Berbagi Ranjang

Berbagi Ranjang
Bab 14. Pernikahan Status


__ADS_3

Vicky duduk di kursi, di hadapannya terbaring lemah seorang gadis cantik. Di tangannya terpasang selang infus yang mengalir setetes demi setetes.


Mata Vicky lekat menatap gadis itu, dia tak menyangka ada seorang yang lebih kacau dari pada dirinya. Pantas saja dia mau mengakhiri hidupnya.


Tak ada yang lebih menyakitkan dari pada kehilangan orang yang paling di sayang, terlebih tak alan ada waktu untuk bertemu kembali.


Mamanya tak henti-hentinya menangis ketika menceritakan kisah pilu gadis ini, Vicky tau dia sangat sengsara. Namun itu bukan alasan yang kuat untuk menerima pertunangan ini.


Bayangkan saja, mereka akan hidup untuk selamanya berdua. Menerima semua kekurangan dan kelebihan, mungkinkah itu bisa terjadi?


Hatinya masih utuh milik Melati, inilah satu alasan mengapa sampai detik ini dirinya tak pernah mempunyai pendamping.


Vicky yakin rumah tangga Melati tak akan bertahan lama dan saat itu tiba, Dirinya akan menerima Melati beserta Mala. Satu paket yang tak akan bisa di pisahkan.


Mungkin rencana ini terkesan kejam untuk Rama, tetapi mereka tidak bahagia hidup bersamanya bukan? Apa salahnya kalau Vicky hadir untuk menggeser posisi Rama.


Dirinya tau Melati tidak akan terang-terangan menjawab permohonannya, tetapi Vicky yakin wanita itu juga merasakan hal yang sama selama ini, kenyamanan satu sama lain.


Stevy membuka mata, dia melempar pandangannya ke arah Vicky yang masih menatapnya lekat.


Karena otaknya yang masih berkelana jauh, dia sampai tidak sadar kalau orang yang dia jaga telah siuman.


"Udah lihatnya?" ucap Stevi lirih.


"Udah aktingnya? Aku mau pulang." sahut Vicky yang gak mau kalah dan beranjak dari kursi.


"Tunggu!" ucap Stevi dengan susah payah.


Langkah kaki Vicky terhenti, dia membalikkan tubuh. Dengan susah payah Stevi bangun dan bersandar di kasur, sebenarnya dia ingin menolong gadis itu. Namun dia tidak mau dia salah paham.


Stevy berdecak kesal, dia tau kalau Vicky sangatlah arogan. Tetapi dia tak tau kalau dia juga pria yang tak berprikemanusiaan. Yang membiarkan seorang wanita sakit bersusah payah sendiri.


"Aku berubah pikiran," ucap Stevi lirih setelah dia sukses bersandar di kasur.


"Kau menyetujui pertunangan ini hanya karena kedua Mama kita? Apa kau tidak memiliki pria lain? Aku lebih setuju kalau kau kabur dengan kekasihmu itu." ucap Vicky tanpa dosa.


Bila memang ada pria lain, bahkan tidak usah disuruh pun dia pasti akan memilih pria lain itu. Namun ini adalah permintaan terakhir Mamanya, dan dia tidak bisa menolak ini.


"Terserah kau mau bilang apa, meskipun kau menganggap aku pelacur. Aku tak akan mundur," ucap Stevi melempar pandangan ke arah Vicky.

__ADS_1


Vicky menggelengkan kepalanya lirih, dia tak menyangka kalau gadis di hadapannya saat ini lebih keras kepala dari dirinya.


"Kau bisa membawa kekasihmu ke dalam hubungan kita, toh yang aku perlukan hanya status. Bukan cintamu." lanjut Stevy membuang pandangannya.


Dia tau ini ide yang sangat gila, bahkan lebih gila dari semua ide yang pernah di perbuat selama ini.


Vicky terbelalak, dia tak mengerti jalan pikiran Stevy. Bagaimana bisa dia menjalani hubungan serumit ini.


"Kau dan Mamaku boleh gila, tetapi tidak aku. Aku masih waras dan tak akan pernah menyetujui ini!" ucap Vicky keluar ruangan Stevy.


