Berbagi Ranjang

Berbagi Ranjang
Bab 3. Rasa terpendam


__ADS_3

Vicky memilih untuk pergi ke kantor dapur, ucapan Rama membuat tenggorokannya langsung mengering seketika.


Memang tak menampik kenyataan kalau dirinya masih mengharapkan Melati, bagi Vicky dia adalah bidadari nyata.


Ketulusan dan sikap sabarnya membuat dirinya sempurna, sayangnya dia lebih memilih Rama. Pria yang bahkan tempramen dan sulit untuk mengungkapkan perasaannya sendiri.


Dia terlalu kaku, entah mengapa Melati masih mempertahankan hubungan yang jauh dari kata bahagia ini.


"Mas Vicky, kok kesini? Bukannya di ruangan Pak Rama ada kulkas ya ..." sapa Donna karyawan ganjen yang selalu menggodanya.


"Lagi kehabisan," jawab Vicky melangkah pergi.


****


Jam menunjukkan pukul 12 siang, Mala dan Melati bergegas untuk pulang. Namun langkah mereka terhenti saat Bu Sulis, Guru Mala memanggil mereka.


"Mala, Bu Guru pinjem Bunda dulu yaa ... Mala main di depan sana sebentar," punya Bu Sulis dengan lembut.


"Oke Bu." jawab Mala yang segera berhamburan menuju play ground sekolah.


"Maaf ya Bunda, ada sesuatu yang harus saya sampaikan." ucap Bu Sulis dengan wajah sedih.


"Ada apa ya Bu?" tanya Melati menampakkan wajah cemasnya.


"Belakangan ini Mala sering tidak konsen belajar, saat di beri tugas dia sering melamun. Maaf sebelumnya, apa ada masalah belakangan ini? Maaf ya Bunda ... Mala adalah anak yang cerda, sayang sekali bila dia tidak konsen belajar," Bu Sulis menjelaskan dengan wajah bimbang.

__ADS_1


Pasalnya, setiap rumah tangga pasti ada saja masalah. Dan dirinya sebenarnya tidak berhak ikut campur. Tapi melihat perubahan drastis yang di alami Mala membuatnya cukup khawatir.


Melati tersenyum teduh dan meraih jemari Bu Sulis, dia tau saat ini guru favorit Mala ini sedang gugup.


"Nggak papa Bu, jangan nggak enak seperti ini. Belakangan ini memang Mala sedikit rewel karena Papanya kurang ada waktu luang," dusta Melati.


Mungkin hanya itu yang dapat dia sampaikan, dia tak mungkin bercerita kalau rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja. Sialnya Mala sangat peka dan mengetahui hal ini.


Bu Sulis melempar senyum teduh, dia sangat lega Melati tidak mencemoohnya.


"Tolong bilang sama Papanya Mala ya Bu, kasihan Mala," ucap Bu Sulis.


"Baik Bu, akan saya bereskan masalah ini. Maaf, saya pamit dulu. Assalamualaikum." ucap Melati melangkah menjauh.


Mala berhamburan memeluk Melati dan melambaikan tangan ke arah Bu Sulis. Jika di lihat memang Mala masih ceria, tapi tidak saat pelajaran di mulai.


Usaha ini sudah dia rintis sebelum menikah dengan Rama, untung saja Rama masih mengizinkannya untuk menjalankan resto ini. Walaupun kadang ada banyak sekali drama.


Sesuai kesepakatan yang Melati buat dengan Rama, di boleh menjalankan restonya tanpa menganggu tugasnya menjadi seorang istri dan ibu.


Melati hanya turun untuk mengambil berkas laporan keuangan dan barang kuat masuk untuk di cek nanti malam, setelah itu dia melanjutkan tujuan terakhirnya untuk pulang ke rumah.


Sesekali Melati melempar pandangan ke Mala, tampak wajah sedih dengan tatapan kosong. Mungkin ini yang di maksud oleh Bu Sulis tadi.


"Mala kok bengong sih?" tanya Melati sambil menyetir.

__ADS_1


"Bunda berantem lagi ya sama Papa?" tanya Mala polos.


Mungkin karena dia mendengar cek-cok nya dengan Rama semalam,


"Nggak Bunda nggak pernah berantem sama Papa kok, emang kenapa?" tanya Melati mencoba mengorek informasi, sampai mana Mala mendengar pertengkaran mereka.


"Tapi Bunda sama Papa nggak pernah kiss lagi setiap pagi," ucap Mala polos sambil memainkan jemari kecilnya.


"Papa kiss Bunda kok waktu di kamar, Papa masih malu sama Mala." dusta Melati, dan semoga saja putrinya percaya.


"Bohong, biasanya Papa kiss Bunda waktu mau berangkat kerja." sahut Mala masih tak mau kalah.


Melati terdiam sesaat, harusnya dia sadar kalau putrinya anak yang cerdas. Penting baginya untuk memberi alasan yang logis.


"Sekarang Mala mau apa dong, buat percaya sama Bunda?" ucap Melati mencoba membujuk Mala.


"Ke kantor Papa yuk! Sebentar aja, please ..." ucap Mala dengan wajah memelas dan tangan yang menangkup.


Sulit bagi Melati untuk menolak permintaan Mala, terlebih dengan ekspresi yang seperti ini. Tapi hal ini sangat tidak mungkin, beberapa waktu lalu dia sudah datang ke kantor dan mendapatkan perlakuan buruk.


Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Rama akan memperlakukan Mala nanti, di tambah kondisi kantor yang tidak kondusif.


"Papa masih meeting Sayang, kita nggak mungkin kesana ..." ucap Melati memberi alasan.


"Hallo Papa ... Aku sama Bunda mau kesana, Papa ada di kantor nggak. Dari tadi Bunda nggak mau nganterin aku," perotes Mala pada ponsel yang menempel di telinganya.

__ADS_1


Entah kapan Mala menghubungi Rama, jantung Melati mulai berdegup dan mencoba mencari alasan lain.


"Boleh ... Yes!!!"


__ADS_2