
Vicky dan mala telah kembali, mereka membawa sekantong pelastik yang berisi beberapa buah es krim. Dengan riang Mala merosot dari gendongan Vicky dan berhamburan memeluk Melati.
"Aku sudah dapat es krim Bunda ... Ini untuk Bunda, kata Om Vicky Bunda suka rasa ini," ucap Mala menyodorkan ice krim rasa buah-buahan.
Aku segera menuntun Mala dan duduk di kursi, sedangkan Rama duduk kembali di meja kerjanya.
Aku membuka sebungkus es krim yang di beri Mala, aku tak menyangka kalau Vicky masih mengingat es krim kesukaanku.
Kami menikmati es krim bersama, hanya Rama yang sibuk berkutat dengan layar laptopnya. Dunianya selalu begitu, kaku dan tegang.
Melihat Papanya yang tidak memakan es krim, Mala melangkah mendekat. Niat hati ingin menyuapkan es krim ke Rama, tetapi dia terjatuh.
Tanpa sengaja es krimnya tumpah di baju Rama. Reflek Rama mendorong Mala sehingga dirinya terjatuh, kepalanya terbentur sisi meja yang membuat keningnya memar.
Tangisan Mala pecah, Melati segera menolongnya.
"Mala, kamu ini apa-apaan sih!" bentak Rama.
"Udah biar aku yang urus, bajumu masih ada di lemari kan? Aku akan mengobati Mala dulu." ucap Vicky segera melangkah mengambil kotak P3K.
Rama melangkah menuju kamar kecil yang memang sudah di sediakan oleh kantor, dia mengambil setelan jas dan segera memakainya.
Berbeda dengan kedua orang yang masih menenangkan tangisan bocah yang masih histeris.
__ADS_1
"Bunda sakit ..." ucap Mala menangis tersedu.
"Udah dong, gini aja masa nangis. Cantiknya ilang dong nanti," bujuk Vicky sambil mengoles alkohol di kening bocah tersebut.
Seketika tangisan bocah tersebut semakin mengeras, gendang telinga Vicky dan Melati sampai berdenging.
"Sayang, jangan gitu dong. Malu sama temen-temen Papa, katanya kamu yang minta kesini, jadi jangan buat keributan yaa ..." ucap Melati mencoba memberi pengertian.
"Gimana kalau kita beli es krim lagi ... Mala mau yang rasa apa? Nanti Om belikan asal nggak boleh nangis lagi," lanjut Vicky.
"Mala nggak mau es krim, Papa nggak suka ..." jawab Mala sambil terisak.
Yaa ... Bukan es krim yang terjatuh yang Mala tangisi, akan tetapi hatinya yang hancur saat niat baiknya di salah artikan oleh orang yang paling dia cinta.
Bahkan Rama setiap hari tidak benar-benar memberikan kasih sayang yang tulus.Namun tidk dengan Mala.
"Udah apa belom nangisnya, Papa ada rapat." ucap Rama yang keluar dari kamarnya.
Mala masih terisak, matanya terus mengalir tetesan air mata. Tangan mungilnya berulang kali menghapus air maa yang jatuh di pipi tanpa sanggup berhenti.
Melati dan Vicky mencoba membujuk mala agar berhenti menangis, melihat ini Rama semakin muak.
"Cukup! Keluar dari ruanganku," bentak Rama.
__ADS_1
Mendengar bentakan Rama tangisan mala malah semakin kencang,
"Beli coklat sama Om Vicky dulu yaa ... Nanti Bunda susulin," ucap Melati beranjak dari kursi.
Tanpa menunggu waktu lama Vicky segera menggendong Mala keluar ruangan,
"Kamu jahat! Aku nyesel udah bawa Mala kesini, kamu tau nggak sih Mala cuma pengen nyuapin kamu, nggak lebih. Aku nggak habis pikir, tega banget," ucap Melati dengan mata berkaca kemudian pergi meninggalkan Rama.
Melati melangkah menuju parkiran, sayangnya orang yang dia cari tidak ada. Matanya menyusuri tiap sudut area parkir, tetap saja dia tak menemukan mala dan Vicky.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk meraih ponsel yang berada di dalam tas, dan menggeser layar hitam tersebut.
Terdapat chat masuk dari Vicky,
"Aku sama Mala ke mall, dia mau main dulu. Kamu ngobrol bentar sama Rama. Selesaikan masalah kalian."
Melati menghirup napas panjang, kenapa semua begitu sulit baginya. Orang yang sebisa mungkin dia jauhi malah semakin dekat, terlebih dengan putrinya.
Malah orang yang harusnya sangat dekat dengan putrinya malah membangun benteng yang kokoh dah tinggi, seolah memang harus ada batasan di antara mereka.
Melati naik ke mobil dan melaju menuju mall, tempat dimana Vicky dan Mala berada. Dia janji kepada dirinya sendiri tak akan pernah lagi membawa Mala ke kantor.
Dari atas gedung, tepat di sisi ruangan. Tampak seorang sedang memperhatikan Melati dari balik kaca. Matanya menatap nanar ke arah wanita yang baru saja mencacinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku adalah pria yang bodoh di seluruh dunia." ucapnya lirih.