
Setelah sampai di ruang tamu, Abi segera memberi kode kepada wanita itu yang tak lain adalah ibunya agar tetap diam dan tidak bertanya soal masalah yang menimpa Rachel.
"Mah, jangan tanya dulu soal lukanya. Nanti Abi jelasin, kok!" bisiknya, sang ibu mengangguk paham.
"Iya, Bi. Sana gih obatin Rachel dulu. Oh iya, itu cemilan ada di kulkas. Udah mamah beli karena tau Achel sering ke sini," celetuk sang Ibu, raut wajah Abi seketika berseri.
"Sip deh! Mamah emang paling best!" Abi memberi jempolnya yang dibalas kekehan oleh sang ibu.
"Mamah tinggal dulu, ya. Mau masak, kalian ngobrol aja berdua." Abi mengangguk dan segera berlalu meninggalkan ibunya.
Rachel menghela napasnya ketika menyadari kalau dirinya ditinggal sendiri. Lukanya kembali berdenyut nyeri, Abi melihat gadis itu yang terus menghela napas hanya terkekeh geli.
"Kak Abi kemana sih? Lama banget, aku 'kan jadi bosen," anak itu misuh-misuh tidak jelas, Abi tak kuasa untuk berlama-lama berdiam diri.
"Ada disini, kenapa? Udah kangen?" sahut Abi membalas ucapannya, Rachel mendengus.
"Kak Abi kemana aja? Achel capek nungguin, ini lukanya udah nyeri lagi," Rachel masih sibuk menggerutu, anak itu berusaha menahan tangisnya. Rasa sakitnya masih terasa, hingga membuat dia ingin menangis.
"Tahan, Chel. Jangan nangis, gak boleh lemah!" batinnya menyemangati diri sendiri. Abi yang melihat raut wajahnya hanya menatap lekat gadis dihadapannya.
"Ayok, kita obatin dulu." tanpa aba-aba, Rachel dibawa ke lantai dua rumahnya. Disana terdapat dua kamar tidur dan balkon untuk bersantai bagi Abi dan orang tuanya.
"Shhh! kak Abi, pelan-pelan. Sakit," lirih Abi kala membersihkan luka dikeningnya dengan kapas beralkohol. Abi meniup pelan dan mengelus rambutnya.
"Iya, ini udah pelan kok." Abi melihatnya, nada bicara Rachel terdengar bergetar.
"U-udah aja, Achel gak mau lagi. Sakit." Rachel akhirnya menitikkan air matanya, anak itu menangis lirih. Abi segera memeluk dan menenangkan bocah itu agar berhenti menangis.
__ADS_1
"Iya, kak Abi bakalan berhenti. Namun, Achel gak mau sembuh?" Rachel terdiam, isakan gadis itu perlahan mulai berhenti.
"M-mau, kok!" Rachel merenggut, anak itu ingin sembuh, tapi tidak ingin merasakan rasa sakit itu lagi. Abi tetap mengelus surai lembutnya agar Rachel merasa tenang, dirinya seketika teringat akan pesan yang diberikan oleh Sabrina dan Reja.
"kak Abi, Rachel dibully, lukanya lumayan parah." pesan dari Reja.
"Kak! Rachel dibully, ada luka sobek di kening sama bibirnya. Dia dibully sama Renata dan temen-temennya." pesan dari Sabrina tak kalah membuat Abi kembali terkejut.
"Untung aja, aku udah minta Reja dan Sabrina mengawasi Rachel, kalau enggak. Aku gak bakalan tau apa yang terjadi, Rachel terlalu takut untuk memberitahu semuanya," Abi membatin, pria itu ternyata telah meminta kedua teman Rachel untuk menjadi mata-matanya. Tentu saja Rachel tidak tahu, bocah itu mungkin tak akan jika Abi mengenal kedua temannya.
"Kita perban dulu lukanya, oke? Gak sakit, kak Abi janji!" Abi memberikan jarinya, Rachel dengan cepat menautkan kelingking kecilnya. Benar saja, Abi dengan gesit membalut lukanya, kini lukanya tidak terlalu sakit.
"Makasih, kak Abi. Lukanya udah gak sakit lagi!" Rachel tersenyum manis, Abi kembali gemas dibuatnya.
