BELENGGU

BELENGGU
BELENGGU BAB 14


__ADS_3

Selepasnya Abi keluar dari kamar, Rachel mengerjapkan kedua pupil matanya, anak itu merasa pipinya bersemu merah. Suara berat Abi mampu membuat jantungnya bertalu-talu.


"Beneran gak sih kak Abi ngomong gitu?" batinnya bertanya, berbagai argumen memenuhi otak kecilnya.


"Malu banget, astaga!" Rachel memilih menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah akibat perlakuan manis Abi.


"Hoam, ngantuk juga sih. Kayaknya aku beneran harus tidur," selesai berucap, Rachel memang benar-benar tertidur.


.....


"Morning, my princess!" seru seorang lelaki yang kemudian memberi senyuman manisnya pada Rachel. Anak itu bangun dengan mata sembab khas orang bangun tidur.


"Morning too!" Rachel tersenyum tipis, menanggapi sapaan dari Abi.


"Sarapan dulu, ayok!" ajak Abi, Rachel mengetuk-ngetuk dagunya sembari berpikir, anak itu kemudian melirik Abi dan tersenyum.


"Gak mau, Achel masih ngantuk. byee, mau tidur lagi!" Rachel kembali merebahkan dirinya dan menarik selimut hingga menutupi kepalanya, Abi gemas, pria itu langsung menahan selimut yang Rachel punya.


"Adek siapa sih? Gemesin banget!" ucap Abi sembari memeluk erat Rachel, gadis itu memberontak.


"Ish! Sesek tau!" Rachel mengomel kala rengkuhan Abi semakin kuat melilit tubuhnya.


"Kak Abi, bangun dulu. iya Achel sarapan, tapi lepasin dulu ih!" anak itu masih memberontak agar dilepaskan. Abi terkekeh, dirinya mengusap rambut Rachel yang dimana itu membuatnya terlihat berantakan.


"Kak Abi!" marahnya sembari mengatur rambut panjangnya yang terlihat amburadul. Abi tertawa puas, mengerjai Rachel menjadi suatu kebiasaan baru baginya.


"Ayok, kita sarapan dulu." Rachel mengangguk.


"Bentar, Achel mau cuci muka sama gosok gigi dulu," timpal Rachel, Abi memberi jempolnya pada gadis itu.


"Good girl," sahut Abi, pria itu kemudian keluar terlebih dahulu. Rachel langsung mengelap bersih wajahnya yang basah, dirinya menatap pantulan di cermin.

__ADS_1


"Gak jelek, kok! tinggal perawatan doang, pasti kak Abi bakalan mau sama aku," batinnya sembari meraba wajahnya. Kulitnya sekarang terlihat jauh lebih putih, mungkin efek dari selalu berdiam diri di rumah. Selain itu, Rachel banyak membaca artikel kecantikan dan rajin mengonsumsi air putih agar kulitnya tetap terhidrasi.


"Lumayan ngefek, kayaknya harus nabung dulu buat beli skincare!" ucapnya pelan, dirinya bergegas turun ke bawah untuk pergi sarapan.


....


"Morning paman, bibi, sama kak Abi!" Rachel sumringah, dirinya sangat bersemangat mendapati banyak sekali cinta dari keluarganya.


"Morning too, Rachel!" balas paman dan bibinya, Abi hanya tersenyum, kemudian menarik kursi yang ada disampingnya untuk Rachel duduk. Rachel paham, segera dirinya pergi dan duduk di


samping kakak sepupu tampannya tersebut.


"Makan yang banyak, Achel. Kamu keliatan kurusan, bener 'kan, pah?" tanya Bu Sena pada sang suami, pria paruh baya yang masih terlihat bugar dan tampan itu mengangguk setuju.


"Bener, kamu lagi di fase pertumbuhan. So, harus makan yang banyak biar bisa gede." Rachel hanya tersenyum dan mengangguk saja sebagai respon.


"Makan aja, gak usah malu-malu monyet, biasanya juga bar-bar," celetuk Abi, Rachel mendelik dengan muka julid.


"Ish! Hobi banget ngatain Achel, gak laik sama kak Abi!" dumelnya, Bu Sena dan sang suami hanya tertawa melihatnya.


