
Stevy dan Vicky sudah sampai di rumah megah dengan nuansa arsitektur belanda, Stevy tak berhenti mengagumi keindahan istana Bibinya.
Vicky turun dari mobil dan segera masuk kerumah, Stevi melangkah perlahan di belakang Vicky dengan mata masih berselancar di setiap sudut ruangan.
"Mama ... Ma ..." teriak Vicky.
"Ada apa sih, kenap teriak-teriak?" ucap Elisabeth yang keluar dari arah dapur.
"Ada tamu Maa ..." jawan Vicky sambil melangkah menaiki tangga.
Elisabeth mengerutkan alis dan segera melangkah menuju ruang tamu, dia melihat seorang gadis yang masih berdiri dengan menenteng tas dan koper di sampingnya.
Dia melangkah mendekati gadis tersebut,
"Hallo, ada keperluan dengan saya?" tanya elisabeth yang membuat Stevy terkejut.
Stevy membulatkan matanya, dia tidak percaya orang yang dia cari ternyata masih sangat muda. Seorang wanita paruh baya dengan tinggi semampai dan rambut pendek sebahu yang tergerai.
Matanya biru dan wajahnya masih bebas tanpa kerutan,
"Tante Ely ... Kenalkan aku Stevy putrinya Nyonya Laurent." ucap Stevi mengulurkan tangan.
Elisabeth membuka matanya lebar-lebar, dia tidak menyangka dengan apa yang dia lihat. Dulu dia melihat gadis ini masih sangat kecil.
Wanita paruh baya ini segera melangkah mendekati dan memeluk gadis cantik yang berada di hadapannya.
Dirinya tak menyangka ternyata sahabatnya masih mengingat janji mereka dulu, meskipun terbilang konyol saat ini. Namun tetap saja Elisabeth yakin keinginannya akan tercapai.
"Duduk sayang, bagaimana kabar Mamu Nak?" tanya Elisabeth.
Mereka duduk bersampingan dan mulai obrolan ringan, mereka mulai mengobrol sementara Vicky sedang sibuk menenagkan perasaanya.
Tidak hanya sekali VIcky melihat Rama memperlakukan Melati seperti itu, meskipun Melati tak pernah bercerita atau bahkan mengeluh. Dia yakin pasti Rama tidak memperlakukannya dengan baik selama ini.
Vicky memutuskan untuk masuk ke kamar mandi, setidaknya dia bisa mengurangi stress nya dengan air shower. Atau mungkin berendam.
Dia mulai melepas satu per satu kain yang melekat pada tubuh bisepnya dan masuk ke kamar mandi. Jemarinya memutar kran dan turunlah rintikan air dari atas.
__ADS_1
Mata Vicky terpejam dan otaknya mulai melayang jauh. Bayangan senyuman wanita yang sangat dia cintai mulai menghantui dirinya.
Senyuman indah yang selalu mengisi kekosongan jiwanya. Kata semangat yang selalu di ucapkan lewat pesan singkat di ponselnya.
Semua dukungan yang dia berikan, yang jelas membuat hidupnya semakin lebih berwarna. Semuanya terputar jelas bagaikan film yang di putar di bioskop.
"Kau Mencintainya?" tanya Vicky dengan wajah tak percaya.
Melati hanya mengangguk lirih, bibirnya mengatup rapat tak mampu memberikan penjelasan kepada pria bermata biru di hadapannya.
Keduanya terdiam, mta Melati mulai berkaca. Tampak penyesalan terdalam yang terpancar wajah cantiknya.
"Kalau memang kau sudah yakin, aku akan mendukungmu. Toh, perasaan juga tak dapat di paksakan bukan?" ucap Vicky mencoba menguatkan hatinya sendiri.
"Argh ... Melati, harusnya aku dulu memperjuangkan mu. Bukan malah mengikhlaskan mu begitu saja ..." ucap Vicky lirih dengan kepala masih berada di rintikan air shower.
Pintu kamar Vicky terketuk, membuatnya menghentikan aktifitasnya. Dia berdecak sebal dan membalut tubuh bagian bawahnya dengan handuk.
Kakinya melangkah keluar kamar mandi dan membuka pintu.
"Ada apa Ma?" tanya Vicky yang mengibaskan rambut basahnya.