Pecah sudah tangis Stevi setelah kepergian Vicky, dia juga wanita biasa sama seperti wanita lainya. Air matanya juga bisa menetes deras bila hatinya terluka.


Tak ada yang bisa dia lakukan, hanya ini yang bisa menebus dosanya pada Mamanya. Bibir Stevy tak berhenti berdo'a untuk kebahagiaan Mamanya dan semoga pengorbanannya ini tak sia-sia.


"Nak kau tak apa?" tanya Elisabeth yang baru saja masuk.


"Tolong tinggalkan aku sendiri Te ..." sahut Stevy di tengah tangisnya.


Ini semua tidak mudah baginya, baru saja dia bertemu dan berkumpul dengan Mamanya. Namun begitu cepat dia meninggalkannya.


Mungkin ini adalah hukuman yang pantas baginya, akibat dia pergi meninggalkan Mamanya beberapa tahun lalu dan membiarkannya hidup sendiri.


****


Vicky melajukan mobilnya dengan kecepatan kilat. Dia tak tau harus bahagia atau sedih mendengar ucapan Stevy.


Dengan mudahnya dia bilang hanya membutuhkan status? Apa otaknya begitu tumpul sampai tak memikirkan perasaan orang, atau mungkin dia memang tak punya perasaan?


Arghh dasar gila ...


Berulang kali Vicky mengumpat dan memukul setirnya, apakah dia bisa menjaga Stevy saat dirinya mabuk? Ingatannya kembali pada wanita yang hampir saja dia tunggangi kemarin hanya karena mabuk.


Ponsel Vicky berdering kencang, dia mengurangi kecepatan dan meraih ponselnya.


"Ya ... Ada apa?" tanya Vicky dingin.


"Ada client yabg harus kita temui, jadi cobalah untuk profesional." ucap Rama dengan suara berat.


"Aku akan segera kesana," jawab Vicky mematikan ponselnya.

__ADS_1


Vicky melajukan mobilnya melewati jalanan ramai dan padat di depannya, berusaha secepat mungkin untuk segera sampai di kantor.


Matanya menatap jam yang berada di dasbornya, waktu menunjukkan pukul 17.00. Siapa client yang datang di jam istirahat seperti ini, sangat merepotkan.


Beberapa menit kemudian sampailah Vicky di kantor, hanya beberapa mobil saja yang ada di parkiran menandakan kalau sebagian besar karyawan sudan pulang.


Dia segera masuk ke kantor dan melangkah menuju lift, pintu lift tertutup sebentar lalu terbuka kembali.


Seorang wanita cantik dan anggun yang berbalut jilbab dan baju syar'i masuk bersama anak kecil berusia 5 tahunan.


"Om mata biru," sapa anak kecil tersebut dengan riang.


"Hallo princes, udah nggak nggambek lagi?" tanya Vicky memeluk tubuh mungil di depannya.


Ada banyak sekali pertanyaan yang ada di benak Melati sampai dia tak tau harus menanyakan yang mana dulu.


"Bagaimana kabarmu?" sapa Melati mengukir senyum palsu.


Vicky mendongakkan kepala dan menatap lekat paras cantik yang selalu mengisi relung hatinya.


"Buruk, sangat buruk ..." jawab Vicky dengan mata sayu.


"Om kenapa?" sahut Mala mendengar jawaban Vicky.


Sadar kalau dia salah bicara, Vicky segera menggendong Mala dan memencet tombol lift ke lantai atas.


"Om nggak papa, cuma kangen sama My Princess. " ucap Vicky mengecup pipi chubby yang merona.


"Mala juga kangen sama Om," jawab Mala memeluk tengkuk Vicky kuat.


Vicky melempar pandangan ke arah Melati, tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Keduanya membeku di dalam lift, hanya mata mereka yang saling berkomunikasi tanpa harus mengutarakan semua.


Tanpa terasa mata Melati memanas dan segera melempar pandangan ke arah lain untuk menyembunyikan air mata yang hendak menetes.


Vicky juga memalingkan wajahnya, berusaha untuk tetap biasa saja. Dia tak menyangka Melati bisa merasakan kesedihannya saat ini.


Ting ...


Pintu lift terbuka, mata keduanya terbelalak ketika melihat seorang yang sudah berdiri di depan lift.

__ADS_1


"Rama ..."


__ADS_2