
Mata Vicky terbelalak setelah mendengar ucapan Mamanya, bagaimana ini bisa terjadi. Bahkan hatinya saja masih utuh milik Melati.
Jangankan Vicky, Stevy pun juga sama. Dia tak percaya dengan apa yang dia dengar. Padahal Mamanya hanya bilang ada surat penting yang harus di antar, selebihnya itu tidak ada.
Keduanya saling bertatapan sesaat, mata mereka memancarkan amarah yang terpendam.
"Tidak, dan tidak akan pernah. Mama Vicky bisa memilih gadis mana yang akan di jadikan istri, yang jelas bukan dia," sahut Vicky kemudian beranjak dari kursi.
"tante, Mamaku tidak mengucapkan apapun sebelum aku kemari. Mungkin Tante salah paham dengan surat itu," ucap Stevy menatap lekat Elisabeth.
Elisabeth hanya tersenyum simpul, dia tau kejadian ini pasti terjadi. Pasti akan ada penolakan dari mereka, dia menghirup napas panjang dan menatap kedua anak muda di hadapannya.
"Tak perlu terburu-buru untuk menentukan pendapat. Bagaimana kalau Mama kasih waktu 365 hari untuk menumbuhkan rasa cinta di antara kalian," ucap Elisabeth enteng.
Mendengar itu langkah kaki Vicky terhenti, dia memutar badannya dan menatap lekat Mamanya. Dia benar-benar tak percaya Mamanya berkata demikian.
"Maa ... Aku bisa menerima kalau Mama suka film romantis. Tapi jangan nasip anakmu kau jadikan seperti itu, Ini kehidupan nyata dan alur tidak bisa di ubah seenaknya. Untuk kali ini Aku tidak mau, aku menolak ini." ucap Vicky tegas dan melangkah keluara rumah.
Kini di ruang makan hanya ada Elisabeth dan Stevy, sungguh ini hal yang paling gila yang pernah dia alami.
Kalau di hadapannya bukan orang asing, pasti dia sudah mengumpat berulang kali. Lagian sejak kapan Mama nya punya teman gokil ini.
Mana bisa kehidupan nyata di samakan dengan drama romantis bulan ini. Sangat menggelikan, Ibu dan anak sama saja. Sama-sama gila.
Stevy masih terdiam, otaknya mencoba mencari kata yang tepat untuk menolak ide gila ini. Dia tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan berikutnya billa jadi mantu keluarga gila ini.
Mungkin akan ada season menantu teraniaya, atau lebih tersiksa lagi dengan judul istri tersakiti.
Argh ... Pikiran Stevy berkecamuk segerang. Semua sarafnya terasa tegang. Andai dia bukan teman baik Mamanya.
"Sayang ... Kau tidak apa-apa?"tanya Elisabeth yang mulai khawatir.
"Maaf Tante, saya tidak bisa. Sebelumya saya minta maaf, ini sangat konyol bagi saya," ucap stevy mencoba menyusun kalimat agar tidak melukai perasaan wanita paruh baya di hadapannya.
Bagaimanapun dia adalah orang yang lebih tua darinya, setidaknya dia harus menerapkan ajaran Mamanya selama ini.
Elisabeth memulai acara makannya, seolah tak mendengarkan keluh kesah stevy. Jauh di dalam lubuk hatinya sebenarnya juga tak begitu mengharapkan perjodohan ini.
__ADS_1
Begitu banyak hal yang harus di pertimbangkan, dia sudah berteman lama dengan Laurent. Akan sangat di sayangkan bila hubungan baik yang sudah terjalin harus kandas begitu saja.
Dia tak menutup mata, sesuatu yang di paksakan tidak di anjurkan. Mungkin mereka bisa bertahan di dalam pernikahan, tetapi itu tak menjamin kebahagiaan.
Akan banyak hati yang tersakiti bila pernikahan ini terjadi. Namun tak ada jalan lain.
"Tante mendengarkan aku kan?" tanya Stevy yang mulai emosi karena ucapannya tidak di respon.
Elisabeth mengentikan sendok yang hendak masuk ke mulutnya, dia menetap Stevi yang mulai emosi.
"Kau mau tau apa isi surat dari Mamamu?" tanya Elisabeth dengan mata berkaca.
