
"Berani-beraninya kalian berdua buat saya malu!" bentak Bu Lita dihadapan Renata dan Jessie, kedua gadis itu menunduk takut. Rachel melihat mereka berdua, Renata dan Jessie sontak memberikannya tatapan penuh dendam. Namun, itu tak berlangsung lama karena sang bibi menjewer telinga mereka.
"Akan saya laporkan ke orang tua kalian, ini hasil didikan yang orang tuamu banggakan pada saya dulu!" desis Bu Lita sembari membuka sebuah buku bersampul merah yang ada di mejanya. Seluruh yang ada di ruangan itu sontak terkejut, tentu saja. Itu adalah buku kematian bagi seluruh murid disekolah ini, itu adalah buku catatan siswa yang memiliki predikat buruk.
Rachel dan Sabrina yang melihat hal itu seketika bernapas lega, mereka mengira, Bu Lita akan bersikap pilih kasih. mereka masih mengamati tingkah Renata dan teman-temannya yang kini tengah memohon agar nama mereka tidak tercatat dalam buku itu. Akan tetapi, usahanya sia-sia.
"Oh iya, Reja, Sagara dan Rasya. Saya ingin bertanya satu hal, apakah selama ini mereka memang sering membully Rachel dan Sabrina?" selidik Bu Lita, Reja yang mendengarnya sontak bersemangat.
"Bukan sering lagi sih, tapi udah jadi kebiasaan, Buk!" sahut Reja, aura-aura gosipnya mulai keluar.
"Bukan cuma Rachel dan Sabrina, adik kelas juga ada yang menjadi korban bully secara verbal oleh mereka, buk. Namun, kasus yang dialami Rachel dan Sabrina ini sudah masuk tahap parah. Lihat! kening Rachel dan bibirnya mengeluarkan darah akibat perlakuan mereka," sela Rasya. anak itu kemudian menunjuk ke arah Rachel, Bu Lita sontak terkejut dan meringis pelan.
"Padahal, hanya kejadian sepele. Namun, mereka sampai membuat Rachel terluka seperti ini, tahukah, bu? Pembully adalah orang yang memiliki penyakit mental!" desis Sagara tajam, Renata serta Evelyn sontak membola. Bagaimana bisa! Orang yang telah mereka kagumi malah memihak Rachel dan Sabrina. Bu Lita yang mendengar penuturan dari anak didiknya kemudian memijit pelan kepalanya yang terasa berdenyut.
"Oh iya, Buk. Apa yang dilakukan oleh Sabrina adalah bentuk pembelaan diri, lagian mereka juga gak terluka parah seperti apa yang mereka perbuat dengan Rachel," timpal Reja, Rachel terdiam dan sontak tersenyum penuh haru. Ternyata, masih begitu banyak orang baik yang ada di dunia ini.
"Baiklah, itu akan saya maklumi. Terimakasih banyak sebelumnya atas kerjasama ini, dan untuk Rachel. kamu bisa pulang terlebih dahulu, mengingat lukamu yang cukup parah," sambung Bu Lita, Rachel mengangguk mengerti.
"Terimakasih banyak, Bu. Saya izin pulang, assalamualaikum." Rachel bangkit dan menyalami gurunya dan dibalas oleh Bu Lita. Setelah kepergian Rachel, Sabrina, dan ketiga siswa laki-lakinya. Wanita itu kemudian menatap horror ke arah anak didiknya yang dua diantara itu adalah keponakannya.
"Kalian berempat jangan pulang terlebih dahulu, ada surat pemanggilan orang tua bagi siswa bermasalah seperti kalian." Jelasnya, segera Bu Lita kembali duduk untuk membuat surat keterangan pemanggilan orang tua terhadap mereka berempat. Jessie dan Renata kembali menangis dan memohon kepada sang bibi agar tidak memanggil orang tuanya, akan tetapi hal tersebut kembali tak dihiraukan oleh Bu Lita.
__ADS_1
....
Rachel berjalan dengan canggung di sisi Sabrina. Anak itu hanya menyimak pembicaraan keempat orang tersebut dengan raut wajah menahan sakit.
