Berbagi Ranjang

Berbagi Ranjang
Bab 6. Andai Dia Papaku


__ADS_3

Melati melajukan mobilnya menuju mal tempat Vicky dan Mala berada, kalau mengapa mereka dekat, jawabannya sudah pasti karena mereka sudah kenal dari dulu.


Vicky sering ke rumah dengan alasan bisnis, walau itu bukan alasan utamanya. Dia terlalu khawatir tentang keadaanku. Menikahi Rama adalah keputusan terbesarku.


Pernikahanku dengan rama sama saja membuka gerbang kesengsaraan untukku, Mengapa? Simpel aja, karena rama merupakan orang yang sangat tempramen.


Tanganya bisa melayang dan mendarat kapan dan dimana saja, dia tak pernah bisa mengontrol emosinya. Dan yang paling menyebalkan adalah ... Melati selalu memaafkannya dengan alasan yang sama, yaitu Mala.


Mobil Melati sudah terparkir rapi di parkiran mobil, Melati segera mengayunkan kakinya menuju time zone, tempat favorit Mala.


Setelah sampai di arena time zone mata Melati menyusuri tiap permainan yang ada, matanya terhenti saat melihat putri kesayangannya bermain bom-bom car di temani bule tampan, Vicky.


Mereka tampak akrab, bahkan Mala lebih akrab dengan Vicky dari pada Papanya sendiri, Rama.


Melati melangkah mendekati pagar pembatas, melihat sang Bunda sudah datang, Mala melambaikan tangannya.


"Bunda ..." teriak Mala dengan riang.


Senyumnya sudah terukir kembali di wajah cantiknya, padahal beberapa menit yang lalu dia sangat sedih.


Melati membalas lambaian Mala dan melempar senyum termanisnya ...


Brukkk ...


Vicky kurang fokus dan menyebabkan mobil yang di kendarainya menabrak mobil yang berada di hadapannya.


"Gimana sih Om," perotes Mala dengan memanyunkan bibir imutnya.


"Maaf Om nggak konsen, udah yuk ... Om laper mau makan, kita makan dulu gimana?" ucap Vicky memberi saran.


Untungnya perut mala juga lapar sehingga dia menyetujui saran vicky, mereka melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil.


"Bunda, Yu makan dulu ke CFC .." ajak Mala sambil berhamburan menuju Melati.


"Tapi kita harus pulang Mala, sudah siang .. Kan kamu harus les," ucap Melati menolak halus.


Sebenarnya masih ada waktu kosong 2 jam. Dia tak mau terlalu dekat dengan Vicky, bagaimanapun dia pernah ada di dalam hatinya

__ADS_1


Bukan GR, tetapi kita tak tau sedalam apa hati orang bukan. Melati hanya tak mau rumah tangganya akan menjadi lebih runyam.


Memikirkan Rama yang holic dan tempramen salah paham membuatnya pusing, dia tak mau rama akan salah paham lebih lanjut.


Meskipun Rama tau kisah mereka dulu, dan dia tak pernah keberatan saat Melai bersama dengan Vicky. Tetap saja itu tidak etis.


"Yasudah, Om makan sendiri aja, lagian juga hampir sore. Nanti kalau Om nggak balik ke kantor kasian Papa, lain kali kita makan bareng, Oke." ucap Vicky melempar pandangan ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan dan memasang wajah sedih.


Mala menatap Melati dengan tatapan sendu, di tau dimana letak kelemahan Bunda tercintanya tersebut. Akan sangat mudah baginya untuk dapat persetujuan, pikir mala.


"Sayang, Bunda kan udah bilang enggak. Kasihan Om loh, emang Mala nggak kasihan kalau sampai Om di marahi papa seperti Mala tadi?" ucap Melati memberi pengertian.


Di sekian detik wajah yang semula sendu mendadak menjadi cemberut, melihat putrinya yang sudah menyetujui ucapnya dengan berat hati, Melati segera berpamitan. Sebelum gadis kecil ini akan berubah pikiran.


"Makasih ya Vik," ucap melati melempar senyum ramah.


