BELENGGU

BELENGGU
BELENGGU BAB 8


__ADS_3

"Haih, aku lelah!" Rachel mendadak lesu, dirinya meremas roknya dan segera berlari menjauh. Pasti besok akan ada kejutan, begitu pikirnya.


Setelah sampai di rumah, Rachel segera berlari menuju kamar dan mengunci diri. Rumah tengah lengang, karena ibunya sedang pergi membantu di rumah tetangga yang sedang syukuran. ayahnya masih di sekolah, tentu saja dia bebas melakukan apapun. Rasa panik kembali menyerang, anak itu kembali merasakan kepalanya berdenyut hebat, Rachel segera merebahkan diri.


"Ya Allah, rasanya sesak. Sakit banget," air mata menggenang di pelupuk mata gadis kecil yang mulai beranjak remaja itu. Dirinya merasa sangat tertekan, selalu dituduh, dijadikan sebagai pelampiasan, tidak ada yang mau berteman, itu sudah cukup membuatnya menderita. Namun, apakah takdir masih begitu kejam untuk membuatnya merasakan sakit kembali secara fisik?


"Aku sakit apa, ya?" rasanya aneh banget. Aku, gak nyaman." Resahnya, segera Rachel mengenyahkan pikirannya yang kemana-mana.


"Assalamualaikum, Achel. Ini kak Abi!" tanpa terasa, sudut bibirnya terangkat. Rachel segera berlari dan membuka pintu untuk kakak sepupunya itu.


"Wa'alaikumussalam, kak Abi!" girangnya, Rachel segera masuk ke dalam pelukan sang kakak dan memeluknya dengan erat.


"Kak Abi kenapa ke sini?" tanyanya penasaran, Abi terkekeh geli. segera lelaki itu menjawil hidung kecil Rachel.


"Kak Abi mau ngajak Achel jalan-jalan. pasti lagi bosen, 'kan?" Rachel mengangguk ribut, dengan segera Abi mengambil telapak tangan yang kecil dan terlihat lemah itu untuk dia genggam. Karena di desa, dirinya hanya dapat membawa bocah itu dengan sepeda motor saja. Jika mereka berdua saat ini tengah berada di kota, tentu saja Abi akan membawa Rachel berkeliling kota menggunakan mobil.


(RACHEL POV ON )


"Kita mau kemana, kak?" tanyaku padanya, kulihat dia tersenyum di kaca spion motornya. Aku sontak bingung.


"Kita mau ke pantai, Achel suka, 'kan?" jawabnya, senyuman riang kembali membingkai wajahku. Aku mengangguk dan mengucapkan terimakasih kepadanya. Kulihat kak Abi sangat senang, kami mengobrol banyak hal disepanjang jalan.


Lima belas menit kemudian, akhirnya kami telah tiba di pantai yang terletak di desaku. seketika suara ombak, angin yang berhembus, dan pohon kelapa yang tampak bergoyang seakan mengikuti irama angin kembali membuatku merasakan kenyamanan yang jarang kudapat.


Aku kemudian berjalan ke bibir pantai untuk menikmati hamparan pasir putih yang indah, perlahan tapi pasti. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bermain air, aku terkekeh geli ketika deburan ombak menghampiriku. Lama-kelamaan kekehan kecilku berubah menjadi tawa riang yang memekakkan telinga, aku berlari dari satu tempat ke tempat lainnya. Kak Abi? dia sedang pergi ke rumah sahabatnya, tapi tentu saja dia masih bisa mengawasiku.

__ADS_1


Setelah puas bermain pasir, aku memutuskan untuk mengistirahatkan diri di sebuah ayunan yang berada di situ. Netraku tak berhenti menatap indahnya alam ciptaan Tuhan yang tidak pernah gagal membuatku tercengang sekaligus takjub. Hari sudah mulai sore, tentu saja aku akan menunggu sunset yang indah.


"Udah selesai mainnya?" aku menoleh, seketika diriku terkekeh malu.


"Hehe, iya. Soalnya Achel capek banget sekarang!" aku kembali menatap deburan ombak didepan, kak Abi tak menjawab. Dirinya kemudian ikut duduk sembari merangkul bahuku. Angin bertiup sepoi-sepoi, rasanya sangat menenangkan. Aku bahkan sampai lupa dengan masalah yang telah aku hadapi.