Tentu saja karena lukanya, luka yang berikan oleh Renata serta teman-temannya sangat tidak manusiawi. Darah yang mengalir telah berhenti dan membeku, tapi luka sayatan dan sobekan di bibirnya masih kentara terlihat.
"Eum, makasih banyak udah tolongin kita berdua kasih buktinya ke Bu Lita, ya." celetuknya, Sabrina dan ketiganya sontak menoleh. Mereka berhenti sejenak,
"Santai, Chel. Lo 'kan temen kita, wajar lah dibantu!" celetuk Reja tersenyum senang, begitupun dengan Sabrina. Sagara serta Rasya hanya mengangguk datar.
"Iya tuh, santuy aja. By the way, itu luka lo masih sakit?" tanya Sabrina, Rachel menggeleng canggung.
"G-gak sakit lagi, kok! udah mendingan," sela Rachel, keempatnya sontak merotasikan bola mata mereka.
"Syak! Gue pergi anterin ni anak dulu, ya! Jangan lupa cepuin bokap sama nyokap gue masalah tadi!" pekik gadis itu, telinga Rachel terasa berdengung dibuatnya.
"Orang mah biasanya nyembunyiin masalahnya, elu kagak. Malah lu juga yang nyuruh si Rasya Cepu!" Rachel tak habis pikir, Sabrina yang mendengarnya sontak tertawa terpingkal-pingkal.
"Gue beda, lagian. Orang tua gue juga donatur di sini, main-main mereka sama gue? liat aja, habis mereka!" desisnya, Rachel seketika ngeri.
"Udah ah! Ayok naik, entar kagak balek-balek lu!" Rachel segera naik dan berpegang pada pundak Sabrina, merekapun kemudian pergi meninggalkan sekolah. Reja, Sagara, dan Rasya yang melihat hanya menatap punggung kedua gadis yang perlahan mulai menghilang itu.
__ADS_1
"Kasian." Sagara dan Reja segera menoleh.
"Iya, kasian. Gue jadi mikir, selama ini dia pasti capek nanggung itu semua," ujar Reja, anak itu tersenyum miris yang membuat Sagara dan Rasya bertatapan.
"Maksud lo?" tanya Sagara, Reja menatap langit dan kembali terdiam.
"Rachel, dia selama di kelas selalu dapat perlakuan yang kurang mengenakkan." Sagara mangut-mangut, Reja melirik ke arah Rasya.
"Dan parahnya, baik wakil ketua kelas dan siswa lainnya. Termasuk gue, gak ada yang bantuin dia di saat terpuruk," lirih Reja, Rasya merasakan hatinya sedikit berdenyut mendengar sindiran halus dari sahabatnya. Namun, dia bisa apa? Itu memang benar adanya.
"Tuh anak baik banget padahal, dia sering tolongin gue juga pas ada tugas, dan yeah. Dia tulus," sambungnya, Reja kemudian duduk di kursi yang ada di belakang sekolahnya itu. Diikuti oleh keduanya, mereka duduk tenang sembari menikmati semilir angin.
"Iya, dia emang baik," timpal Rasya. Sagara tak menjawab, anak itu berbeda kelas. Tentu saja tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Gue kalau jadi dia bakalan pindah sekolah," ucap Sagara sembari memandangi rimbunan pohon yang ada dihadapannya. Rasya dan Reja mengangguk setuju.
"Tapi susah juga, lo pikir aja. Bapaknya kerja di sini, pastinya si Rachel gak bisa pindah. Mungkin, dari apa yang didapatkannya selama ini bikin dia tertekan dan pengen banget pindah. Bukan cuma Rachel, Sabrina juga!" Reja berbicara panjang lebar dengan nada sarkastik.
"Iya, diliat dari rautnya, pasti capek sekolah di sini," sela Sagara.
"Tapi, Sabrina beda dengan Rachel." Rasya kembali melirik keduanya.
__ADS_1
"Dia, gadis kuat. Anak itu keras, beda dengan Rachel. Dia lebih banyak mengalah,"