
Pagi ini seperti biasanya, Rama dan Melati duduk di meja makan bersama dengan Mala yang masih menampakkan wajah kusutnya.
Semalaman Rama sampai harus tidur di kamar Mala hanya untuk meminta maaf padanya, sayangnya Mala hanya menangis dan tak mau mengatakan satu kata pun.
Kenapa semua wanita sangat sensitif sekali, bahkan Rama belum mengucapkan rencana liburannya.
"Mala masih marah sama Papa?" tanya Rama menatap wajah cantik putrinya.
Mala tak bergeming, dia hanya memainkan sendok yang berada di hadapannya. Nafsu makannya mendadak hilang melihat seporsi nasi goreng buatan Bundanya.
Padahal ini adalah makanan favoritnya, entah kemana selera makannya pergi.
"Papa minta Maaf yaa Mala, weekend ini kita ke Disneyland. Gimana?" ucap Rama dengan senyum mengembang.
Masih tak ada sahutan, Mala masih sibuk mengunyah nasi goreng. Berusaha mengatasi mood buruknya, bagaimanapun dia harus makan, dia tak mau sakit perut lagi.
"Papa janji, Papa ikut ke sana. Papa nggak akan bohong lagi, Papa pasti minta cuti ke Bos." ucap Rama masih mencoba.
Tetap tak bergeming, sakit hati yang di rasa Mala sangat dalam. Dia sampai tak bisa pura-pura tersenyum.
Entah berapa kebohongan yang Papanya berikan, yang jelas saat ini Mala sudah terbiasa menerima janji manis yang tak mungkin terwujud.
Melati hanya mampu bungkam, dia memberi waktu untuk Rama memulihkan mood Mala. Toh apapun yang dia ucapkan juga akan di pandang sebelah mata oleh putrinya itu, sama halnya seperti di mobil kemarin.
Rama melempar pandangan ke Melati, mencoba meminta tolong untuk ikut membantu nya. Namun Melati hanya mengangkat pundaknya, dia menggeleng kepalanya lirih.
Jangankan Rama, bahkan dirinya sudah angkat tangan dengan mood Mala yang tak bersemangat ini.
"Sayang, kalau kau sudah sarapannya kita bisa berangkat sekolah sekarang." ucap Melati setelah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 6.45
Mala tak bergeming, dia bangkit dari kursi dan melangkah ke ruang tamu untuk menggendong tas sekolahnya dan melangkah keluar rumah.
Melati menghembuskan napas panjang, dia tidak tau harus melakukan usaha apa lagi untuk merubah sikap putrinya itu.
Dia beranjak dan mengikuti langkah Mala, tetapi Rama segera meraih tangan Melati.
"Sayang, Mala kenapa?" tanya Rama bingung.
"Coba tanya kepada dirimu sendiri Mas, aku aja bingung, ini masih usaha." jawab Melati memasang wajah cemas.
Melati melepas genggaman tangan Rama dan mencium punggung tangan satunya, dia berpamitan untuk mengantar putrinya ke sekolah.
__ADS_1
Cup ...
"Hati-hati di jalan ya Sayang," ucap Rama manis setelah mengecup lembut bibir merona Melati.
Melati berlalu dan segera naik ke dalam mobil, alisnya semakin berkerut ketika melihat Mala yang sudah duduk di kursi belakang.
Biasanya dia suka duduk di kursi depan, sepertinya benar. Mala saat ini mengibarkan bendera perang kepadanya.
Melati naik ke dalam mobil dan melaju perlahan. Sesekali dia melirik ke kursi belakang lewat kaca spion yang berada di atasnya.
"Mala masih marah sama Papa dan Bunda?" tanya Melati.
"Enggak," sahut Mala singkat.
"Kok nggak duduk depan?" Melati berusaha mencairkan suasana.
"Pengen di belakang aja, di depan silau." jawab Mala alakadarnya.
"Jadi gimana dong? Setuju nggak liburan ke Disneyland," tanya Melati dengan wajah riang.
"Terserah Papa dan Bunda saja Mala ngikut," jawaban pasrah Mala membuat Melati bungkam.
Memang sangat sulit melebur amarah orang yang sudah bilang 'Terserah' semuanya akan terlihat salah di hadapannya.