"Kak," panggilku, kak Abi memejamkan matanya.


"Hmm?" dehamnya, aku terkekeh kecil.


"Kok jadi kalem gitu sih? aneh tau gak?" aku tersenyum simpul, kak Abi kembali membuka netranya.


"Duh, 'kan kak Abi emang kalem, makanya banyak yang suka!" aku mendengus, tapi apa yang dia katakan memang benar. Siapa yang tidak jatuh cinta pada pria tampan sepertinya, berkulit kuning langsat, bibir yang merah merona, bulu mata yang lentik, pandai dalam segala hal, dan tidak lupa dia berasal dari keluarga berada. Apalagi dia tengah mengenyam pendidikan di universitas kedokteran, tentu saja banyak yang ingin menjadikannya sebagai suami ataupun menantu.


"Iyain, biar seneng!" kak Abi tertawa lebar, aku ikut terkekeh melihat responnya. Namun, senyumku kembali pudar setelah teringat akan masalahku.


"Iya, Achel kesayangan kak Abi, Achel mau pulang?" tanyanya, aku menggeleng. Aku terdiam, dan memandang kosong ke lautan lepas sembari mengingat beberapa hal.


"Achel, mau minta maaf kalau ada salah." Aku berujar dengan nada ragu, entah apa yang membuatku berkata seperti itu. Kak Abi mengangkat sebelah alisnya, dirinya terdiam sembari mengeratkan rangkulannya.


"For what?" aku terdiam, tak tahu ingin menjawab apa.


"I don't know," ujarku dengan nada lesu.


"Kalau Achel udah gak sakit lagi, Achel bakalan ngelepasin kak Abi buat ngejalanin hidup." kedua manik mataku sedang bersitatap dengannya, kak Abi menggeleng sebagai respon.

__ADS_1


"Achel sakit apa?" dia penasaran.


"Sakit hati ditinggal mas crush!" jawabku asal, dia sontak memelukku.


"Kalau Achel sakit, Achel bakalan sembuh. Kak Abi jamin itu, meskipun Achel udah sembuh, Achel bakalan selalu sama kak Abi!" aku terharu, air mata perlahan ingin turun. Namun, aku tahan agar tidak menjadi bahan tertawaan olehnya.


"Duh, jadi terhura Achel!" jawabku yang kembali membuat senyuman tercetak di wajah indahnya.


"Udah, yuk. Kita pulang, kak Abi tunggu di motor, ya," aku mengangguk, dirinya berlalu meninggalkanku sendiri.


"Tes,"


Darah segar kembali mengucur membasahi bibirku, aku menatap lamat-lamat langit yang berwarna kemerahan, detik itu pula air mata menggenang di pelupuk mataku.


"Andai kau tahu, ketika rasa sakitku telah menghilang. Di detik itu pula aku akan meninggalkanmu untuk selama-lamanya." Air mata kembali mengucur deras membasahi pipiku. segera aku membersihkan diri menggunakan tissue. Semenjak selalu mimisan, aku selalu menyiapkan tissue untuk berjaga-jaga.


(RACHEL POV OFF:)


Mereka pulang ke rumah karena hari telah sore, tentu saja kami tidak bisa berlama-lama karena ingin melaksanakan ibadah shalat Maghrib.


Rachel banyak-banyak mengucapkan terimakasih kepada kak Abi, setelah sampai ke rumah, ibu tengah duduk bersantai, di meja makan juga telah terhidang berbagai lauk pauk aneka ragam. Tidak heran, di kampung Rachel, setiap membantu orang mengadakan syukuran, kita akan diberi lauk pauk itu juga sebagai imbalan. Karena telah lapar, anak itu bergegas menyendok nasi putih hangat dari rice cooker.


"Habis makan jangan lupa cuci piring! Jangan jadi anak pemalas!" Belum sempat sesuai nasi masuk, dirinya telah mendapat kata-kata sinis dari sang ibu. Rachel terdiam dan makan dengan cepat hingga nasi tersebut tandas. Dirinya bergegas minum air putih, mencuci piring, dan langsung mengunci diri di dalam kamar.


"Kapan emang aku malas? Haih, terlalu banyak masalah." Aku langsung tertunduk lesu.

__ADS_1


....


__ADS_2