Setelah selesai makan, Rachel memutuskan untuk mencuci piring. Setelah itu, dirinya mandi dan memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Walau dengan berat hati, sang paman, bibi, apalagi Abi sangat enggan melepas kepergiannya.


"Assalamualaikum, Achel pulang!" sang ibu yang tengah berada di dapur membalas salamnya.


"Wa'alaikumussalam," sahut ibunya, Rachel segera bergegas ke dapur untuk membantu.


"Ada yang bisa Achel bantu?" tanyanya penasaran.


"Lagi buat sayur lodeh tumis, gak ada, kok. Kamu tolongin emak sapu rumah aja, ya. Habis itu, bantuin emak cuci sama keringin bajunya, kayak biasa." Rachel mengangguk dan kemudian mengerjakan pekerjaannya.


Gadis itu begitu ulet mengerjakan semuanya, bulir-bulir keringat nampak mengalir deras di dahi hingga lehernya. Tidak lama berselang, pekerjaannya telah selesai satu persatu. Angin bertiup kencang menerpa tubuhnya, terasa sangat menyegarkan dan membuat dirinya tenang sejenak.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya kelar. Aku mau mandi dulu, ini badan rasanya lengket banget!" ujarnya sembari berjalan menuju kamar mandinya.


"Akhirnya, seger banget!" Rachel menggosok lembut rambutnya di handuk, setelah selesai, Rachel memutuskan untuk memakai hair dryer pemberian bibinya yang memang sudah jarang dipakai oleh yang punya, daripada dibuang. Bibinya memutuskan memberikan itu padanya.


Selesai dengan rambut, Rachel beralih untuk memanjakan tubuhnya dengan menggunakan body lotion, yah ... walaupun bukan produk yang berkualitas tinggi. Namun, setidaknya body lotion yang digunakannya dapat memberikan dampak, walau harus menunggu agak lama. Setelah rapi, tak lupa Rachel menyemprotkan parfum agar selalu harum semerbak.


Tidak terasa, hari sudah menunjukkan pukul tiga sore, artinya jemuran pakaiannya sudah kering. Buru-buru Rachel mengambil dan meletakkan di kamarnya, dengan cepat gadis itu melipat pakaian tersebut dan tanpa membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka telah rapi semula.


"Semuanya udah, sebenarnya sih tinggal mandi doang, tapi mumpung Senin ini udah mau ujian, kayaknya aku bakalan siapin perlengkapan sekolah aja dulu." Rachel kembali bangun untuk mengemasi barang bawaannya ke sekolah.


......


Malam tiba, selepas shalat Maghrib, Rachel memutuskan untuk makan segera, setelah itu dirinya mengurung diri di kamar. Tentu saja untuk belajar, dia akan keluar untuk mengambil wudhu dan melaksanakan shalat isya saja, setelahnya gadis tersebut akan kembali dan memutar keras otaknya.


"Ya Allah, pusing banget!" ringisnya, sepintar apapun Rachel, dirinya akan menyerah jika menyangkut matematika.


"Gak, aku gak boleh nyerah! Pasti ada jalannya," celetuknya sembari memukul kepala menggunakan pena, dirinya kembali meringis dan memegangi kepalanya itu.


"Lupa, malah dipukul, luka dari Jessie masih aja perih, udah kelar 3 hari juga," lirihnya sembari menggosok lembut luka tersebut.


Alarm di ponselnya tiba-tiba berdering, waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, akhirnya Rachel memutuskan untuk tidur karena besok adalah hari yang panjang sekaligus menegangkan bagi dirinya.


Sebelum tidur, Rachel mengecek ponselnya, takut-takut ada yang berkepentingan dengan dirinya. Tak lama setelah data dinyalakan, dentingan notifikasi sontak memekakkan Indra pendengarannya.


Sebagian besar, dari grup kelasnya, tapi Rachel tak ingin membukanya, saat asyik mengamati balon obrolannya, sebuah notifikasi mengejutkan Rachel.


"Tidur, sudah malam, besok ujian. Right?" sebuah pesan dari Abi membuat lekukan manis di garis bibirnya.


"Yeah, you know?" tanya Rachel.


"Yes!" balas Abi.

__ADS_1


"Wait, how do you know?" Rachel masih penasaran.


"Because I know some of your friends." detik itu juga Rachel sontak tergugu. Rachel merasa dirinya telah diawasi Abi sejak awal.


__ADS_2