"Yes, anything for you, my princess." senyum tulus terbit di wajahnya yang tampan. Tubuh Rachel seketika tegang, berada dipelukan pria tampan. Mendapat perhatian lebih dan menikmati wajah tampannya membuat Rachel kembali bersemu merah.
Jantung Rachel mendadak berdetak lebih cepat, Itu membuat Rachel tertunduk malu. Kakak sepupunya sangat tampan, berkulit kuning langsat yang hampir mendekati putih. Rahang yang tegas, kaya, berpendidikan tinggi, seorang dokter, dan pastinya taat agama. Rachel sebenarnya tahu, dirinya menyukai Abi bukan sebagai kakak laki-laki, tetapi suka seorang wanita kepada pria.
Anak itu kemudian menetralkan detak jantungnya, dan memilih melonggarkan pelukannya dari Abi.
"Kak Abi, Aku mau pulang, boleh?" Abi, lelaki itu mengerutkan kening tanda tak suka.
"Enggak, Achel malam ini tidur rumah kak Abi aja. Nanti Bibi yang bilang, oke?" Abi dan Rachel seketika menoleh, terlihat Bu Sena tengah bersedekap dada. Rachel dan Abi kemudian kembali bertatap, mereka berdua akhirnya terkikik geli.
"Ada apa sih?" ujar Bu Sena pada mereka berdua. Rachel hanya tersenyum dan menggeleng pelan.
"Gak papa, aku lucu aja. Achel bilang mamah kayak rentenir!" Abi tertawa puas, Rachel yang semula tersenyum seketika panik sendiri.
__ADS_1
"Ih! Mana ada, bibi! Kak Abi bohong. Achel mana ada bilang begitu!" Rachel menggeleng panik, Bu Sena ikut tertawa puas melihat responnya.
"Ada apa ini, asik banget kayaknya?" tawa keduanya segera berhenti, Abi mengusap air mata yang sedikit keluar membasahi matanya.
"Eh, Achel! Kapan datang? kebetulan paman bawa oleh-oleh nih!" celetuk Pak Reyga pada mereka berdua. seketika senyum kecil kembali terbit di bibir Rachel.
"Yeay, sayang paman banyak-banyak!" Rachel berlari dan memeluk erat pamannya, seketika Abi melengos. Bu Sena tersenyum lembut melihat interaksi mereka.
"Giliran hadiah, seneng banget. dasar bocil!" Rachel tersenyum meremehkan pada Abi.
"Biarin!" sahutnya, tiba-tiba. Sebuah sapuan lembut dikeningnya membuat Rachel tersentak.
"Ini keningnya kenapa, dan bibir kamu juga sobek gini?" pertanyaan yang ketiga kalinya kembali membuat Rachel tersenyum canggung. Abi paham situasi, lelaki itu mengambil Rachel dari pelukan sang ayah.
"Gak apa-apa kok, yah." pak Reyga melihat mata Abi. dia kemudian mengerti dan segera mengalihkan pembicaraan.
"Yaudah, daripada kita disini. yuk kita ke bawah, liat oleh-olehnya!" ajak pak Reyga pada mereka bertiga. Keempatnya kemudian turun ke lantai pertama, di meja. Terlihat banyak sekali barang, entah itu makanan ataupun barang pecah belah.
Rachel segera mengucapkan terimakasih kepada sang paman, mereka akhirnya memutuskan untuk makan bersama. Tawa riang dari Rachel membuat ketiganya tersenyum, anak itu memang kesayangan keluarganya. Setelah makan, Rachel memilih untuk pergi tidur.
"Kak Abi, bintangnya cantik banget ya!" celetuk Rachel memecahkan keheningan, Abi mengangguk setuju.
"Makanya kak Abi betah disini, bintangnya bisa dilihat dengan jelas, beda kalau di kota." Rachel paham, anak itu kembali bertanya.
"Itu aja alasannya?" Abi menggeleng, Rachel kembali diam.
"Udah malem, Achel tidur, ya." Pria itu segera menyelimuti tubuhnya, setelah Rachel tertidur. Abi bergegas meninggalkan kamarnya. Tak lupa dia memberi sebuah kecupan lembut di kening Rachel.
__ADS_1
"Sleep tight, babe." Bisiknya.
"Selain bintang, Kakak ada di sini untuk kamu, Chel."