"Oke sama-sama, kapan-kapan kita main lagi," ucap Vicky berjongkok dang menghujani Mala dengan kecupan gemas.


"dada Om, hati-hati di jalan ya ..." ucap Mala melambaikan tangan.


Melati dan Mala melangkah menjauhi Vicky yang masih setia berdiri menatap kepergian keduanya.


****


Mobil Melati melaju dengan kecepatan sedang melewati jalanan ibu kota, sesekali matanya memandang gadis kecilnya yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


"Mikirin apa sih? Masih kecil juga ... Suka yaa sama Om mata biru," goa melati sambil terkekeh.


"Kenapa sih papa Mala bukan Om mata biru aja ... kan enak, baik, ganteng, nggak pernah marah-marah. Apalagi mukulin Bunda," celetuk maa dengan raut wajah tanpa dosa.


Degh ...


Jantung Melati terasa berhenti berdetak, Sepertinya Rama memang harus melakukan pendekatan dengan Mala lagi.


Kalau sampai Rama mendengar ini dia tak akan tau apa yang akan suaminya lakukan.


"Astaghfirullah, Mala nggak boleh seperti itu ... Papa Rama itu sayang banget sama Mala," sahut Melati.

__ADS_1


Sebenarnya Melati kasihan dengan Mala, dia juga tak menutup mata dengan masalah ini. Gadis kecilnya memang kekurangan kasih sayang oleh pria dengan sebutan Papa.


Mala tak bergeming, dia tau apa yang dikatakan Bundanya ada benarnya. Papanya memang selalu menuruti semua keinginannya. Apapun itu. Kecuali hanya waktu luang untuk bermain.


Malah kadang weekend saja masih membahas masalah pekerjaan, jadinya mereka tak dapat menikmati waktu quality time bersama keluarga.


"Gimana kalau liburan sekolah ini kita ke Malang?" ucap Melati dengan semangat.


Mala tak bergeming, matanya masih menatap keluar jendela. Menatap pepohonan yang menjulang menggapai langit biru.


Sepertinya Mala tidak tertarik, dia sudah hafal dengan kebiasaan Bundanya. Dia selalu merayu mala saat dirinya sedih seperti ini, dan hasil akhirnya ... Mala dan Melati yg pergi liburan sendiri, tanpa kehadiran Rama.


"Nggak usah Bunda, besok Mala mau camping aja sama Om mata biru," ucap Mala degan suara jengah.


Yaa ... Selam ini hanya Vicky yang tak pernah mengecewakan Mala. Terutama saat merealisasikan liburan, mereka seolah satu server dan tak pernah bentrok.


:"Om mata biru mulu ... Memang Mala nggak sayang sama Bunda," perotes Melati dengan wajah sedih.


Seakan tau kalau Melati hanya akting belaka, Mala melempar pandangan ke arahnya.


"Bunda mau ikutan camping sama Om mata biru tanpa Papa," tanya Mala lekat menatap Melati.


Pandangan Mala sangat tajam, seolah menembus jantung dan tulangnya. Bibir Melati mengatup rapat, sejujurnya dia ingin sekali bilang tidak tetapi ...


"Kan ... Yang nggak sayang tuh Bunda, Bunda cuma sayang Papa," ucap Mala sewot sambil melempar pandangan.


"Mala, please ... Jangan gitu dong, kasian om Vicky kalau Mala ngerepotin terus,"


"Terserah Bunda aja deh, Mala ngikut aja. Paling juga sama aja." uap Mala pasrah.


***


Di kantor Vicky baru saja masuk ruangan. Dia merasa aura ruangan sangat berbeda. Matanya tertuju pada seorang yang sedang duduk menatap langit biru lewat dinding kaca di hadapannya.


Terlihat asap tipis yang mengitari orang tersebut,


"Gimana? Sudah puas main sama anakku atau Bundanya," celetuk pria tersebut.

__ADS_1


Langkah Vicky terhenti, dia mencoba menenangkan diri. Dirinya tak menyangka kalau makhluk di hadapannya masih mempunyai rasa cemburu setelah apa yang dia perbuat seharian ini.


"Apa kau punya kaca?"


__ADS_2