuat si empu menoleh, anak itu melirik ke kaca spion motornya. Sembari tersenyum, Rachel menggeleng pelan yang membuat Sabrina kembali diam.
"Aman itu, lu sendiri gimana?" Rachel balik bertanya, Sabrina mendengus. Hal tersebut mampu membuat Rachel terkikik geli.
"Lo bego apa gimana sih? Gue itu kuat, buktinya aja itu si Renata sama kawan-kawannya babak belur!" sahutnya sembari tetap fokus pada jalan.
"Iya juga sih, perut mereka lu tendang sampe kek gitu. Pasti sakit banget," timpal Rachel, Sabrina mengangguk setuju.
"Gak papa, because mereka memang layak buat dapetinnya." Rachel tak paham, raut wajahnya yang tampak polos membuat Sabrina menggeram.
"Gubluk, mereka layak dapetin itu karena udah bikin lu bonyok kek gini. Ngerti kagak wahai Siti?!" Rachel cengengesan, anak itu kemudian mengangguk paham agar sang sahabat tak kembali marah.
"Sante-sante, nanti gue kasih sate!" celetuknya sembari menikmati angin yang menerpa wajahnya. Sabrina mencibir dalam hati.
"Itu luka udah parah, bibir dah sobek. Masih aja bisa senyum dan bilang gak papa. Mau heran tapi ini bocah edan!" batinnya, akhirnya mereka sampai di depan rumah Rachel.
"Makasih yah, Rin. Udaj mau antarin gue buat pulang, mau mampir dulu gak?" tawarnya, Sabrina menggeleng pelan.
"Oh, gak usah, Chel! Titip salam aja buat bokap sama nyokap lo, ya!" Sabrina kembali menaiki motornya. Rachel memakluminya.
"Itu luka jangan lupa Lo obatin!" sebelum benar-benar pergi, Sabrina sempat menoleh untuk memberi perintah padanya. Rachel kembali membalas dan memberikan kode tangan jempol pada Sabrina.
Setelah punggung gadis tersebut benar-benar hilang dari pandangannya, Rachel segera berlari memasuki rumah. Di sana terlihat ibunya tengah menonton televisi.
"Assalamualaikum, mak. Achel pulang." setelah berucap, dirinya segera menyalami sang ibu.
"Astaghfirullah, itu dahi sama bibir kamu kenapa sobek?" tanya ibunya sembari meringis pelan.
"Kepentok meja, hehe," sahutnya, sang ibu menggeleng dan menghela napas panjang.
__ADS_1
"Makanya, besok hati-hati kalau main. Kalau kamu sakit dan gak bisa sekolah gimana? Kamu mau nilai kamu turun?" omel sang ibu, Rachel kembali terdiam dan memandang lekat ke arah ibunya.
"Apa gak ada hal yang lebih penting dari nilai? Emak gak mau bertanya apa anaknya udah gak sakit lagi?" batinnya, anak itu kembali diam dan meremas erat buku jari-jarinya.
"Iya, Mak. Achel bakal lebih hati-hati lagi kedepannya." setelah mengatakannya, Rachel segera berlalu meninggalkan sang ibu yang masih sibuk menonton. Sebelum masuk ke kamar, ucapan sang ibu membuat dirinya terkejut.
"Itu ada obat pereda nyeri, emak taro di kamar kamu. Di pake biar gak sakit lagi." Rachel terdiam, senyum kecil sedikit terbit di bibirnya.
"Iya, mak. Makasih banyak."
....
Setelah masuk, Rachel merebahkan diri di kasur. Anak itu memejamkan matanya, hari masih jam 11. Untung saja dia diperbolehkan pulang, Sebelum itu. Dirinya sempat mengatakan kepada Bu Lita untuk merahasiakan kasus ini dari ayahnya.
"Kalau emak sama bapak tau, nanti Renata sama yang lain bakalan habis!" gumamnya, seketika rasa pedih dan ngilu menjalar di kening dan bibirnya.
*Haish! Sakit banget lagi," dirinya merintih kesakitan, segera dirinya mengambil obat yang telah ada di atas nakas.
Tidak terasa, Rachel tertidur hingga jam 2 siang.
