
Pak Ming masuk ke dalam kamar bersama 2 pelayan, salah satu pelayan tersebut adalah Ana yang membawa secangkir teh untuk nona muda nya.
Pak Ming melihat nona muda nya yang duduk bersimpuh dengan wajah pucat dan berderai air mata. Tampak Hp yang sudah hancur, menandakan Tuan muda nya sudah menunjukkan watak aslinya.
"Bereskan itu, dan Ana bantu nona muda membersihkan badan nya." Perintah pak Ming sambil beranjak ke arah nona mudanya.
"Maaf kan saya yang tidak bisa berbuat banyak nona, maaf anda harus ada di situasi seperti ini, saya harap anda bisa kuat menghadapi tuan muda dan tetap bertahan di sampingnya. Dia bukan orang jahat, dia hanya sangat takut kehilangan orang yang dicintainya lagi." Pak Ming.
Pak Ming membantu nona muda nya berdiri, badan Lily nya begitu gemetar, masih dengan tatapan kosong. Pak Ming menuntun Lily untuk duduk di atas sofa.
"Benarkah dia suami ku?," tanya Lily dengan suara yang bergetar. "Tuan muda tidak bermaksud menyakiti nona, tuan hanya terlalu khawatir," jawab pak Ming berusaha menenangkan Lily.
"Suami ku tidak sekasar dia, aku tidak ingin tidur dengan nya malam ini." Ucap Lily kini dengan air mata yang makin deras mengalir. "Jangan membuat tuan muda makin marah nona, tenangkan diri anda." Balas pak Ming masih menenangkan Lily.
Setelah di rasa nona muda nya mulai tenang, pak Ming keluar dari kamar, yang tersisa kini hanya Lily dan Ana. "Saya akan membantu anda membersihkan diri," ucap Ana lembut.
"Boleh kah aku memeluk mu?, aku sangat ingin memeluk seorang teman sekarang," pinta Lily dengan tatapan sendu. "Tentu nona muda, saya akan melakukan apa saja untuk membuat anda lebih merasa tenang." balas Ana.
Lily memeluk erat Ana, tangis nya kini pecah, suaranya keluar memecah keheningan. "Aku takut pada suami ku Ana," ucap Lily di sela tangis nya.
__ADS_1
Ana tidak menjawab apapun, dia hanya terus memeluk nona muda nya, sambil menepuk lembut punggung Lily.
***
Lily sudah selesai membersihkan diri dengan dibantu Ana. Ana kembali ke rumah belakang, tempat para pelayan tinggal. Lily sendiri masih menatap kosong dinding-dinding kamar.
Sementara itu di ruang kerja, Tiger menatap keluar jendela, masih dengan tatapan amarah. "Sebaiknya anda mendengar penjelasan nona muda dulu," ucap Stev.
"Aku tidak mau kehilangan lagi. seluruh hatiku sudah ku serahkan pada istriku. berani nya dia berbuat sesuatu tanpa sepengetahuan ku." Jawab Tiger dengan suara datar namun dingin.
"Saya hanya tidak ingin nona muda merasa takut pada anda." Ucap Stev blak-blakan. "Aku tidak peduli apa yang dia pikirkan tentangku. Selama dia tetap disampingku, itu tidak masalah." Jawab Tiger dingin.
Stev kehabisan kata untuk melawan tuan nya, di pikirannya kini hanya merasa kasihan pada nona mudanya. Setelah beberapa lama berbincang, Stev pulang dan Tiger beranjak ke kamarnya.
***
Tiger melangkah acuh ke ruang baju untuk mengganti baju tidurnya. Dia keluar dan berjalan ke arah kasur. "Kesini," perintah Tiger pada Lily sambil baring. Tiger membuka tangannya, mengisyaratkan istrinya untuk memeluk dirinya.
Lily masih terdiam menatap suaminya. "Sayang," panggil Tiger dengan suara rendah namun penuh penekanan. Lily beranjak perlahan ke arah suaminya, memeluk suaminya dan menenggelamkan wajahnya di dada sang suami.
"Berikan aku ciuman selamat tidur," perintah Tiger. Lily mendongakkan kepalanya menatap Tiger. Cup ciuman hitungan detik yang mendarat di bibir Tiger.
__ADS_1
Tiger mencium puncak kepala istrinya, sambil mengelus rambut lebat Lily. Tak menunggu waktu lama Lily sudah terlelap. Entahlah, disela rasa takutnya pada Tiger, namun dia masih merasakan kehangatan pelukan suaminya.
***
Lily bangun lebih pagi, dia sudah selesai membersihkan diri dan bersiap-siap. Tak lupa dia menyiapkan air hangat untuk mandi Tiger dan pakaian kerja suaminya.
Dia sudah duduk di atas sofa dengan mini dress berwarna soft pink. Tak lama kemudian Tiger bangun, "Sayang!!!," teriaknya saat tak mendapati sosok istrinya dalam pelukan.
Lily bergegas ke arah suaminya. "Aku mau mandi," ucap Tiger usai menghembuskan nafas kasar, merasa lega melihat sosok istrinya.
Tiger sudah selesai mengenakan celana dan kemeja, Lily dengan sigap mengenakan dasi yang sudah dipilihnya. "Mana ciuman selamat pagi ku?," ucap Tiger merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya.
Lily hanya terdiam dan memakaikan jas pada suaminya. Tiger menatap tidak suka ke arah Lily, geram dengan sikap Lily padanya. Lily masih acuh dan bergegas mengambil sepasang sepatu.
Tiger duduk sambil terus memperhatikan sang istri yang membantunya mengenakan sepatu. Tiger berdiri dan menatap lekat wajah Lily. "Mana ciuman selamat pagi ku!," suaranya mulai meninggi.
Lily melihat suaminya dengan tatapan takut, namun tersirat rasa marah yang dia pendam. "Ayo sarapan." Ucap Lily mengacuhkan permintaan sang suaminya dan berbalik menuju pintu.
Tiger melangkah cepat memeluk pinggang mungil istrinya dari belakang, dia mencium aroma rambut istrinya, mencium telinga dan meng****p leher sang istri hingga meninggalkan bekas.
"Jangan menguji kesabaranku sayang, aku bukan manusia yang sesabar itu." Ucap Tiger penuh penekanan dan berjalan keluar pintu lebih dulu. Lily bergidik ngeri dengan tingkah suaminya.
__ADS_1
***