
Di sebuah kamar hotel mewah seorang wanita tengah berdiri menghadap kaca besar yang langsung memperlihatkan kota jakarta di malam hari.
Perempuan yang mengenakan lingerie merah menyala itu menatap dengan tatapan nyalang ada emosi yang membara seperti warna lingerie sekarang.
Gita melepas earphone dari lubang telinga nya. kedua tangan mengempalkan kuat.
"Saya sudah memastikan sendiri bos. Ibu Chayra positif hamil. "
"Gawat ! Perempuan itu akan mengacaukan segala rencana ku. Dengan kehadiran wanita sialan itu saja sudah sangat mengusik rencanaku apalagi anaknya. Sebelum Ghaffar tau aku akan menyelenyapkan anak itu "
Satu alis Gita terangkat, "Ohh, apa dua-duanya saja yah.. Yah.. ibu dan anak itu "
Sepasang tangan kekar seorang pria melingkar di perut buncit Gita. "Kenapa huh ? Terima telfon dari siapa ? kok sampe kesel gitu mukanya. Marah-marah terus inget loh ada anak kita di dalam "
Gita membalikan tubuhnya ke belakang "Aku tuh kesel loh mas ! "
Pria itu bukan Ghaffar namun orang lain.
"Kesel kenapa hum ? Cerita dong "
"Ghaffar ! Argh ! Pria itu Bucin sekali pada istrinya"
Pria tersebut membelai rambut gita "Ya terus kenapa. Semua orang di dunia ini juga tau kalau Ghaffar Bucin pada istrinya "
"Istrinya sedang hamil. Keadaan semakin kacau mas Axel "
"Apah ! B..bukannya dia hanya ingin anak darimu saja. "Pria bernama Axel itu terkejut.
"Aku takut mas, secara bayi yang di dalam kandungan istrinya 100% anak Ghaffar. Aku takut mas kalau sampai Ghaffar mengetahui bayi ini bukan bayi nya aku bisa dengan mudah dia tendang keluar dan rencana kita gagal "
"Ini Tidak boleh terjadi. Kita akan bergerak cepat Gita. Kita harus mengambil alih perusahaan Ghaffar dan membuat istrinya tidak bisa hamil lagi."
"Tapi apa kamu punya rencana sayang ?"Tangan gita mengalun di leher Axel.
__ADS_1
"Kita akan memikirkan setelah aku menjenguk anak kita "
"Baiklah, aku setuju sayang "
Kedua pasangan tanpa status itu saling memadu kasih di tas ranjang. Axel tersenyum penuh arti dalam senyuman itu.
Di kamar yang berbeda dan hotel yang berbeda. Ghaffar mengecup kening istrinya yang sudah tidur pulas. Sehabis sholat malam Ghaffar meringkuk ke atas melihat istrinya hanya mengenakan bra di tubuh atas karena Chayra merasa panas padahal bagi Ghaffar ruangan ini cukup dingin. Tak ingin mengajak Chayra sholat malam karena melihat wajah istrinya terlelap mmbuat Ghaffar tak tega.
Dulu Ghaffar akui ia jauh dari Allah. Tidak lagi ia percaya suatu keajaiban. Ia hanya berfikir semua itu bisa di dapat dengan perjuangan,kerja keras dan semangat. Ghaffar hanya berfikir uang bisa membeli semuanya tanpa ia ketahui jika ada sang pemberi rezeki.
Cobaan Chayra semakin berat di tahun pertama dan kedua pernikahan karena Ghaffar yang susah diajak untuk mengaji dan sholat.Chayra menangis saat itu Ghaffar pernah melihat istrinya itu di sepertiga malamnya berdoa agar dirinya mau bertobat dan menjadi lelaki yang lebih baik. Saat Ghaffar kembali berhijrah cobaan datang menghampiri dengan begitu berat salah satunya adalah bisnis dan hartanya.
Perusahaan Ghaffar hampir saja bangkrut karena ada pihak tak bertanggung jawab yang mengelapkan dana perusahaan dengan nominal ratusan milyar ,seluruh pegawai terpaksa ia berhentikan kecuali Dito yang memilih ikut berjuang bersama Ghaffar dan tak meninggalkan bos yang sudah berjasa dalam hidupnya, uang yang Ghaffar punya hanya tersisa lima puluh juta.. seluruh asetnya ia jual untuk melunasi hutang. Mobil,rumah,tanah,perhiasaan dan koleksi barang mahal miliknya terjual habis.
Ghaffar ingat betul bagaimana, Dirinya kembali jatuh untuk kedua kalinya, Dulu ia kesana kemari mencari pinjaman tapi tidak ada satupun yang mau memberinya pinjaman bahkan teman baiknya sekalipun yang pernah ia tolong apalagi orang tuanya ia malah dapat damprat habis-habisan. Yah begitulah orang ada uang ada bahagia. Semua orang tak percaya padanya karena tidak mungkin Ghaffar bisa mengembalikan kejayaan perusahaan kembali.
