
Para Polisi tengah dibingungkan dengan kasus yang telah terjadi, adanya teror dipesta Ulang Tahun pelakunya tidak membunuh tetapi melukai lengan kiri korban dan membuat korban merasa depresi. Pola yang dipakai pelaku sebenarnya bisa dikatakan unik karena goresan yang ditorehkan pelaku bertuliskan HBD apa makna HBD itu apakah menuju Ke Happy birthday yang artinya selamat ulang tahun? Entahlah karena ini hanya satu-satunya bukti yang ditemukan karena pelaku sangat apik saat melakukannya.
Seorang Polisi dia tengah serius memperhatikan foto-foto yang didapat saat di TKP sudah ada 5 kejadiaan seperti ini dan pola yang dilakukan oleh pelaku juga sama terdapat goresan di lengan kiri korban. Polisi tampan yang berseragam ini begitu serius memperhatikan foto-foto itu, Terlihat dari name tagnya polisi ini bernama Rinaldi.
"Kapten.... Kapten gawat....korban pertama meninggal." ujar salah satu anak buahnya yang dengan panik dia berlari-lari.
"what?? Ujar Rinaldi.
"Iya, pihak keluarga mengabarkan jika anaknya meninggal setelah dibawa ke Rumah Sakit."
"Bukankah kemarin dia baik-baik saja?"
"Iya fisiknya sudah baik-baik saja tapi mentalnya, keluarganya mengatakan dia ditemukan bersimpah darah di kamar mandi kemungkinan dia mengores Nadinya sendiri."
"Bunuh diri?" Polisi itu mengangguk.
"Aish kita kerumah sakit sekarang." Rival dan anak buahnya itu pergi kerumah sakit memastikan jika benar bahwa korban itu meninggal.
Setelah sampai di rumah sakit benar saja dia telah meninggal. Gadis yang bernama Annisa itu sudah tak bernyawa, dia sebenarnya adalah korban pertama yang mengalami kejadian mengerikan ini di pesta ulang tahunnya yang ke 19 harus berakhir tragis seseorang menghancurkan acara bahagia itu. Annisa adalah salah satu korban yang sangat bisa dimintai keterangan ketimbang dengan korban lainnya, karena korban yang lain sangat enggan berbicara jika ditanya mengenai kejadian tersebut sehingga sangat sulit dimintai keterangan hanya Annisa satu-satunya harapan para Polisi untuk memecahkan kasus ini. Namun, sekarang dia sudah tak ada lagi.
Rival mendekati orang tua Annisa yang tengah bersedih kehilangan putrinya itu.
"Maaf bu? Saya turut berduka cita atas kepergian anak ibu."
"Pak polisi saya mohon tangkap pelaku yang membuat anak saya seperti ini." ujar Ibu Annisa dengan lirih.
"Kami sedang berusaha bu, oh iya sebenarnya apa yang terjadi padahal kemarin-kemarin Annisa baik-baik saya?" tanya Rival hati-hati.
"Iya memang dia baik-baik saja dihadapan kami. Tapi, kami selalu mendengar rintihan dia saat malam hari seperti tersiksa, saat kami tanyakan dia kenapa? dia bilang baik-baik saja awalnya kami tidak curiga apa-apa tapi lama kelamaan dia semakin bertingkah aneh. Dia berubah menjadi trauma, emosinya tidak stabil terkadang dia juga suka menangis meraung raung meminta maaf tapi entah meminta maaf pada siapa. Kemudian saat kami sedang melakukan terapi untuk menyembuhkan traumanya dokter bilang tak ada ke inginan dalam dirinya untuk sembuh dia kehilangan motivasi untuk hidup. Entah apa yang dilakukan sang pelaku sehingga anak kami menjadi trauma seperti ini. Hingga pada akhirnya dia mengakhiri sendiri." ujar ayah Annisa lirih.
Rival terdiam dia merasa geram dengan pelaku yang berbuat keji seperti ini.
"Pak apakah selama ini Annisa berhubungan dengan seseorang?"
"Tidak, semenjak kejadian itu Annisa tidak pernah berhubungan dengan siapapun. Teman-temannya tak sekali pun mendatanginya."
__ADS_1
"tenanglah pak bu kami akan berusaha untuk menanggkap pelaku."
"Iya pak kami percayakan padamu. Segera tangkap pelakunya demi anak kami." ujar orang tua annisa memohon.
Rinaldi bersama dengan timnya segera bergegas untuk menyelidiki kasus ini tidak boleh di diamkan begitu saja karena semua orang akan merasa terancam dan juga dia tidak mau akan ada korban lagi.
Rinaldi berada diperjalanan menuju kantor polisi namun tiba-tiba telfonnya berdering.
"ya Hallo?" Raut wajahnya seperti memancarkan ke terkejutan.
"Ah maaf aku lupa, kau dimana sayang?" hahaha ternyata yang menelfon adalah kekasihnya yang sedang menunggu. Sebenarnya Rinaldi mempunyai janji dengan sang kekasih untuk makan malam berdua karena hari ini adalah hari ulang tahun kekasihnya itu.
Rinaldi mampir terlebih dahulu ke sebuah toko bunga, dia membeli sebuah buket bunga mungkin untuk diberikan kepada sang kekasih. Dan benar sesampainya dia di caffe itu sang kekasih yang bernama Rika tengah menunggu dengan muka sebal mungkin Dia Bete karena menunggu sang kekasih yang terlalu lama.
