BELENGGU

BELENGGU
BELENGGU BAB 9


__ADS_3

Rachel segera pergi dari pantai tersebut dan menyusul kakak sepupunya itu. Bisa dia lihat, Abi tengah mengobrol santai dengan beberapa temannya. Rachel melambatkan langkah kakinya sembari memberi kode kepada teman sang kakak agar tetap diam.


"Gimana kuliah lu?" Faisal bertanya kepada Abi, lelaki itu hanya tersenyum masam.


"Capek cuy, tapi ini juga cita-cita gue. Gue ngejalaninnya dengan rasa senang aja lah!" Faisal terkekeh, dirinya sontak melirik ke arah belakang Abi. Faisal kemudian tersenyum simpul mendapati Rachel, adik sepupu temannya itu sedang memberi kode untuk tetap diam. Netranya kemudian beralih dan kembali menatap Abi untuk melanjutkan pembicaraan.


"Menurut lu, Rachel orangnya gimana?" Abi tiba-tiba diam mendapati pertanyaan yang aneh keluar dari mulut sang sahabat. Rachel yang namanya tengah di sebut sontak berdiam diri di tempat sembari memberikan raut wajah bertanya-tanya.


"Gak bisa diungkapkan dengan kata-kata, adek kesayangan gue itu! Dan intinya gue sayang banget sama dia," Abi serius akan ucapannya, melihat netra Faisal yang tidak fokus kepadanya. Abi langsung paham, Rachel tengah berada di belakang tubuhnya. Hingga akhirnya, Timbulah rasa ingin menjahili sang adik.


"Oh, iya. Dia orangnya cerewet banget, terus hobinya makan. Dan lu tau? mulutnya kalau makan selalu penuh kayak tupai!" Faisal tertawa, Rachel merenggut. Dirinya kemudian meninggalkan tempat itu, tetapi sebelum pergi. Abi dengan cekatan menarik pergelangan remaja itu untuk masuk kedalam pelukannya. Rachel sontak meronta-ronta untuk dilepaskan, tentu saja Abi tak mau. Pria itu malah mengeratkan pelukannya dan tertawa terbahak-bahak.


"Cieee, ngambek, ya?" Abi mengerlingkan bola matanya, Rachel semakin merenggut. Abi semakin tertawa puas, teman-temannya terkekeh geli melihat interaksi antara kedua sepupu yang sangat akrab itu.


"Jangan ngambek dong, nanti cantiknya hilang, lho!" Abi memperingati sembari menarik hidung mungil milik gadis dalam dekapannya itu. Rachel menyerah, kemudian dirinya memeluk erat Abi dan menghirup dalam dalam aroma maskulin dari pria yang tengah dipeluknya.


"Pake rasa marshmellow?" Rachel segera mengendurkan pelukannya dan menatap wajah tampan dari Abi.


"Kok tau?" tanyanya penasaran. Abi mengacak rambut gadis itu gemas.


"Tau lah! 'Kan wangi rambut kamu kecium banget. Ini juga semut bakalan suka sama kamu!" Abi terus saja mengacak rambut gadis itu hingga membuat di empu merasa kesal.


"Jangan digituin ih! Nanti rambutku jelek!" Rachel memperingati, Abi hanya tertawa lebar menanggapinya.

__ADS_1


"Ayok, kak Abi. Kita pulang!" Rachel berujar sembari menarik tangannya untuk segera pergi dari tempat itu. Abi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang adik.


"Yaudah, kita pulang. Jangan lupa salim sama temen-temen kak Abi!" perintahnya, Rachel mengangguk. Setelahnya dirinya mengalami satu-satu teman Abi, salah satunya Faisal. Akhirnya mereka berdua pulang ke rumah.


....


"Assalamualaikum, Achel pulang!" teriak gadis itu, dirinya melihat sang ayah dan ibu tengah duduk di meja makan.


"Wa'alaikumussalam," ujar mereka berdua serempak. Rachel terdiam, dan segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke kamar.


Namun, sebelum pintu terbuka. Sang ayah memanggilnya.


"Rachelya Anindita! sini dulu kamu!" perintah sang ayah, Rachel meneguk ludah kasar. Ayahnya memanggil dengan nama panjangnya, itu bukanlah hal yang baik.