Stevy terdiam, sejujurnya dia sangat ingin membaca. Dia sudah berusaha keras menanyakan ke Mamanya apa isi surat itu, tetapi mamanya selalu menolak.
Dia bilang, Stevy akan tau nanti. Namun dia tak menyangka kabar yang di dapat adalah kabar gila.
"Tentang perjodohan yang tidak masuk akal ini?" tebak Stevi.
"Bukan hanya itu, ada sesuatu hal yang harus kau tau. Sebenarnya aku sudah berjanji pada laurent untuk tidak mengatakan hal ini padamu, Tetapi kau harus tau agar tidak salah paham." ucap Elisabeth tersenyum kecil.
"Kita makan malam dulu, aku berjanji akan memberikan surat itu padamu." lanjut Elisabeth.
Tak ada obrolan, hanya ada dentingan sendok dan piring yang terdengar. Keduanya sibuk dengan pikiran yang memenuhi otaknya masing-masing.
Elisabeth yakin nasip anak muda yang di depannya tidaklah biak-baik saja setelah membaca surat itu, semoga mentalnya sekuat Mamanya.
****
Di tempat yang berbeda, seorang pria berparas tampan dengan mata indahnya berwarna biru sedang menikmati segelas minuman berwarna coklat.
Otaknya terus berpikir keras, berusaha mengingat apa kesalahan yang perah dia lakukan. Mengapa takdir begitu tega mempermainkan nya.
Di mulai dari kehilangan cinta terindahnya dan kini malah harus di jodohkan dengan orang asing.
Dia belum benar-benar sembuh dengan lukanya, setiap hari dia sudah sangat tersiksa melihat Melati begitu mencintai Rama.
"Mau menari denganku tampan?" tanya seorang wanita sexy dengan pakaian serba minim.
__ADS_1
Vicky tak mempedulikan wanita yang begitu menggoda di hadapannya, otot otaknya masih tegang saat ini.
Wanita itu meraih wajah Vicky dan mengarahkan ke wajahnya, dia mengecup lembut bibir pria bermata biru yang begitu menggoda.
"Kau bisa berbagi masalah denganku tampan, mari kita bersenang-senang," bisik wanita tersebut.
Saat ini alkohol sudah membuatnya mabuk, matanya mulai berkunang-kunang.
"Melati?" bisik Vicky.
Saat ini dia melihat Melati ada di hadapannya, matanya tiba-tiba berbinar, dia tak menyangka di saat seperti ini wanita yang amat dia cintai datang untuk memberi dukungan padanya.
Seperti sebelumnya, dia selalu datang di saat Vicky sedang terpuruk. Dirinya mengikuti kemana wanita yang ada di depannya saat ini melangkah.
Tanpa dia sadari dirinya dan wanita itu sudah masuk di dalam sebuah kamar, yang Vicky lihat hanyalah wanita yang sangat dia cintai di hadapannya yang sedang tersenyum manis.
"Sangat cantik, aku mohon jangan pergi lagi Mel ... Aku sangat mencintaimu, tinggalkan Rama." ucap Vicky parau.
Wanita itu hanya tersenyum simpul, dia mengecup kembali bibir Vicky dengan mesra.
"Aku menginginkanmu malam ini," bisik wanita tersebut di telinga Vicky.
Seketika Vicky tersadar, dia segera bangkit dan mengucek matanya.
"Siapa kau, berani-beraninya menyentuhku." ucap Vicky yang segera keluar dari kamar.
Brukk ...
"Dasar menyusahkan!" keluh wanita yang baru saja di tolak Vicky dengan terang-terangan.
****
Saat ini Stevy sudah duduk di kamarnya, Elisabeth memberinya kamar tamu untuk istirahat.
Di hadapannya terdapat sebuah amplop yang berisi jawaban yang memenuhi otaknya saat ini. Namun perkataan Elisabeth sebelumnya membuat dia mengurungkan niatnya untuk membuka amplop tersebut.
Akan tetapi saat ini, rasa penasaran lebih besar dari rasa takutnya. Sehingga dia memberanikan diri untuk membuka isi amplop tersebut.
__ADS_1
Barusan kata dia baca satu persatu dengan seksama, hingga ada sebuah kalimat yang membuat jantungnya berhenti berdetak.
"Hidupku tak akan lama"