
Mobil Melati sampai di teras, Mala dengan malas turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Melati hanya menatap Mala dengan tatapan sedih, entah sampai kapan dia bisa menjaga mood anak tersebut.
Melati turun dari mobil. Tidak lupa dia mengambil map yang berisi laporan resto dan segera masuk ke rumah.
"Sudah pulang Mbak?" sapa Mbok Ijah ramah.
"Sudah Mbok, oiya nanti Pak Anto suruh antar Mala les yaa ... Badan saya agak kurang fit," dusta Melati.
"Baik Mbak," jawab Mbok Ijah.
Melati melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Dia segera menghempaskan tubuh lelahnya ke atas kasur king size miliknya.
Matanya melihat ke atap, tepat di langit-langit kamarnya yang berwarna putih lengkap dengan ukiran bunga pada plafon.
Angannya melayang jauh, sejujurnya dia tidak benar-benar letih. Hanya saja dia masih belum bisa menatap wajah sendu Mala.
Sebenarnya dia tak mau memaksa mala untuk bertahan disini, dirinya tak tega bila harus melihat banyak kekecewaan lagi di episod hidup selanjutnya.
Karena tubuhnya terlalu lelah, tanpa terasa Melati sudah terhanyut di alam mimpi. Hingga dia merasa sebuah tangan besar sedang memeluknya dari belakang.
Hembusan nafas hangat juga terasa di tengkuknya,
"Sudah bangun sayang?" tanya Rama.
Melati segera melepas tangan Rama, hatinya masih sangat sakit ketika mengingat suaminya membentak putri kesayangannya.
"Jangan bergerak please, hanya sebentar. Akan aku jelaskan semua masalahku pagi ini." ucap Rama mencoba meluruskan masalah, agar tidak menjadi lebih runyam.
Sungguh amarahnya cukup membara ketika mengetahui istri dan anak sedah pergi bersama teman dekatnya siang ini.
Meskipun mereka tak akan melakukan hal apapun, tetapi tetap saja itu bisa mematik percikan cinta di antara mereka.
Rama memeluk semakin erat, perlahan dia membuka hijab istrinya yang belum terlepas tadi. Kostum Melati masih sama, setelan set hijab dan baju syar'i nya yang dia pakai tadi pagi.
"Perusahaan mengalami penurunan, aku sangat khawatir dan panik. Aku masih belum siap melihat kalian sengsara," ucap rama menghirup aroma rambut Melati yang harum.
"Maaf kan aku, aku tidak bermaksud kasar tadi," lanjut Rama dengan tulus.
__ADS_1
"kau boleh melakukan apapun padaku, tapi jangan dengan Mala, aku nggak rela." jawab Melati.
"Apakah menurutmu selama ini kami tidak sengsara?Apa menurutmu kami sangat bahagia?" lanjut melati menahan isak.
Dia teringat pada ucapan Mala di mobil tadi. Apapun usahanya, suaminya tidak akan benar-benar bersama mereka.
Kesibukan Rama tidak bisa di toleransi. Waktu, pikiran dan tenaga semua tertuju pada perusahaan.
Mungkin ada baiknya bila perusahaan itu bangkrut, siapa tau dengan itu akan ada jalan untuk memperbaiki hubungan Papa dan anak.
Rama membalikkan tubuh Melati, dia menghapus lembut air mata yang mulai rembes di pipi meronanya.
"Aku tau, aku lelaki tak tau diri. Aku sadar aku tidaklah pantas untukmu. Tolong maafkan aku." ucap Rama menyatukan keningnya.
Sejujurnya Melati masih marah dengan pria yang berada di hadapannya, namun rasa cinta tulusnya mengalahkan amarahnya.
Dia meraih rahang tegas dan mengecupnya lembut, dirinya tak tega melihat lelakinya seperti ini.
Mungkin benar kata orang bilang, dirinya terlalu bodoh dan telah sukses menjadi budak cinta Rama.
Banyak juga yang bilang dia tidak mencintai dirinya sendiri dan pasrah dengan KDRT yang dia alami.
