Berbagi Ranjang

Berbagi Ranjang
Bab 1. Rama Mahardika


__ADS_3

Seorang sedang duduk di belakang meja panjang, di hadapannya terdapat laptop yang menampilkan grafik pemasaran.


Grafik di hadapannya sudah seperti detak jantung pasien sekarat, naik sedikit dan terjun bebas sampai ke dasar.


Jangan tanya bagaimana amarah orang yang saat ini berdiri di depan layar, semua orang hanya mampu menundukkan kepala tanpa berani melirik kanan-kiri.


"Aku tak mau tau, bulan depan harus ada peningkatan. Kalau tidak ... gaji kalian aku potong!" ucap Rama sambil membanting pintu.


Suara pintu yang di banting menggema di seluruh ruangan, setelah kepergian Rama barulah semua karyawan berani mendongak pandangannya.


"Astaga, serem banget Pak Boss kalau marah." keluh salah satu karyawan.


Sedangkan di sisi lain seorang sedang melangkah dengan amarah yang meledak masuk ke ruangan.


Api yang berkobar di dadanya seakan di siram oleh bensin setelah melihat seorang wanita cantik yang duduk manis di hadapannya.


Sepertinya dia sudah menunggu begitu lama disana, melihat matanya yang berbinar melihat kedatangan Rama.


"Mas, aku bawa makan siang buat kamu. Aku ..." ucap Melati menyambut kedatangan suaminya, Rama Mahardika.


Brakk ...


Rama segera membuang kotak makan yang ada di meja, dengan penuh amarah dia menjepit rahang Melati dengan jemari besarnya.


"Sudah aku bilang kan, jangan datang ke kantor kalau di rasa tidak penting!" teriak Rama.

__ADS_1


Melati tak bersuara, matanya memanas dan mengalir buliran air bening di ujung matanya.


Melihat ini Rama segera membuang rahang Melati dan berbalik badan, dia memijat keningnya. Sungguh dia tidak bermaksud demikian, dirinya hanya tak mampu menahan emosinya yang saat ini meledak.


Melati mencoba menghentikan tangisnya dan menghapus air mata yang sudah meleleh kian deras.


Seorang pria dengan postur tubuh tegap dengan rambut ikal masuk ke dalam ruangan, dia melempar senyum teramah nya ke arah Melati.


"Tuan Rama sedang sibuk Nyonya, saya antar ke luar ..." ucap Vicky penuh hormat.


Tak ada pilihan lain, Melati segera menyambar tasnya dan melangkah mengikuti Vicky. Mereka segera meninggalkan Rama agar memiliki sedikit ruang untuk berpikir.


Mereka masuk ke dalam lift, tampak Melati yang masih mencoba menahan isaknya. Ingin sekali Vicky memeluk dan menenangkannya, sayangnya dia tidak cukup berani untuk itu.


"Aku yakin dia akan berubah," sahut Melati.


"Sampai kapan? Sampai kamu mati di tangannya?" Vicky mulai gemas dengan pemikiran Melati yang selalu sama.


Apakah dia tidak mencintai dirinya? Sehingga dengan senang hati mengizinkan Rama menyiksa tubuh mungilnya setiap saat.


Bahkan Vicky jamin kalau banyak memar di balik kain yang membalut tubuh Melati saat ini,


"Kalau kau mencintaiku, biarkan kami hidup damai." ucap Melati dengan suara dingin.


"Apa damai? Kehidupan seperti ini kau bilang damai. Sadar Mel ... dia hanya menyiksamu selama ini," ucap Vicky mencengkram pundak Melati, dan segera di tepis olehnya.

__ADS_1


"Mel aku mohon, aku bisa diam saat kamu menikah dengan Rama, sahabatku. Tapi aku nggak terima kalau kamu begini terus Mel ..." Vicky menatap Melati sedih.


"Aku baik-baik saja, dan ingat aku nyonya di perusahaan ini. Tolong jaga batasanmu." ucap Melati mengakhiri perdebatan ini.


Di saat yang bersamaan pintu lift terbuka, mereka keluar dan bersikap layaknya atasan dan bawahan. Vicky kembali bersikap formal walau matanya masih menyiratkan kepedihan.


Melati memberi salam dan melangkah meninggalkan Vicky yang masih berdiri di ambang pintu kantor, matanya melihat nanar ke arah Melati yang sudah naik ke mobil pribadinya.


Vicky membuka pintu ruangan atasannya, masih ada Rama yang duduk di depan laptop dengan memejamkan mata, jemarinya memijat pangkal hidung.


"Dia sudah pulang?" tanya Rama dingin.


"Sudah." jawab Vicky singkat.


"Bawa itu keluar, " ucap Rama menatap tas bekal yang berada di mejanya.


"Setidaknya kau harus menghargai usaha istrimu Ram, dia sudah bekerja keras." ucap Vicky duduk bersandar di kursi dengan santai.


"Bisakah kita konsentrasi, dan tidak membahas masalah bekal?" ucap Rama mulai menatap Laptop dan memainkan jemarinya.


****


Di sisi lain, seorang wanita sedang duduk di dalam mobil. Di ujung matanya mulai mengalir aliran air bening.


"Aku yakin, saat itu akan tiba. Aku akan menunggumu Mas, walaupun begitu perih." ucap Melati lirih.

__ADS_1


__ADS_2