Berbagi Ranjang

Berbagi Ranjang
Bab 7. Dia Milikku


__ADS_3

an Rama bangkit dari kursi dan membuang putung rokok yang di gapit nya, dia melangkah dengan angkuh mendekati Vicky.


Sebenarnya dia tak pernah mempermasalahkan kedekatannya dengan Melati, istrinya. Toh mereka sudah dekat sejak dulu, sebelum dirinya saling kenal dengan Melati.


Vicky melangkah mendekat, matanya tertuju pada tangan rama yang mulai mengepal dan rahang tegas yang mengeras.


"Jadi kau benar-benar cemburu?" tanya Vicky menautkan alisnya.


Tak ada jawaban dari Rama, dari sorot matanya tersirat kalau dia sedang mengontrol emosi yang sudah sampai ubun-ubun.


"Dari mana kalian?" tanya Rama tegas.


"Jadi kau penasaran? Kami ketempat yang bahkan kau tak tau dimana itu berada," ucap Vicky mendekat dan menatap tajam Rama.


"Kau tau, kesalahan terbesarku adalah mengikhlaskan orang yang aku cintai pergi menjemput kesengsaraannya." lanjut Vicky mengeratkan gigi.


"Dia sudah jadi istriku, jadi kau tidak perlu repot-repot untuk memikirkannya," sahut Rama.


Vicky melangkah mundur dan tertawa kecil. Dia tidak menyangka Rama akan mengatakan demikian,


"Coba belajar membedakan, mana istri dan pembantu. Baru kau bisa menghalangiku memikirkan kehidupan Melati, Dia sangat tidak beruntung memilikimu." jawab Vicky yang segera melangkah pergi keluar ruangan.


Rama menghempaskan pukulannya ke udara, merasa gagal dengan usah yang selama ini dia perbuat.


Ya ... Dia memang tak bisa mengontrol emosinya, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya ... Melati adalah alasan utamanya untuk hidup.


Vicky melangkah menuju lift, dia segera memencet tombol menuju ke lantai paling dasar. Tepat dimana mobil CRV nya terparkir.


Tanpa menunggu lift terbuka dia melepas jas dan dasi yang melekat pada tubuhnya, hati dan tubuhnya saat ini sangat gerah.


Dia naik ke mobil dan melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan parkiran kantor.


Emosinya tak dapat terkontrol, dia mengemudi dengan kecepatan tinggi. Beberapa mobil yang dia salip membunyikan klakson. Namun tetap saja Vicky tak mempedulikannya.


Vicky menghentikan mobilnya saat melihat seorang yang menyebrang di persimpangan jalan secara tiba-tiba.


Kakinya menginjak pedal rem yang membuat tubuhnya sedikit maju,


"Astaga, hampir saja." ucap Vicky lega karena remnya cukup cakram sehingga tidak menabrak orang tersebut.

__ADS_1


Orang tersebut membungkuk dan meminta maaf, dan Vicky kembali melanjutkan perjalanannya.


Dia memutuskan untuk beristirahat di tepi jalan, tepatnya di bawah pohon yang rindang. Berulang kali dia mengacak rambutnya, otaknya saat ini sangat stres.


Dia menatap langit biru yang bersih, angannya melayang kembali ke waktu lampau. Tepatnya waktu indah bersama seorang yang sangat dia cintai di 7 tahun silam.


Saat itu salju turun di negri ginseng, semua orang sudah berlindung dari hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.


Akan tetapi dengan kedua orang yang masih menikmati kehangatan musim salju ini.


"Suka yaa sama salju?" tanya Vicky menatap Melati yang sedang asik bermain salju.


Mereka duduk di bangku taman, keduanya memakai jaket berlapis lengkap dengan penutup kepala dan sepatu boot tinggi.


Hari ini cuaca sangat dingin, salju mulai bertebaran di mana-mana.


"Dulu aku sangat ingin memegang benda putih bersih ini, ternyata aku bisa mewujudkan impianku," ucap Melati tersenyum tipis.


"Aku bisa menemanimu sampai kau puas bermain," ucap Vicky melempar senyum teduh.


Melati hanya melempar senyum, dia tau apa yang di maksud Vicky. Namun selama ini dia hanya menganggap dirinya seorang teman, tidak lebih.