Suaminya tidak seburuk itu, dia masih memberinya kasih sayang, nafkah lahir batin. Dia bertanggung jawab dengan segala hal.
"Aku mohon kontrol emosimu Sayang, jangan begitu kepada Mala. Dia hanya sangat merindukanmu. Hanya itu tidak lebih,' lanjut Melati melepas kecupannya.
"Aku akan menemui Mala setelah ini." ucap Rama menatap sendu Melati.
"Apa? Setelah ini. Kenapa harus menunggu setelah ini?" Melati menautkan kedua alisnya.
"Mala sedang les, jadi aku mau memperbaiki mood Bundanya dulu." sahut Rama menyambar bibir lembut yang baru saja terlepas.
Selalu dan selalu begini, apakah Rama pikir setelah semua yang terjadi dia bisa dengan mudah menyelesaikannya hanya dengan bergelut di ranjang.
Melati melepas pangutan Rama dan mendorong tubuh kekar yang mulai menindihnya.
"Tidak sekarang, kau harus membereskan masalahmu dengan Mala. Dan setelah itu kau bisa menikmati hakmu," ucap Melati bangun dari tidurnya.
Melati beranjak dari kasur, sayangnya langkah kakinya terhenti saat lengan kekar menahan langkah kakinya untuk pergi. Lengan itu melingkar kokoh di pinggang Melati.
__ADS_1
"Aku mohon, sebentar saja. 1 kali, setelah itu aku akan pergi menemui Mala untuk minta maaf," rengek Rama.
"Lepas, aku mau mandi. Aku belum sholat ashar ..." sahut Melati yang berusaha keras membebaskan diri dari pelukan kuat ini.
"Yaudah mandi bareng," ucap Rama yang masih tak mau melepaskan dekapannya.
Rama memutar tubuh Melati, tatapan mereka saat ini saling bertemu. Perlahan Rama mendekatkan wajahnya mendekati wajah Melati.
Rama menarik pinggul istrinya lebih dekat hingga tubuh mereka saling menempel, mata Melati membulat ketika merasakan sesuatu yang mengganjal yang menempel di pahanya.
"Please, maafkan aku. Tolong sebentar saja, aku sangat tidak tahan," ucap rama parau.
Embusan napas hangat Rama membuat bulu kuduk Melati merinding, semua saraf tubuhnya mendadak tegang ketika merasakan aura panas yang di ciptakan Rama.
Rama menghujani Melati dengan kecupan liarnya, untung saja dia memakai hijab. Jadi bekas gigitan Rama selalu aman tersembunyi di baliknya.
Jemari Rama sudah sukses membuka resleting panjang yang berada di punggung Melati, hanya tinggal pakaian yang menutupi area sensitifnya.
Melati mengikuti permainan Rama, jemari lentiknya membuka satu persatu kancing kemeja berwarna putih tersebut.
"Tumben pulang jam segini?" tanya Melati di tengah aktifitasnya.
"Lapar, terlebih saat aku tau kau pergi bersama Vicky, aku jadi tambah lapar," ucap Rama yang sudah tak sabar dan segera merebahkan tubuh Melati di atas kasur.
Rama membuang kemejanya dan memperlihatkan barisan otot yang berbentuk kotak. Rama segera membuka resleting celananya dan membuangnya ke sembarang tempat.
Perlahan dia naik ke atas ranjang dengan polos, tak ada sehelai pun benang yang menutupi tubuh atletisnya.
"Lihat, semua ini milikmu. Jadi jangan kau sia-siakan dan memilih pergi dengan yang lain, kau belum tentu dapat yang seperti ini," ucap rama sambil memasang senyum nakal.
"Oiya ... Benarkah ..." Melati tersenyum mengejek.
"Jangan pasang wajah seperti itu, aku tak akan mengampuni mu," tanpa menunggu waktu yang lebih lama lagi Rama segera naik ke ranjang.
Dia menempatkan posisinya di atas Melati, dia memandang wanita cantik yang ada di hadapannya. Sesuai permintaan Melati.
Rama mengambil selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya yang sudah mulai siap tempur.
"Siap sayang ..."
__ADS_1