"Iya, pak. Kenapa?" tanya Rachel hati-hati. Sang ayah tak menjawab, segera dirinya melempar beberapa lembar kertas ulangan harian yang gadis itu punya. Rachel menunduk takut, pasti dia akan dimarahi lagi.


"Maaf, pak. Achel gak bakal ngulangin ini lagi," lirih gadis itu, sang ayah mendengus. Mereka berdua meninggalkan Rachel yang tengah berdiri kaku di dekat meja makan.


"Jangan buat malu nama bapak!" tekan ayahnya sebelum berlalu, Rachel mengangguk pelan. Tidak lama kemudian, ayah dan ibunya telah menghilang di balik pintu kamar.


"Astaghfirullah, istighfar, Rachel." gadis itu terduduk sembari menahan tangis. Dirinya lelah, lelah harus selalu menjadi yang utama. Lelah karena harus berjuang mati-matian demi menaikkan harkat dan martabat keluarga. Dirinya hanya gadis remaja yang lemah, tak sanggup menanggung beban seperti ini. Dirinya menangis dalam diam, tentu hal itu sangat menyakitkan.


"Andai ... Semua ini akan berakhir," lirihnya, Rachel kembali memeluk boneka beruang miliknya dengan erat. Dirinya butuh pelukan, butuh dukungan, butuh semua yang membuatnya senang. Seakan belum cukup puas, dirinya selalu diberi ujian berat dalam kehidupan ini. Bolehkah dia menyerah saja akan keadaan?

__ADS_1


Gadis itu sangat lelah, hingga akhirnya dia tertidur setelah puas menangis. Hari Sabtu, sekitar jam empat subuh, Rachel memutuskan untuk berwudhu dan menunaikan shalat subuh. Kewajiban umat muslim yang tidak mungkin dia lewatkan begitu saja, setelah shalat subuh. Rachel memilih untuk membersihkan peralatan makan dan menjemur pakaian, dirinya ingin berangkat lebih awal lagi. Tentu saja untuk menghindari kedua orang tuanya.


Setelah selesai, Rachel bersiap-siap dan segera berangkat ke sekolah. Keadaan sekolahnya masih sangat sepi, karena masih jam enam pagi. Tak mau menyia-nyiakan waktu, Rachel memilih untuk belajar dan mempelajari materi yang kemungkinan akan dijabarkan saat gurunya masuk.


....


(RACHEL POV ON)


"Zahra, bisa tolong bilang sama Renata sama Jessie nanti sebelum pulang sekolah kita latihan upacara?" tanyaku pada gadis itu, dirinya segera menolah dan mengangguk dengan wajah sinisnya. Aku bingung, kenapa dirinya bersikap seperti itu. Aku tak menghiraukannya dan kembali memberitahukan kepada teman-temanku yang lain.


"Nat, nanti sebelum pulang sekolah kita latihan upacara." kudengar samar-samar suara Zahra dari kejauhan.


"Siapa yang nyuruh?" tanya Renata dengan nada sinis.


"Itu, si Rachelya Anindita." Renata sontak berdecak kesal.


"Bacot!" ujarnya sembari melenggang pergi. Dadaku rasanya sesak, mereka salah paham. Aku merasakan tepukan di bahuku, itu Sabrina.


"Jangan didengerin, dia 'kan gila!" aku tersenyum penuh haru, disaat semua orang membenciku, disaat semua orang tak menganggapku ada. Hanya kak Abi dan Sabrina lah yang selalu menjadi bahu tempatku bersandar. Ah, aku tiba-tiba merasa sangat bersyukur.


"Makasih banyak, Rin. Gue gak menyerah sampe sekarang juga karena dukungan dari lu. Gue jadi penasaran deh, apa yang ngebuat lu betah banget temenan sama gue," ucapku, kulihat Sabrina meringis sembari tersenyum simpul padaku.


"Perasaan senasib," aku terdiam tak paham.

__ADS_1


"Kita sama, Chel. Dan ... disaat semua orang gak suka sama gue, cuma lu yang mau temenan sama gue. Kita sama!" aku terkekeh mendengar ucapannya.


"Semoga semuanya cepat berlalu, jujur. Gue juga capek banget."


__ADS_2