"Ya ... Kau harus menemaniku sampai lulus bukan?" ucap Melati melempar pandangan.


Vicky hanya terkekeh, dia tau Melati akan selalu mengganti topik saat dirinya mulai menyinggung masalah perasaan.


Apa salahnya berusaha? Sebelum ada cincin tersemat di jari manisnya, bukankah ini sah-sah saja.


Sikap Melati yang lembut membuat Vicky semakin memantapkan hatinya untuk berlabuh. Sayangnya perasaanya selalu di tolak oleh gadis yang selam ini telah membuat harinya selalu indah.


Melati melempar pandangan ke arah yang lain, dia tak enak hati menatap pria bermata biru di sampingnya.


Entah mengapa dia tak bisa menerima perasaan tulus yang selalu di berikan kepadanya, mata biru itu selalu ada di saat kapanpun dirinya membutuhkannya.


"Aku lupa, kau masih fokus dengan kuliahmu. Maaf," ucap vicky tersenyum kecut.


"Bukankah kita harus berusaha keras? Apa kau tidak merindukan keluargamu?" tanya Melati mencoba mencari topik lain agar tidak kaku.


Vicky tersenyum kecil kemudian mendongakkan kepalanya ke atas, menatap langit malam yang di penuhi rintikan butiran putih yang menerpa wajahnya.

__ADS_1


Ya ... Dia memang merindukan keluarganya di negara asal, namun hatinya lebih nyaman disini. Senyuman manis dan tulus yang selalu membuat semangatnya bertambah dari hari ke hari.


"Aku merindukan mereka, tapi aku lebih betah disini," ucap Vicky mash mendongakkan kepalanya.


"Mengapa?" sahut Melati.


"Karena salju di sana begitu dingin, tidak seperti disini. Sangat hangat ..." jawab Vicky dengan suara beratnya.


Mata birunya menatap Melati yang masih termenung mendengar jawaban pria bermata biru di hadapannya.


Sungguh, Melati ingin pingsan mendengar ucapan Vicky bibir manisnya itu selalu menebarkan kata-kata yang membuat hatinya terlena sesaat.


Suara wanita yang sedang memanggil namanya membuat lamunannya buyar seketika.


"Maaf Mas, bisa tanya dimana alamat ini?" tanya seorang wanita yang menyodorkan secarik kertas.


Vicky meraih secarik kertas tersebut dan membaca rentetan huruf di hadapannya, matanya membulat sempurna saat membaca barisan huruf tersebut.


"Maaf Mbak siapa ya?" tanya Vicky penasaran.


"Saya Stevy, saya mau kerumah tante saya. Itu alamatnya," ucap wanita tersebut.


Vicky menatap wanita yang berada di hadapannya dari atas sampai bawah, sepertinya dia tidak pernah mengenal nama ini. Tetapi mengapa alamat rumahnya bisa ada padanya.


"Kau naik apa?" tanya Vicky.


"Tadinya naik mobil, tapi mobilku mogok dan aku taruh bengkel di ujung jalan sana," ucap Stevy sambil mengacungkan telunjuknya ke arah bengkel yang dimaksud.


Alis Vicky berkerut, masalahnya bengkel yang ada di ujung jalan bukanlah bengkel resmi. Hanya bengkel tambal ban alakadarnya.


"Ban mu bocor?" ucap Vicky membenarkan kalimat Stevy.


Stevy tidak percaya bisa bertemu makhluk seperti ini, memangnya beda yaa antara ban bocor dan mogok. Kan sama-sama tidak bisa jalan.


"Maaf Tuan saya sibuk, kalau tidak tau saya bisa cari alamatnya sendiri, Terima kasih." ucap Stevi yang menyambar kertas yang berada di tangan Vicky dan berlalu.


Dia sudah sangat lelah karena mobilnya yang mogok. Bahkan dia harus melajukan mobilnya meski bannya kempes, tidak mungkin tubuhnya yang kerempeng ini mendorong mobil sendirian.


Mobil mogok, mencari bengkel, berjalan tak tau arah dan sangat lengkap di tambah bertemu seorang yang super perfect. Bahkan ucapannya saja keliru.

__ADS_1


"Aku Vicky, putra Nyonya Elisabeth orang yang kau cari," ucap Vicky menatap punggung wanita itu yang mulai berhenti.


__ADS_2