Gadis itu masih betah memejamkan matanya, tetapi itu tak berlangsung lama. Ketika sebuah gedoran dari pintu kamar sedikit membuatnya terganggu, gedoran yang semula terdengar sayup, kini semakin kuat. Akhirnya Rachel memilih untuk bangun dan mengecek dengan raut wajah sedikit lesu.
"Iya, siapa? Hoam!" gadis itu mengerjapkan matanya pelan sembari menguap. Seketika sebuah elusan ringan mengenai kepalanya.
"Hmm, k-kak Abi!" kedua mata gadis itu seketika membola, dengan sigap dirinya merapikan rambut panjangnya untuk menutupi kening yang terluka. Namun, tangannya dicekal oleh Abi, pria itu dengan segera mengecek lukanya.
"Kamu ini, kok bisa jadi kayak gini keningnya?" nada pria itu berubah menjadi datar, Rachel hanya melihatnya. Terlihat kalau Abi mengkhawatirkannya.
"O-oh! Achel gak sengaja kepentok meja," sahutnya canggung, raut wajah Abi kembali menggelap.
__ADS_1
"Achel, kak Abi gak pernah ngajarin kamu bohong." Rachel menunduk mendengarnya, selama tiga menit mereka terdiam. Hingga akhirnya helaan napas keluar dari mulut Abi, lelaki itu dengan segera merengkuh dan mengusap lembut rambut Rachel.
"Kenapa gak bilang kalau selama ini kamu dibully?" tanya Abi dengan posisi masih memeluk Rachel.
Rachel hanya terkekeh pelan melihatnya.
"Sejak kapan aku dibully?" Rachel berbalik bertanya, nadanya terdengar sendu. Abi semakin mengeratkan pelukannya.
"Sejak kelas dua SD, sampai kamu kelas 2 SMP saat ini. Kakak tau semuanya, dan kamu jangan sembunyikan apapun dari kakak. Oke?" Rachel mengangguk pelan, dirinya merasa Abi melonggarkan pelukannya dan menatap lekat matanya.
"Ayok ke rumah kak Abi," ajaknya sembari menggandeng tangan Rachel, anak itu hanya mengangguk saja. Sebelum ke luar rumah, Abi menghentikan langkahnya dan membuat Rachel terheran.
"Mau kak Abi gendong?" tanya Abi dengan jahil, pipi Rachel seketika bersemu merah yang membuat Abi tertawa.
"Achel udah gede, gak mau digendong lagi!" Rachel menghentak-hentakkan kakinya di tanah yang membuat Abi mendadak gemas dengan sang adik.
Lelaki itu sontak bergumam,
"Achel, kamu harus tungguin kakak." pria itu menatap lekat Rachel yang masih merajuk, dengan segera dirinya menyusul.
"Udah, ayok naik." anak itu patuh, dengan segera mereka pergi ke rumah Abi menggunakan sepeda motor lelaki tersebut.
....
"Assalamualaikum!" ucap Rachel dan Abi serentak, keluarlah seorang wanita dengan mata hijaunya yang indah.
"Wa'alaikumussalam, eh! Ada Achel, sini yuk masuk!" sahut si wanita sembari memeluk erat Rachel, anak itu kemudian tak kalah erat memeluknya. Pelukan tersebut akhirnya melonggar, terlihat raut khawatir sangat kentara di wajahnya.
"Ya Allah! Chel, itu kening sama bibir kamu kok bisa luka begitu?" tanya si wanita penasaran, sebelum bibir Rachel terbuka, Abi menyela ucapan mereka.
__ADS_1
"Nanti dulu ceritanya, kita masuk ke rumah aja gih!" ajaknya menggandeng Rachel. Wanita itu hanya menggeleng melihat tingkahnya.
Mereka bertiga akhirnya sampai di ruang tamu, tidak terlalu luas. Namun, terkesan elegan. Rumah bertingkat itu adalah milik keluarga Abi, meskipun terbilang minimalis, tetapi ini adalah salah satu rumah yang lumayan besar dan megah di kampung Rachel. Karena rata-rata rumah disini terbuat dari kayu, dan relatif terkesan dengan model yang hampir semuanya sama.