
Mala bersorak riang saat sambungan ponsel terputus, dia menampakkan wajah cerahnya.
"Yuk ke kantor Papa Bun ... Papa bilang nggak papa kok," ucap Mala girang.
"Emh ... Tapi Papa masih sibuk loh, gimana kalau kita ke taman bermain saja," sahut Melati memberikan opsi lain.
Mata mala tiba-tiba berembun dan mulai berkaca, tampak rasa kecewa yang terpancar dari wajah imutnya tesebut.
Karena merasa tak tega, pada akhirnya Melati mengalah dan memutar arah laju mobilnya menuju kantor Rama.
Sejujurnya dia agak khawatir, namun semoga saja Rama bisa mengontrol emosinya di depan Mala.
Mobil Melati sudah terparkir di parkiran kantor, dengan riang Mala seger turun dan berhamburan menuju ruangan Rama.
Dia berlarian di loby kantor, tak akan ada yang berani menegur gadis kecil ini. Karena memang Rama adalah CEO perusahaan.
Mala langsung naik ke lift saat Melati sudah ada di sampingnya. Lift terbuka, Melati dan Mala segera melangkah menuju ruangan.
Tanpa bimbang Mala segera membuka pintu ruangan ...
"Papa ..." teriak Mala girang.
"Hallo my little princess," jawab Rama ramah.
Melati menghembuskan napas lega dan melangkah masuk ke dalam ruangan. Dia melihat Vicky dan Rama sedang menatap layar laptop mereka masing-masing.
__ADS_1
Rama membuka kedua tangannya lebat dan memeluk Mala yang menubrukknya. Melihat ini mata Melati berkaca.
"Andai setiap saat seperti ini," ucap melai lirih.
"Cium dulu dong," goda Vicky mencubit pipi chubby Mala.
Mala melepas pelukan Rama dan memeluk Vicky, dia mendaratkan dua ciuman ke pipi kanan-kiri.
"Kanapa sih om selalu pakai softlens?" tanya Mala polos.
Dia mengira mata biru yang dimiliki Vicky tidak asli, Vicky adalah pria tampan dengan darah campuran Indo-Belanda.
"Ini bukan softlens Baby, ini mata asli Om. Gimana kalau kita beli ice cream?" ucap Vicky menggendong Mala.
Rama melempar pandangan ke Melati sesaat kemudian mengangguk lirih ke arah Vicky.
Mala berteriak kegirangan karena Papanya mengizinkan, mereka segera keluar ruangan dengan bersenandung ceria.
"Maafkan aku atas perlakuanku tadi pagi," ucap Rama menundukkan kepala.
Melati tak merespon dia mendongakkan kepalanya, mencoba menahan genangan air mata yang hampir menetes.
Rama bangkit dari duduknya dn memeluk pinggul ramping Melati.
"Maaf, kantor sedang tidak baik-baik saja," ucap rama semakin mempererat dekapannya.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Melati, sejujurnya dia mulai jengah dengan sikap Rama yang selalu ringan tangan saat dirinya banyak masalah.
Namun Melati tetap berada di titik yang sama. Sabar dan mencoba menerima kenyataan dengan alasan ... dia tak sanggup melihat Mala terluka.
"Mala ingin Mas datang di acara sekolahnya tadi," ucap Melati sambil melepaskan pelukan Rama.
"Kau kan tau aku sibuk Mel ..." ucap Rama memelas.
"Dan akan selalu begitu," sahut Melati cepat.
"Kau kan bisa memberinya pengertian," ucap Rama lagi.
"Sampai kapan Mas, dia juga butuh sosok Papa yang menemaninya. Papa yang utuh, bukan Papa figuran yang cuma ada saat weekend." jawab Melati menatap Rama.
Mendengar jawaban Melati membuat emosi Rama meningkat, dia tak menyangka seorang istri penurutnya menjadi pembangkang.
Tangan Rama sudah melambung dan ingin di daratkan, namun Melati tak berkedip sedikitpun.
"Kenapa diem, ayo tampar aku ... Biasanya juga begitu kan ... Lalu dengan mudahnya mas bilang maaf, nantinya akan seperti ini lagi kan ..." melati tak mampu membendung air matanya.
Rama masih terdiam membatu, tangan yang tadinya melambung. Kini dia masukkan ke dalam saku celana.
"Perlu kamu ingat Mas, aku bertahan demi Mala. Kau boleh memperlakukanku bagaimanapun, tapi jangan Mala." ucap Melati tegas.
"Bunda ..."
__ADS_1