
Melati duduk di ruangannya, dari luar terdengar suara bising pelanggan restonya. Bisa di bilang rumah makan yang dia kelola cukup hits di ibu kota.
Biasanya di saat jam makan siang dirinya juga ikut melayani para pelanggan, tetapi kali ini tidak. Berulang kali dia memijat keningnya, memikirkan sikap putrinya.
Bagi sebagian orang mungkin Melati terbilang seorang ibu yang protektif, semua itu bukan tanpa alasan.
Terakhir kali Mala harus di rawat sepekan di rumah sakit karena tipes yang menyerangnya, tetapi itu semua tidak murni karena sakit.
Sebelum itu Mala mengetahui pertengkaran Melati dan Rama yang membuat dirinya syok dan sedih. Saat itu dengan mudahnya Rama melayangkan tamparan ke wajah cantik Melati hanya karena dia pulang terlambat.
Seperti itulah Rama, dia tidak memberikan ruang untuk menjelaskan. Yang dia tau hanyalah inti permasalahan dan langsung menghukumnya.
Komitmen tetaplah aturan yang harus di patuhi, bukan untuk di langgar. Rama mengizinkan Melati mengembangkan usahanya dengan syarat tidak menelantarkan tugas seorang Ibu dan istri.
Sejak saat itu Mala menjadi anak yang lebih pendiam dan cenderung memendam masalah, dia tak pernah sedikitpun bercerita tentang kegiatannya di sekolah.
Padahal Melati rindu dengan ocehan Mala. Namun itu semua hanya menjadi kenangan yang entah kapan bisa terulang kembali.
"Bu, ada barang datang." ucap Seorang karyawan yang masuk keruangan Melati.
"Tolong kamu cek dulu yaa, nanti saya menyusul." jawab Melati yang sedikit terkejut.
"Baik Bu." jawab Karyawan tersebut kemudian menutup pintu kembali.
Melati beranjak dari kursi kerjanya, dia melangkah menuju kamar mandi yang tak jau dari tempat duduk.
Melati membasuh mukanya dan mengatur napasnya, berulang kali dia mengucapkan kalimat positif dan semangat untuk dirinya sendiri.
Dirinya tau mengeluh tak akan dapat menyelesaikan masalah, dan orang yang berperan penting dalam penyelesaiannya adalah dirinya sendiri.
Setelah dirinya tenang, dia melangkah menuju gudang. Tempat beberapa barang datang di taruh, tetapi langkah kakinya terhenti saat telinganya mendengar dering ponsel berbunyi.
Segera dia ambil benda pipih yang tergeletak di meja, dan menggeser tombol merah ke atas.
__ADS_1
"Ya Mas?" sapa Melati.
Sebenarnya Melati sedikit ragu, tidak biasanya Rama telpon di jam padat seperti ini.
"Assalamualaikum Sayang," jawab Rama dengan suara riang.
Apa ... Ceria. Sejak kapan Rama memiliki ekspresi seperti ini di jam sakral, biasanya dia akan ketus saat dirinya menelpon di jam seperti ini.
"Ceria banget Mas?" jawab Melati yang cukup penasaran.
"Iya dong, ada kabar yang perlu kamu tau," ucap Rama antusias.
"Oiya ...kau dapat projek baru, menang thunder, atau ..." Melati masih menerka apa yang sebenarnya terjadi.
"Vicky akan menikah," sahut Rama.
Bagai petir yang bergemuruh di siang bolong, cuaca panas yang tiba-tiba turun hujan deras. Seperti itulah perasaan Melati sekarang.
Hatinya tak karuan saat ini, ada rasa bahagia dan sedih yang bercampur jadi satu. Semua berkecamuk jadi bagai benang yang kusut.
"Maaf Mas masih ada barang datang, nanti kita sambung lagi ya ..." ucap Melati memutus sambungan.
Melati duduk di kursi dan bersandar, matanya menatap plafon. Mungkin terkesan egois, tetapi inilah yang dia rasakan, tidak ikhlas.
****
Vicky telah sampai di rumah sakit, dia segera melangkah masuk ke dalam. Langkahnya terhenti ketika melihat Elisabeth yang duduk di kursi tunggu.
"Mama, apa yang terjadi?" tanya Vicky yang panik karena melihat Mamanya menangis.
Elisabeth masih terdiam, hanya air mata yang turun membasahi pipi dan sebagian bajunya. Wajahnya sangat khawatir dan cemas.
"Anak itu berulah apa lagi Maa ..." ucap Vicky sambil mengusap wajahnya.
__ADS_1
"Mama mohon Nak, jangan terlalu keras padanya. Hidupnya tidaklah mudah," jawab Elisabeth.
Vicky tersenyum kecut, beruntung sekali gadis itu. Hanya dengan sekali berjumpa saja sudah mendapatkan simpati Mamanya.
Apa Mamanya tidak memikirkan perasaan putranya sendiri? Hidupnya juga hancur saat mendengar perjodohan itu, di tambah lagi wanita brutal yang mengambil gambar syurnya.
Astaga, dunia ini memang tidak adil,
"Lalu sekarang Mama ngapain disini, bukankah dokter sudah merawat gadis itu?" Vicky mulai jengah.
"Dia tenggelam di bak mandi dan dokter belum keluar. Mama tidak bisa tenang saat ini V," jawab Elisabeth menampakkan wajah cemas.
Mendengar ucapan Mamanya, bukannya khawatir, dia malah tertawa cekikikan. Dia tak menyangka ada hal yang lebih konyol dari dirinya pagi ini.
Bahkan bak mandi itu hanga sebatas betis dan dia busa tenggelam, apa yang dia lakukan? Selain tidka sopan ternyata dia juga katrok.
Melihat putranya yang terbahak membuat Elisabeth murka, dia segera menyambar telinga putranya dan menariknya kencang.
Dia tak pernah mengajarkan bergembira di atas penderitaan orang lain,
Aww
Vicky segera melepas jemari Mamanya yang melekat di telinganya,
"Mama apa-apaan sih? Alasan Mama tidak masuk akal, kalau bocah usia tiga tahun yang tenggelam aku sangat kasihan. Tetapi lihatlah ini! Gadis usia 23 tahun Maa ... Memangnya di rumahnya nggak ada bak mandi!" ucap Vicky yang menggosok telinganya yang mulai memerah.
"Diam kau! Dasar anak durhaka!" celetuk Elisabeth yang tak mampu menahan emosinya.
Ada benarnya ucapan V, tetapi tidaklah mudah menerima semua kenyataan pahit ini. Di saat yang bersamaan ruang rawat terbuka, pria berpakaian serba putih keluar dari kamar.
"Kondisinya baik-baik saja Bu, kita lihat besok. Kalau kondisinya membaik dia bisa di bawa pulang ... Usahakan jangan sampai dia sendiri dan memendam masalah," ucap Dokter menjelaskan panjang lebar.
Setelah Dokter dan beberapa perawat pergi, Elisabeth dan Vicky masuk ke dalam. Mereka melihat Stevi terbaring lemah dengan mata terpejam, di pergelangan tanganya ada sebuah perban yang melingkar.
__ADS_1
"Mamanya meninggal,"