
Seorang gadis yang tengah menikmati makan siangnya sendirian di kantin, disaat orang-orang lebih memilih bercengkarama bersama teman-teman dekat mereka dia tampak tak terusik sedikitpun dengan ke bisingan yang terjadi dia tetap betah dengan kesendiriannya.
"Hey kalian tahu tidak gadis yang duduk sendirian itu?" sejumlah mahasiswi yang tengah menyantap makan siang mereka memandang pada gadis di pojok sana yang tengah memakan makanannya sendirian.
"Kalian kenal dia?" ujar salah satunya.
"Oh dia, Namanya Lia dia mahasiswa Sastra Indonesia." timpal teman lainnya.
"loh kok kamu tahu?"
"Tahu lah, dia satu jurusan dengan pacarku." para wanita itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Eh tahu tidak dia itu sangat pendiam loh, bahkan saking pendiamnya tak ada yang mau mendekati dia."
"Loh jika dia pendiam kenapa tidak didekati saja ajak ngobrol ke, kenalan?"
"Nah ini masalahnya jika di dekatnya selalu merinding, dia seperti mengeluarkan aura menyeramkan pokonya dia itu misterius banget orangnya?"
"Ah masa?"
"Coba saja kau dekati dia aneh sekali." ternyata perkataan para perempuan tadi dapat di dengar oleh gadis yang bernama Lia itu. Namun, dia tak menghiraukannya Lia tetap asik dengan makanannya. Setelah menyelesaikan makannya gadis bernama Lia pun beranjak dari tempat duduknya. Lia menenteng tas dan bukunya menuju taman dia mencari tempat yang dirasa tidak terlalu ramai ia merasa risih jika berada di keramaian. Suasana taman cukup sepi Lia mendudukan dirinya di bangku yang ada di taman tersebut membuka bukunya dan kembali berfokus pada isi bacaannya.
Perhatian Lia dari buku itu teralihkan karena seseorang tengah berdiri di hadapannya. Lia mendongkakkan kepalanya mencari tahu siapa sosok yang berdiri di hadapannya itu. Ternyata sesosok laki-laki dengan berkemeja merah dengan tas ransel dipunghungnya berdiri dihadapannya sembari tersenyum.
"Lia Queenta?"
__ADS_1
"Iya" jawab Lia gugup.
"Apa kau mahasiswa jurusan sastra?" tanya pemuda itu.
"Iya benar."
"Salah satu dosen menyarankanku untuk mempelajari beberapa materi yang tertinggal padamu?"
"Padaku? Tapi kenapa?"
"Entahlah. Dia menyarankan kamu yang akan membimbingku?"
"Siapa yang memberi perintah?"
"Pak Rohmat Dosen Linguistik." Lia terdiam mengapa? Dosen itu merekomndasikannya.
"Entahlah yang jelas dia menyuruhku menemuimu. Oh ya perkenapkan Nama saya Aditya Pramudia kau bisa memanggilku Adi, mahasiswa pindahan sebelum kesini saya berada di jurusan bisnis di universitas lain namun saya merasa itu bukan keahlian saya mangkanya saya pindah jurusan " Lia menatap pemuda itu 'ternyata dia mahasiswa pindahan, tapi aku tidak suka dia sok akrab sekali.' gumam Lia.
"Sebaiknya kamu mencari mahasiswa lain, jangan saya karena kemampuan saya tidak ada apa-apanya. Permisi." Lia pun beranjak dari hadapan Adi.
Adi hanya bisa mengerutkan dahinya, benar apa perkataan orang-orang jika Lia memang sulit di dekati. Sebenarnya ini adalah siasat Adi dan teman-temannya yang sangat penasaran dengan seseorang gadis bernama Lia Queenta, gadis dingin dan misterius.
Siapa sih yang tidak mengenalnya semua penjuru kampus tahu itu namun hingga sekarang tak ada seorang pun yang bisa mendekatinya.
Lia berjalan menuju ruang dosen menemui pak Rohmat memastikan ucapan dari mahasiswa yang bernama Adit itu benar apa tidak. Ternyata setelah menemui Pak Rohmat raut wajah yang dipancarkan Lia berbeda, Pak Rohmat mengatakan bahwa dia tak pernah menyuruh siapapun untuk mengajarkan materinya jika ada yang tidak paham langsung saja temui dia. Lia menyeringai ia merasa dipermainkan, tangannya mengepal.
__ADS_1
Adi menghampiri teman-temannya yang tengah berkumpul di Gazebo belakang kampus.
"Gimana Bro berhasil?" tanya salah satu teman adi.
"Apanya yang berhasil gue ditolak." ujar adi kesal.
"gua bilang juga apa susah mendekatinya." seru temannya yang lain.
"Gua gak bakal nyerah gitu aja pokonya gue bakal ngedeketin dia, dan loe Rio siap-siap kehilangan Mobil Loe." tantang adi.
"Buktikan jangan ngomong doang."
"oke tunggu saja." Ternyata Lia dijadikan bahan taruhan oleh Adi dan teman-temannya sudah biasa memang mangkanya Lia selalu waspada. Tanpa mereka sadari Lia mendengar percakapam mereka semua. Lia membenarkan letak kacamatanya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Mata kuliah sore ini dosennya berhalangan Hadir Lia memutuskan pulang ke kosannya. Ya dia anak rantau yang jauh dari orang tua, Lia menyewa Kos-kosan yang minimalis karena dirasa itu cukup untuknya sendiri. Lia menyimpan tasnya di kasur dan dia beranjak menuju kamar mandi sebelum ke kamar mandi dia melihat kalender yang di penuhi bulatan bulatan warna merah pada tanggal-tanggal tertentu Lia menyeringai ternyata ada tanda merah lagi hari ini. Dia segera pergi ke kamar mandi.
Lia keluar dengan penampilan yang lebih segar dia membuka lemari pakaiannya dan menemukan banyak sekali gaun merah. Kemudian Lia duduk di meja rias dan mulai mempoles wajahnya dengan aneka jenis make up dan tak lupa dia juga mempoles pewarna bibirnya dengan warna merah menyala.
Penampilan Lia kini berbeda dari sebelumnnya, kini dia terlihat lebih cantik dan dewasa berbeda dengan tadi Lia yang berada di kampus penampilan sederhananya beeubah setelah dia bermake up hendak kemana kah dia.
Lia membuka laci meja riasnya yang nampak ada sebuah pulpen dan topeng berwarna Hitam, dia mengambil topeng itu dan langsung mengenakannya. Dia menatap pantulan dirinya di cermin dan menyeringai.
"Mari berpesta!" Lia pun beranjak dari tempat duduknya dan dia menghilang seperti angin.
Entah hendak kemana dia pergi? Apakah dia gadis misterius yang selama ini selalu menjadi teror di pesta ulang tahun? Benarkah dia?
__ADS_1
TBC......