
[Axton Graham]
Sore itu Tiger melangkah masuk ke sebuah ruangan tertutup minim cahaya. Hanya beberapa celah jendela yang sedikit dimasuki sinar matahari yang mulai terbenam. Stev dan para anggota khusus yang bekerja dibalik layar kerajaan bisnis "HIRO GROUP" milik Tiger, sudah berbaris dengan senjata di tangan mereka.
Terlihat seorang pria paruh baya yang duduk dengan tangan terikat di kursi, menatap kedatangan Tiger dengan tatapan penuh ketakutan. "Maaf kan saya Tuan, saya mohon ampuni saya," ucap pria tersebut dengan suara yang bergetar.
"Kau punya banyak nyawa rupanya." Ucap Tiger dengan suara rendah tanpa ekspresi. "Ampuni saya tuan, jangan bunuh saya," ucap pria paruh baya tersebut dengan terbata-bata.
"Stev." Panggil Tiger dengan tatapan masih tertuju pada pria di depannya. "Dia adalah manager salah satu divisi Hiro Group tuan. Dia menjual informasi rahasia perusahaan." Stev menjelaskan.
Tiger melangkah makin dekat dengan pria tersebut, tak ada ekspresi apa-apa, namun tatapan matanya mengisyaratkan kematian.
Tiger lalu menendang pria tersebut sampai terjatuh dari kursinya, kemudian menendang mulut pria tersebut hingga berdarah. "Mulut ini masalahnya. Bereskan." Perintah Tiger dan langsung berlalu pergi.
Stev memberi aba-aba pada anggota khusus nya untuk membereskan pria tersebut. Dia pun melangkah keluar ruangan menyusul tuan nya.
***
"Tuan tidak perlu mengurusi masalah seperti ini. saya yang akan membereskan," ucap Stev saat mereka sudah berada di dalam mobil. Mereka keluar dari gerbang tinggi sebuah rumah mewah dengan pengawasan ketat, yang merupakan lokasi eksekusi masalah-masalah penting Hiro Group dengan cara kejam.
Mobil mereka menyusuri jalanan yang di kelilingi hutan lebat dan jarang di lalui orang. "Istriku tidak mengabari ku." Ucap Tiger dengan raut wajah gusar.
"Ternyata tindakan anda tadi adalah bentuk kegusaran anda tuan. Ternyata kehadiran nona muda belum 100% merubah sifat anda." Stev.
"Saya akan cari tau penyebabnya." Jawab Stev sambil mengeluarkan Hp dari saku jas nya. "Biarkan aku mendengar penjelasan nya langsung. Kita langsung pulang." Jawab Tiger datar.
__ADS_1
"Kenapa perasaan ku tidak enak mendengar jawaban ini." Stev.
***
Tiger melangkah memasuki Mansion di ikuti Stev, seperti biasa pak Ming sudah menyambut di depan pintu utama. Tiger menatap ke arah tangga beberapa saat, tak di dapati kehadiran sang istri. "Dimana dia?," tanya Tiger.
"Nona tidak menghubungi anda?, beliau sedang pergi ke..." Pak Ming hendak menjelaskan namun Tiger sudah menatap tajam ke arah pak Ming. "Tidak usah jelaskan. Aku ingin dengar alasan dari mulutnya." Jawab Tiger dengan nada datar namun penuh penekanan.
"Saya harap anda tidak mengeluarkan sifat asli anda pada nona muda. Baru sehari nona muda pergi dan suasana rumah kembali dingin." Pak Ming.
"Kau boleh pulang Stev." Perintah Tiger tanpa menoleh dan langsung beranjak ke kamar. Stev tidak ingin pergi dari mansion, mengingat emosi tuannya yang sedang tidak stabil. Dia memilih untuk tetap tinggal sampai Lily pulang.
***
Tiger melempar jas nya ke sembarang arah dalam kamarnya, dia melepas kasar dasinya. Dia tampak begitu gusar mengingat istrinya yang tidak ada kabar sama sekali.
Waktu menunjukkan pukul 19.00, Lily belum juga pulang. Usai makan malam Tiger langsung masuk ke kamar nya, duduk di sofa sambil memegang Hp nya, berharap istrinya memberi kabar.
***
Di lain sisi Lily sedang bercengkrama di sebuah cafe mewah bersama Axton dan para pengajar tempat kursus ayahnya, beserta para anggota orchestra.
Mereka mengadakan penyambutan Lily yang akan bergabung bersama mereka menjadi pengajar piano classic, dan mengakrabkan diri dengan Axton untuk membangun chemistry saat konser nanti.
Lily kaget melihat jam di tangan nya yang sudah menunjukkan pukul 21.00. Dia langsung meminta maaf pada semua karena harus pamit pulang lebih dulu, buru-buru dia keluar cafe dan menghentikan taxi.
***
__ADS_1
Tiger mendengar suara istrinya yang sedang berbicara dengan pak Ming, dia langsung berdiri di tengah kamar sambil menatap lurus ke arah pintu dengan wajah dingin.
"Sayaaanggg..." Lily berjalan setengah berlari sambil mengangkat sedua tangannya, hendak memeluk suaminya. "Kau lupa apa status mu?," tanya Tiger dingin, membuat Lily menghentikan langkah langkah dan menurunkan tangannya.
"Sayang marah?," tanya Lily dengan suara pelan. "Kau anggap aku apa?!," ucap Tiger lagi dengan suara yang lebih dingin.
"Kamu suami ku, sayang aku bisa jelaskan," suara Lily makin melemah. "Mana Hp mu?," tanya tiger sambil mengangkat tangan kanan nya. Lily memberikan Hp nya pada Tiger.
PRANG!!!, Hp Lily hancur berkeping-keping, Tiger membanting nya dengan raut wajah penuh amarah. "Benda ini tidak berguna untuk mu." Ucap Tiger dengan suara datar dan dingin penuh penekanan.
"Ada apa dengan mu sayang?!, aku hanya pergi ke tempat kursus ayah!, tadi ada ta..." Belum selesai Lily menjelaskan, Tiger sudah meramas kedua pipi istrinya dengan kasar.
"Jangan karena aku mencintaimu, kau bisa berbuat semau mu sayang!!!," Ucap Tiger dengan nada mulai meninggi, sambil menatap mata istrinya dengan tajam.
"Sakit sayang..." ucap Lily di sela air matanya yang jatuh, sambil kedua tangannya memegang tangan sang suami yang meramas wajah nya.
Tiger lalu melepas kasar cengkramannya dan keluar kamar dengan bantingan pintu yang sangat kasar. Kaki Lily seolah tak mampu menopang berat badannya, dia langsung terduduk lemas, masih berusaha mencerna kejadian yang baru saja terjadi.
***
Tiger menuruni tangga dengan wajah penuh amarah. "Pak Ming!!!" teriak Tiger. Pak Ming dengan cepat berada di hadapan tuan muda nya, di ikuti Stev yang turut mendatangi tuannya.
"Suruh pelayan wanita untuk membersihkan istriku," perintah Tiger dengan wajah dingin. Pak Ming hanya mengiyakan perintah Tuan nya, dia dan Stev tidak berani bertanya apa yang terjadi.
"Bawakan kopi ke ruang kerjaku!, ikut aku Stev!." Perintah Tiger sambil melangkah ke arah ruang kerjanya di ikuti Stev.
***
__ADS_1