BELENGGU

BELENGGU
Sendirian,


__ADS_3

Rinaldi tak ambil pusing dia melanjutkan Rencananya untuk berjalan menuju kamar mandi namun saat dia melihat tulisan di toilet wanita dia merasakan sesuatu yang aneh lagi tapi entah kenapa dia membiarakannya biasanya jika perasaanya meraskaan sesuatu yanh mengganjal Rinaldi selalu memastikannya namun kali ini dia bertingkah tidak peduli.


Di sebuah rumah sakit tersebar kabar bahwa yang menjadi korban pertama teror pesta ulang tahun telah meninggal keluarga yang menjadi korban lainnya juga terus waspada agar tak menjadi hal buruk menimpa anak mereka sejauh ini ada 3 orang yang menjadi korban termasuk Annisa sang korban pertama, Reysa dan juga Clara.


Resya sang korban kedua tengah meringkuk menekuk lututnya dia sesekali menggigit selimut seperti sedang ketakutan. Matanya terlihat waspada melihat kekanan kiri menatap jendela seperti takut ada yang datang.


Creaakk.


"Aaaaaaaa" teriak Reysa dia memang selalu begitu saat dokter atau perawat masuk keruang perawatannya.


"Reysa tenanglah ini Mama nak." ternyata yang masuk adalah mamanya beserta dokter dan perawat mereka tengah memeriksakan keadaan Resya.


Resya memegang erat tangan sang ibu ia enggan di periksa oleh dokter itu perlu usaha yang kerab bagi para dokter dan suster untuk sekedar memeriksa keadaan Resya.


"Keadaan fisiknya satabil namun saya tidak yakin dengan keadaan psikisnya, tapi Resya bisa pulang siapa tahu dengan suasana rumah akan membuatnya merasa nyaman dan lebih baik kita lakukan terapinya di rumah saja bagaimana bu?"


"Ya mungkin lebih baik begitu."


Hari ini Resya sudah diperbolehkan pulang dia sangat waspada saat keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kita pulang sekarang."


Saat di rumah keadaan Resya bukannya membaik malah menghawatirkan dia sering berteriak seperti ketakutan, seperti merasa terancam bahkan jika tidak segera di temukan dia sudan menengelamkan dirinya selama berjam jam di bathup kamar mandi.


"Sepertinya dia harus di bawa ke rumah sakit jiwa bu untuk mendapatkan perawatan ekstra, karena jika di sini dia akan melakukan hal yang tidak di inginkan." ujar dokter yang selama ini menanganinya.


Hati orang tua mana yang tidak sedih saat mendengar sang buah cinta harus menderita seperti ini begitupun dengan orang tua Resya ibunya sampai jatuh pingsaan saat mengetahui keadaan anaknya dia begitu Syok.


Di lain tempat setelah menyelesaikan urusannya seorang wanita melepas topeng di wajahnya dia memasuki kamar mandi dan membasuh tangan juga wajahnya. Ya dia Lia, dia menatap pantulan dirinya di cermin menatap penampilannya sejenak.


"Apa yang kulakukan? Kenapa aku melakukannya lagi." kali ini dia mencuci wajahnya dan menggosok hingga wajanya berubah merah.


"Kalian semua bahagia disini?" gumamnya.


Lia merapihkan kembali Album foto itu dan memasukan kedalam kotak besar yang dia simpan di atas lemari. Namun, tanpa dia sadari selembar foto terjatuh saat dia menarik kotak besar tersebut.


Lia memungut foto itu dia tersenyum miring saat mengetahui foto itu.


"Kalian bahagia dengan kehidupan kalian sekarang?"

__ADS_1


"Sudah lupa padaku?"


"Kalian bersenang senang dan meninggalkan aku sendirian. Kini aku bertemu denganmu Rista, sayangnya Annisa sudah pergi lebih dulu apakah dia tidak ingin bermain lagi denganku dan memilih untuk pergi? Apakau juga begitu setelah bertemu dengan ku kau begitu syok kita lihat apakah kau berani mengadukan ku?" dia tersenyum remeh sambil menatap foto yang menampilkan 5 orang wanita di hari kelulusannya dan dalam foto itu ada dirinya sendiri.


"Aku penasaran dimana keberadaan dua temanku ini Rista dan Annisa sudah bertemu denganku tapi yang lain kemana ya? Rika, Salma ku harap kita dapat bertemu dalam waktu dekat sehingga aku bisa tersenyum bahagia." Lia *** foto itu dan melemparnya asal kemudian dia berlalu entah kemana.


Keesokan harinya Lia kembali menjalani hari-harinya sebagai seorang mahasiswa, dia begitu serius memperhatikan setiap materi yang diberikan sang dosen tanpa sedikit pun dia lengah.


Sebenarnya Lia adalah salah satu mahasiswa terajin di angkatannya, nilai yang dia dapatkan juga selalu memuaskan semua iri akan kecerdasan yang dimilikinya namun sikapnya yang pendiam dan seperti memiliki sikap anti sosial yang membuat orang-orang enggan untuk sekedar bertanya atau menyapanya bahkan Lia cenderung mengabaikan orang-orang yang ingin berkenalan dengannya.


Lia selalu menyendiri karena menurutnya bersama orang-orang membuatnya risih dan dia tak tenang. Entah apa yang terjadi di masa lalu sehingga membuatnya seperti ini pasti telah terjadi sesuatu. Enyahlah? Hanya dia dan tuhannya yang tahu itu.


Saat jam pelajaran selesai Gawainya berdering ternyata itu adalah alarm peringatan dia melihat catatan merah yang gerdapat di layar gawainya itu dia tersenyum miris saat tahu kini siapa yang akan menjadi korbannya. Lia memasukan kembali gawainya kedalam tasnya dia mencari tempat tersepi untuk sedikit merefresh otaknya setelah seharian bergelud dengan materi tadi.


Lia membuka bekalnya, kali ini dia lebih memilih membawa bekal ketimbang harus makan di kanti yang ramai. Lia menatap bekal makanan yang dia bawa seketika sekelibat bayangan masa lalu yang indah terlintas di benaknya sehingga membuatnya berkaca-kaca.


"Dulu semuanya terasa indah." lirihnya dia memakan bekalnya dalam kesendirian dia mencoba menyingkirkan sekelibat bayangan masa lalu yang tak akan pernah kembali lagi. Kenangan masa lalu hanya akan mengerak dalam fikirannya dia berusaha untuk tidak mencuat kembali kenangan itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2