Berbagi Ranjang

Berbagi Ranjang
Bab 12. Masa Lalu


__ADS_3

Vicky sudah berada di kuda besi berwarna putihnya, dia melaju dengan kecepatan tinggi menuju kantor. Berulang kali dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan,


"Gara-gara wanita gila itu aku telat ke kantor," gerutu Vicky yang terus mengusap wajahnya.


Tubuhnya bergidik ngeri ketika mengingat kejadian di hotel tadi, astaga ... dia benar-benar tidak mau kembali ke diskotik itu lagi.


Beberapa menit kemudian sampailah dia di depan kantor, Vicky turun dan di sambut ramah oleh scurity. Dia mengulurkan kunci mobil dan segera masuk ke kantor.


Saat ini ada rapat dan dia telat, sungguh hari yang sangat menyebalkan. Dengan terburu-buru dia masuk ke lift dan segera memencet tombol nomor 7, tepat di mana ruang rapat berada.


Dengan cemas Vicky menunggu lift terbuka, sebelumnya dia sudah ribut dengan Rama hanya karena masalah Melati. Dan untuk hari ini dia harus kebal karena kesalahannya.


Lift terbuka, Vicky segera melangkah keluar dan berlari kecil menuju ruang rapat.


"Maaf saya terlambat," ucap Vicky yang segera masuk dan duduk di kursinya, tepat di hadapan Rama.


Rama hanya melihat Vicky sekilas dan kembali melihat laptopnya, matanya masih fokus dengan metode pemasaran yang di usulkan oleh salah satu karyawan.


Vicky bisa bernapas lega, karena dia tidak di sembur amarah saat ini. Setidaknya temannya sudah bermurah hati karena menjaga harga diri dan nama baiknya.


Meskipun Vicky baru datang, semua karyawan tetap fokus dengan laptop masing-masing. Mereka sudah di latih untuk fokus dan berpikir keras. Jadi keterlambatan Vicky tak mempengaruhi rapat ini.


Satu jam berjalan dan akhirnya rapat selesai, satu persatu karyawan keluar ruangan dan menyisakan CEO dan wakilnya.


Rama menatap lekat pria bule yang saat ini sedang duduk dengan menatap layar laptopnya. Sepertinya dia sudah siap untuk mendengar kata-kata mutiara dari mulut pedas Rama.


"Jadi, kau perotes karena masalah kemarin?" tanya Rama langsung ke intinya.


Dia tau temannya ini masih menyimpan rasa kepada istrinya, Rama memahami hal itu karena memang dalam masalah ini dirinya lah yang salah.


"Tidak ada masalah dengan kemarin, jadi kau tak perlu khawatir." sahut Vicky singkat, dia tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya.


Belum selesai interogasi Rama, telepon di meja Rama berdering. Tanpa menunggu waktu lama dia segera mengangkat gagang telpon dan menempelkan di telinga kanannya.


"Baik, suruh dia masuk." ucap Rama dengan suara tegas.


"Jadi apa yang membuatmu telat?" tanya Rama menatap tajam ke arah pria bermata biru.

__ADS_1


Vicky terdiam, dia mencoba mencari alasan yang tepat dan sebisa mungkin tak membongkar kejadian memalukan tadi pagi.


Rama semakin penasaran ketiak melihat air wajah Vicky yang berubah drastis, sepertinya ada masalah besar yang dia simpan.


"Kau tidak mau cerita?" ulang Rama bertanya, di masih penasaran dengan masalah yang membelit temannya itu.


"Tidak ada apa-apa, ku rasa semua sudah selesai. Aku akan membereskan laporan kemarin dan menyerahkannya kepada mu siang ini," ucap Vicky beranjak dari kursi dan melangkah menjauh.


Tangan nya sudah memutar ganggang pintu dan menariknya, matanya semakin membulat sempurna ketika melihat seorang wanita yang saat ini ada di hadapannya.


Wanita dengan tinggi semampai, berambut pirang dan lengkap dengan pakaian yang kurang bahan.


Wajah Vicky seketika memerah, ingin rasanya dia kabur saat ini juga. Tetapi itu tak mungkin, dia takut terlihat konyol di hadapan Rama.


"Kenapa kau kemari?" tanya Vicky.