Dengan senyuman yang mengembang Rinaldi menghampiri Sang pujaan hati dan memberikan buketnya. Sang wanita bukannya luluh dia malah memalingkan muka.
"Hey,?" panggil Rinaldi kearah kekasihnya itu, tak ada panggilan sang kekasih tetap saja mayun.
"Aku tahu kau marah karena aku terlambat." Rika terus saja memasang wajah sebal.
"Hey, jangan gitu dong ini aku bawakan bunga kesukaanmu."
"Ayolah jangan seperti ini."
"ck kamu... Sekiranya kalo gak bisa menepati janjimu jangan mengajakku keluar."
"Ya aku tahu aku tahu plis maaf ya lain kali aku gak akan kaya gini. Janji."
"Janji mulu."
"kali ini yang terakhir aku janji." Rinaldi mengacungkan kelingkingnya sebagai tanda dia akan memegang janjinya.
Rika pun luluh dan menautkan kelingkingnya dan menatap Rinaldi.
"Awas ya kalo di ulangi." Rinaldi pun tersenyum dan memberikan buket bunga yang tadi sempat di tolak oleh sang kekasih.
__ADS_1
"Ya sudah kita pesan makan kau pasti lapar." Keduanya pun memesan makanan favorite mereka dan menyantapnya dengan tenang.
Tanpa diketahui orang-orang caffe yang ramai itu ternyata sesuatu tengah terjadi tanpa di sadari seorang gadis meringkuk ketakutan di lantai kamar mandi Caffe itu. Gadis itu merengek meminta di lepaskan namun wanita bergaun merah itu tidak mengubris ucapan gadis itu.
"Ku mohon lepaskan aku..." pinta gadis itu. Wanita bergaun merah ini hanya tersenyum miring kearah gadis itu. Penampilan gadis itu tidak bisa dikatakan baik-baik saja rambut yang acak acakan begitu juga dengan penampilannya juga lengan kirinya sudah terdapat goresan merah yang bertuliskan HBD.
"Sebenarnya kau siapa mau mu apa hah kenapa kau melakukan hal ini padaku?" wanita bergaun merah itu tersenyum miring dia membuka topengnya dan kali ini dia menampakan wajahnya di hadapan sang korban.
"Kau...?"
"kejutan, aku datang kemari hanya ingin memberikan kado terindah untuk mu bagaiaman apa kejutan ku bagus?."
"Lia kau? Jadi kau melakukan semua ini? "
"Kau pasti tahu jawabannya."
"Lia apa yang kau lakukan hah? Jadi benar selama ini teror yang menghantui kami itu kau aku sudah menduganya dari awal kau bukan gadis lugu kau bersembunyi di balik topeng mu itu, aku tak menyangka kau itu psikopat kau gila benar-benar GILA!!"
"HAHAHAH, seharusnya kau katakan itu pada dirimu siapa yang mengubahku menjadi seperti ini aku tak akan membiarkan mu, kau kira aku bisa diam ssja saat kau tindas mohon maaf aku orangnya pendendam tidak semudah itu aku melupakanmu dan juga semuanya."
"kau tega berbuat ini pada teman mu sendiri apakah kau sudah tidak punya hati?"
"tidak punya hati bagian mana yang menunjukkan aku tidak punya hati, seharusnya kau berterimakasih padaku dengan ini kau terbebas dari karma tuhan, karna aku sudah membalsanya tuhan tidak akan membalas perbuatan mu di akhirat sana bukankah aku baik?" Lia pun memakai kembali topengnya dan beranjak pergi meninggalkan korbannya.
"tidak Lia jangan tinggalkan aku hey Lia tolong aku Lia lepaskan aku. Lia aku tidak akan membiarkan mu akan ku lapaorkan ke pihak yang berwenang."
"Lakukan saja aku tidak takut, yang ku takutkan adalah orang-orang sepertimu masih berkeliaran dan mengancam kebahagiaan ku jadi nikmatilah dan semoga ada yang menolongmu."
Tanpa menghiraukan lagi teriakan dari sang korban Lia meninggal kannya di kamar mandi dan memasang tulisan 'Mohon maaf toilet sedang dalam masa perbaikan' agar orang-orang tidak berani masuk ke toilet tersebut.
Lia membuka topengnya dan berjalan dengan santai keluar caffe itu namun tiba-tiba brakkkk.
Dia menyenggol seseorang Lia berhenti dan menundulan kepalanya pertanda meminta maaf kepada orang yang di tabraknya dan yang dia tabrak adalah Rinaldi. Rinaldi melirik Lia dari atas kebahaw seperti ada hal yang mencurigakan dalam diri Lia entah lah kenapa tiba-tiba prasangka itu muncul. Lia berlalu begitu saja takut orang itu tiba-tiba mencurigai dia karena dari tatapan matanya seperti mencurigain Lia.
Rinaldi tak ambil pusing dia melanjutkan Rencananya untuk berjalan menuju kamar mandi namun saat dia melihat tulisan di toilet wanita dia merasakan sesuatu yang aneh lagi tapi entah kenapa dia membiarakannya biasanya jika perasaanya meraskaan sesuatu yanh mengganjal Rinaldi selalu memastikannya namun kali ini dia bertingkah tidak peduli.
__ADS_1
TBC....
Jangan lupa Like dan Vote nya terimakasih 😊