Padahal Ghaffar memiliki prinsip hutang akan tetap ia bayar sekalipun pada keluarga nya jika seandainya ia meninggal Ghaffar akan meninggalkan wasiat agar hutang bisa dilunasi oleh keluarganya.
Mereka bertiga berjuang mati-matian agar bisa bertahan. Hingga di hari yang berat bagi Ghaffar setelah berdiskusi panjang dengan Dito. Ghaffar membawa pulang Chayra ke rumah orang tuanya.
"Mas, kita ngapain ke rumah orang tuaku ?"
"........"Ghaffar mengenggam tangan Chayra erat mata berkaca-kaca.
Ghaffar membelai dengan lembut jilbab hijau muda yang dikenakan Chayra. "Chayra sayang, Mas mau kembalikan kamu ke rumah orang tua kamu "
Air mata Chayra lolos seketika ia melepaskan dengan kasar tangan Ghaffar, "Jangan bilang, Mas mau cerain aku !" ucapnya dengan sesikit membentak.
Ghaffar mengelengkan kepala. "Enggak sayang bukan seperti itu. Mas cuman mau kamu hidup enak dan bahagia, Mas ga mau kamu makan nasi sama mie melulu, Mas tau kamu sering makan sama kecap asin kamu mengorbankan diri kamu supaya mas bisa makan. Mas ga mau kamu hidup susah sayang. Kalau keadaan ekonomi membaik mas kn jemput kamu. "
"Tidak, aku tidak mau "Chayra menolak sembari menangis
"Sayang, tolong menurutlah ini yang terbaik buat kamu "
__ADS_1
"Ayok kita temui ayahmu. "
Saat Ghaffar hendak membuka pintu mobil Chayra langsung menahan tanga Ghaffar. "Kalau kamu pulangkan aku ke rumah ini. Kamu akan dengar kematian aku besok "
"CHAYRA !" Ghaffar memukul stir mobil milik Dito.
"Jaga ucapan kamu Chayra !"
"Ya buat apa aku hidup. Kamu pikir dengan mengembalikan aku kesini hidupku bakal bahagia apa. Yang ada aku di sindir dan di jahatin disini. Nama kamu jelek aku pun juga jelek. Apa selama ini aku ngeluh makan mie, telur ama kecap asin enggak kan ! Aku lebih memilih makan seperti itu daripada aku makan ayam,daging,ikan di dalam sana tapi aku di caci maki karena punya suami miskin "
"Mas, kamu memang melakukan hal yang terbaik untuk wanita yang kamu cintai. Tapi bukan seperti ini mas. Kita sudah menikah kita harus berjuang bersama-sama. Kamu bukan anak lajang yang mencari jati diri dan memikirkan masa depan mu sendiri. Sekarang ada aku. Kamu menikahiku.. ini rumah tangga kita, pernikahan kita. Semua hal baik dan tidak baik itu jadi milik kita orang lain ga perlu tau termasuk orang tau kamu dan aku. "
"Pokoknya, Aku akan ikut kemana pun kamu pergi. Sekarang kamu ga sendiri ada aku dan tolong jangan pikirkan yang terbaik untukku tapi yang terbaik untuk kita. Kita pasti bisa mas melalui ini semua "
Dito yang duduk di belakang mengusap pundak Ghaffar dikala keduanya melihat Chayra yang berada di toko emas sedang menjual semua perhiasaan yang di selalu di hadiahkan Ghaffar untuknya. Untuk sebagai bukti nyata cintanya.
Ini adalah satu-satunya harta yang tersisa bagi mereka bertiga yang berjuang bangkit tanpa bantuan orang lain. Penjaga toko yang tengah menimbang emas itu tengah mengikuti jumlah uang yang akan ia berikan pada penjualnya.
"Aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbananmu Ra. Aku janji akan membelikanmu makanan enak dan toko perhiasaan untukmu "
Jika di ingat-ingat kenangan pahit itu ia sering kali meneteskan air mata pernikahan mereka sudah berjalan lima tahun bahkan sebentar lagi enam tahun tapi perjalanan yang mereka hadapi luar biasa.
Ghaffar tak menyangka di balik kesuksesan nya sekarang ada istri dan Allah yang mendukung nya. Usaha dan kerja kerasnya bahkan lebih baik daripada yang sebelumnya.
Chayra saat itu masih belia, masih sangat muda. Padahal dia bisa mencari pria lain yang jauh lebih kaya daripada Ghaffar namun perempuan itu menolak dan mau ikut hidup susah bersama nya juga Dito.
Mereka harus tinggal bertiga di apartemen yang kecil karena rumah milik Ghaffar terpaksa harus di gadaikan.
Aneh rasanya, saat mengetahui orang yang tak pernah kamu duga sebelumnya mau menemani mu dalam suk dan duka sedangkan orang yang kamu anggap berati memilih untuk menunggu kamu sukses saja.
Axel memandangi sebuah foto polaroid wajah perempuan cantik yang tersenyum ke arah kamera sambil mengayunkan tangan membentuk ✌🏻✌🏻
"Chayra, aku merindukanmu "
__ADS_1