Wanita itu melangkah maju, dia mendorong Vicky kembali ke ruang rapat dan menutup pintunya.


"Maaf Pak saya sedikit urusan dengan karyawan tampan Bapak ini ..." ucap Wanita itu sekilas melempar pandangan ke Rama.


Alis Rama bertaut, dia tak menyangka temannya ini sudah move on dari Melati dan dekat dengan wanita. Sepertinya seleranya mulai berubah drastis.


"Aku menunggumu." ucap Wanita tersebut membenarkan posisi jas yang di pakai Vicky dan mendekatkan wajahnya.


"Sepertinya fotomu itu akan laris bila di jual," bisik wanita tersebut sambil tersenyum licik.


Mata Vicky membulat sempurna, dia segera melangkah mundur dan membuka pintu. Tanpa di suruh wanita tersebut pergi dari ruang rapat dan melambaikan tangannya.


Vicky memijat pangkal hidung, otaknya sangat lelah saat ini. Masalah pertunangan bak sinetron saja belum dia tuntaskan, dan mini dia harus di hadapkan dengan wanita bar-bar. Padahal dia sudah membulatkan tekad untuk merebut Melati dari Rama.


Rama menahan senyumnya, dia meraih kartu nama yang di tinggalkan wanita yang terbilang cukup sexy tersebut.


"Seleramu sangat luar biasa," kekeh Rama.


"Laura Anastasia, sepertinya aku kenal dengan wanita ini," lanjut Rama sambil mengingat nama yang tidak asing.


"Aku tidak peduli siapa dia, yang jelas dia adalah wanita tergila yang pernah aku temui selama ini." ucap Vicky frustasi.

__ADS_1


Dia melempar tubuh lelahnya di kursi , berulang kali dia mengacak rambutnya. Ponselnya berdering kencang, dia segera merogoh jas dan menggeser layar.


"Mama ..." Vicky membaca nama yang tertera di layar, dia menaruh ponselnya di meja. Dia masih stres dan tak mau membahas masalah apapun lagi.


Vicky melempar ponselnya begitu saja. Namun ponsel tersebut terus berdering kencang. Rama yang mendengarnya mulia risih dan meraih ponsel Vicky.


"Yaa Tante?" sapa Rama ramah.


"Apa Vicky ada disana?" tanya Elisabeth.


"Masih di toilet Te ..." dusta Rama.


"Kalau sudah suruh dia cepat pulang yaa ... Ada urusan penting." ucap Elisabeth dengan suara cemas.


Sambungan terputus, dia menaruh ponsel di atas meja dan menatap lekat wajah kusut Vicky. Meskipun mereka bertengkar kemarin, tetapi mereka tetaplah teman. Pertengkaran tak membuat hubungan mereka renggang.


"Jadi apa masalahmu?" tanya Rama serius.


Vicky hanya diam, dia tau Rama tak akan melanjutkan keributan kemarin. Karena hal ini sering terjadi, dia akui Rama cukup dewasa. Namun tetap saja dia sebal karena dia sering hilang kontrol saat marah.


"Tidak ada, aku akan segera pulang sekarang." ucap Vicky segera beranjak dari kursinya.


"Jadi sekarang kita musuh sungguhan," sahut Rama yang mengehentikan langakah Vicky.


Vicky tak peduli, dia melanjutkan langkahnya keluar ruangan dan segera berlari kecil menuju parkiran kantor.


Semoga saja masalah yang di alami Mamanya benar-benar penting, kalau sampai masih pada tema yang sama. Vicky berjanji tak akan mau menginjakkan kakinya ke rumah lagi.


Vicky melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, hingga tak membutuhkan waktu lama dia sudah sampai di halaman rumah.


Dia segera berlari kecil dan masuk ke dalam rumah, dirinya semakin khawatir ketika melihat suasana rumah yang kosong.


"Mbok, Mama dimana?" tanya Vicky pada pembantu rumah.


"Ke rumah sakit Tuan," jawab pembantunya.


"Astaga, siapa yang sakit? Terus di rumah sakit mana?" tanya Vicky semakin khawatir.

__ADS_1


"Non Stevi tuan, di rumah sakit Mitra Medika ..."


__ADS_2