Otot yang begitu indah dan berjajar rapi di perut, di tambah tetesan air yang masih membasahinya membuat stevy dengan susah payah meneguk liurnya.
"Siapa yang menyuruhmu kemari?" tanya Vicky sebal, sejujurnya dia tidak suka ada orang asing di rumahnya, terlebih masuk ke kawasan privasinya.
Ucapan Vicky tak membuat lamunan Stevy terpecah, dia masih lekat menatap jejeran otot yang seolah mengundangnya untuk menyentuhnya.
"Ehemm ... Hallo mesum. Bagaimana kau sudah puas melihat tubuh sexy ku?" tanya Vicky mengeraskan suaranya.
"Apa!" sahut Stevy mendengar ucapan Vicky.
"Wanita mesum, sering kali aku melihat seorang wanita sering di lecehkan. Baru kali ini aku me;lihat seorang wanita begitu tidak tau malu menatap tubuh pria sampai seperti itu." omel Vicky.
"Kau yang mesum, apa di rumahmu tidak ada kimono atau sejenisnya. Kenapa hanya melilit bagian bawahnya saja?" elak Stevy yang tak mau kalah.
"Apa! Ini rumahku dan itu semua terserah aku, kenapa jadi kau yang mengatur." ucap Vicky yang tak mau kalah.
__ADS_1
Suara pertengkaran mereka terdengar sampai lantai bawah, hal ini membuat Elisabeth segera naik tangga dan menuju ke arah kamar Vicky
Matanya menatap kedua orang yang saling adu mulut, pemandangan ini mengingatkannya saat 20 tahun silam.saat bertemu keduanya selalu ribut, tak pernah ada perdamaian di antara mereka.
Elisabeth tersenyum kecil dan melangkah mendekati kedua makhluk di hadapannya.
"Hallo guys, bisa sedikit dipercepat debatnya? Ada sesuatu yang harus kalian tau." ucap Elisabeth memeluk keduanya.
"Sejak kapan Mama mengizinkan orang asing masuk rumah. Terlebih di kamarku," celetuk Vicky.
"Hey aku belum masuk kamarmu, matamu buta? aku masih berdiri di sini." sahut Stevy.
"Mama ... Aku tidak suka dia, dia sangat tidak sopan," ucap Vicky melempar pandangan ke Elisabeth.
"Apa ... Kalau aku tidak sopan, pasti aku sudah memakan bareng yang ada di balik handuk itu. Dasar sok keren!" Mata Stevy melotot sempurna.
"Sudah, ayo ... Kalian harus bersiap dengan pengumuman bahagia," ucap Elisabeth melerai.
Dia segera merangkul pundak Stevi dan menuntunnya untuk melangkah pergi, sesekali dia menoleh ke belakang dan menjulurkan lidahnya.
Semua itu di balas hal yang sama oleh Vicky, keduanya sudah seperti anak TK saat berkelahi dan saling mengolok.
***
Beberapa menit kemudian, semua penghuni rumah sudah duduk di meja makan. Di hadapan mereka sudah tersaji hidangan makan malam yang membuat cacing-cacing di perut berdemo ria.
Biasannya hanya 2 orang yang duduk di meja panjang ini, namun malam ini ada tamu yang sangat di nantikan oleh nyonya rumah.
"Vicky, kenalkan. Ini Stevi putri dari tante Laurent. Apa kau masih ingat?" tanya Elisabeth menatap putranya yang masih menapakkan wajah sebalnya.
"Tidak, aku tidak ingat ama sekali." sahut Vicky tanpa pikir panjang.
Elisabeth tersenyum kecil melihat tingkah putranya, tak ada bedanya dengan balita 5 tahun yang ngambek. Padahal usianya saat ini sudah menginjak 26 tahun, namun tak ada sikap dewasa sama sekali.
"Mama dan Tante Laurent sudah bersahabat begitu lama, dan kami pernah berjanji dengan satu sama lain. Walau ini terkesan kuno, tetapi kalian perlu tau," ucap Elisabeth melempar senyum ke Vicky dan Stevy bergantian.
"Apa sih Maa ... Jangan berbelit-belit. Aku masih ada urusan," dusta Vicky yang mulai bosan.
__ADS_1
"Mama dan tante Laurent menjodohkan kalian, kami harap kalian bisa menerima satu sama lain," ucap Elisabeth mantap.