Di tempat yang berbeda ada seorang yang baru saja bangun, dia mengernyitkan matanya dan memandang sekitar.
"Astaga, aku dimana?" ucapnya lirih sambil mengucek matanya.
Dia membuka selimut dan bersandar di ranjang, matanya semakin terbelalak ketika melihat tubuhnya sudah polos. Tak ada sehelai benang pun yang menempel pada dada bidangnya.
Belum selesai dia terkejut, seorang wanita .melangkah keluar kamar mandi. Dia membalut tubuh polos dan basah kuyup nya dengan sehelai handuk.
Dia melempar senyum ke arah Vicky dan menggelengkan kepalanya lirih.
"Siapa kau? Kenapa kita ada disini? Apa kita ..." Vicky mencoba menerka sesuatu yang mungkin terjadi di antara mereka.
Wanita tersebut hanya terbahak mendengar celoteh pria yang masih duduk manis di ranjang dengan wajah bingungnya.
"Aku akui kau tampan dan kekar, sayang sekali itu sangat jauh dari ekspektasi ku." ucap Wanita tersebut mengibaskan rambut basahnya dan meraih hairdryer di meja.
Dengan santainya dia duduk di ranjang dan mengeringkan rambutnya, Vicky segera bangkit. Dia tidak mau akan ada kejadian yang tidak di inginkan bila mereka terus bersama.
__ADS_1
"Mau kemana kau?" tanya Wanita tersebut.
"Pulang," sahut Vicky singkat.
"Kau mau pulang dengan telanjang bulat seperti ini? Sangat menggoda CK ... Ck ..." Wanita itu tersenyum kecil dan berdecak.
"Di-dimana bajuku?" Vicky mulai frustasi.
"Aku mencucinya, pelayan hotel akan segera datang kemari mengantarnya. Jadi duduklah dengan tenang disini, aku tidak akan mengigit." kekeh wanita itu.
"Argh, aku harus pergi." keluh Vicky yang mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa kau tidak bisa tenang sedikit? Haruskah aku menenangkan mu," wanita tersebut mulai berbalik badan dan naik ke ranjang.
"Stop! Berhenti disana, jangan mendekat." perintah Vicky tegas.
Mata Vicky menyusuri tiap sudut kamar, mencari suatu benda yang bisa menyelamatkan nya sekarang.
Namun dia tak kunjung menemukannya, dia melilit tubuh bawahnya dengan selimut tebal. Dengan susah payah dia melangkah mencari di mana keberadaan benda tersebut.
Melihat ini Wanita tersebut tak mampu menahan tawanya, seketika tawanya pecah dan menggema di setiap sudut ruangan.
Tingkah pria ini sudah seperti anak gadis yang masih sangat polos dan belum terjamah.
"Kau sangat manis sekali, aku jadi lapar dan ingin makan sekarang juga." ucap wanita tersebut bangkit dari ranjang dan melangkah mendekati Vicky.
"Kau mau apa? Diam di sana!" ucap Vicky mulai panik.
"Kau kenapa? bahkan aku sudah melihat pusakamu yang amat menantang itu, sayangnya dia tidak mau bangun saat ku sentuh." ucap Wanita itu memamerkan senyum nakal.
Di saat yang bersamaan pintu kamar hotel di ketuk, Vicky segera berlari dan membuka pintu. Tampak seorang pelayan hotel yang datang membawa sarapan.
"Dimana bajuku?" tanya Vicky terkejut, karena yang di bawa pelayan tersebut sebuah meja yang berisi sarapan.
"Maaf Tuan, sebentar lagi akan kami antar." ucap pelayan tersebut dengan sopan.
Wanita itu masih terkekeh, baru kali ini dia bertemu seorang pria yang amat polos dan lucu. Dia segera membuka dompet dan mengeluarkan selembar uang berwarna merah.
"Ini untukmu, santai saja masalah pakaiannya. Kami masih ingin menuntaskan satu ronde lagi." wanita tersebut menahan tawa.
"Apa maksudmu?" ucap Vicky terbelalak.
__ADS_1
Pelayanan tersebut mengulum senyum dan segera pergi dari kamar. Dia tak mau mengganggu tamu dengan keberadaan nya.