
Melati mutuskan untuk pergi dan melajukan kuda besinya menjauh, dia melaju dengan kecepatan sedang dan berbelok ke persimpangan jalan.
Tujuannya saat ini ke TK DAMAI. Tepat di mana putri semata wayangnya menimba ilmu, saat ini di sekolahnya mengadakan acara ibu dan anak.
Biasanya para wali murid akan datang, untung saja acara ini ibu dan anak, jadi Melati tak perlu repot-repot untuk memberi alasan kenapa Rama tidak datang.
Rama selalu tak bisa hadir dalam acara sekolah, hal terakhir yang membuat Mala patah hati adalah saat dia rama tak bisa datang ke acara pensinya.
Padahal saat itu Mala sudah berkerja keras latihan siang dan malam, dia menghafalkan lagu salah satu band ternama di Ibu kota yang bertema perjuangan Ayah.
Dia berharap saat itu Rama akan mau meluangkan waktunya untuk melihat lagu persembahannya.
Namun yang dia terima hanyalah luka, bagi Rama masalah kantor adalah nomor satu. Karena saat dia mendapatkan uang, maka dia bisa memanjakan Mala dan Melati.
Memang hal tersebut tidak salah, tapi harusnya dia tau kalau tidak semua kebahagiaan bisa di dapa dengan uang.
Melati turun dari mobil dan melangkah masuk ke dala sekolah, banyak wali murid yang mengagumi kecantikan Melati.
Postur tubuh tinggi dengan kulit putih mulus, di tambah hijab yang membingkai wajah cantiknya.
__ADS_1
Mala berhamburan memeluk Melati, memeluk erat dengan mata berkaca.
"Aku kira Bunda nggak dateng," ucap Mala dengan mata yang mengembun.
Melati berjongkok dan mengecup pucuk kepala Mala, kasihan sekali. Dia masih sangat trauma karena ketidakhadiran Papanya di acara sebelumnya.
"Nggak dong, Mama pasti dateng untuk Mala," ucap Melati dengan senyum teduh.
"Iya Bunda sayang Mala, nggak kaya Papa," perotes Mala dengan bibir manyun.
"Ich ... Jangan gitu dong, Papa juga sayang sama Mala. Kan Papa sibuk kerja, kalau weekend Mala pasti di ajak jalan-jalan kan," Melati mencoba memberi pengertian.
"Yasudah nanti Bunda hukum Papa, sekarang kita ngapain nih," ucap Melati segera mengentikan perdebatan yang tiada akhir ini.
"Kita main di dalam Bunda sama Bu Guru, d suruh mewarna bersama," ucap Mala menarik tangan Melati untuk masuk ke dalam kelasnya.
Sesampainya di dalam kelas sudah banyak wali murid yang datang, dan kelihatannya memang cuma mala yang belum duduk bersama orag tuanya. Pantas saja dia tadi menangis.
Mala dan Melati duduk di kursi yang sudah di sediakan, mereka di beri selembar kertas putih dengan gambar keluarga bahagia.
__ADS_1
Ada Ayah, Bunda dan seorang anak yang mereka peluk. Tanpa terasa mata Melati memanas.
****
Rama sedang konsentrasi dengan laptopnya, sedang Vicky menyantap bekal yang harusnya sudah mengisi perut rama.
"Untung saja kau temanku, kalau tidak. Aku pasti sudah menganggap mu selingkuh dengan istriku." ucap Rama tanpa ekspresi.
Seketika kunyahannya berhenti, nasi yang berada di tenggorokan seketika putar balik kembali ke mulut.
Uhukk ...
"Yang bener kalau omong, enak aja. Kalau gue mau udah gue kawinin Melati, enak aja." ucap Vicky sambil melangkah menuju kulkas dan mengambil air dingin.
Hidungnya sangat panas ketika buliran nasi tersangkut di dalam,
"Udah jujur aja, Lo masih suka sama Melati kan?" tanya Rama mulai menutup laptopnya.
"Udah, gue mau pergi. Males bahas tema ginian." ucap Vicky yang melangkah pergi.
__ADS_1