
“Kak Andre. Apakah aku sedang bermimpi ? Jika memang ini adalah mimpi, tolong jangan bangunkan aku. Karena aku benar-benar merindukannya”.
“Tidak. Kamu tidaklah sedang bermimpi. Cepatlah ! kita harus melarikan diri dari orang-orang jahat itu”.
Andre menggenggam erat tangan Abel. Ketika merasa telah aman, mereka melanjutkan perbincangan yang sempat terhenti.
“Syukurlah Allah masih berkenan mempertemukan aku dengan kamu. Kamu tahu betapa frustasinya aku mencari keberadaan kamu?”
“Jadi ini benar-benar terjadi. Aku tidaklah sedang tertidur dan bermimpi ? Ini benar-benar Kak Andre ?”
“Iya ini Kakak. Kak Andre ada disamping Abel. Dan kak Andre gak mau kehilangan Abel untuk yang kedua kalinya. Coba Abel lihat, surat ini adalah surat terakhir yang Abel berikan kepada kakak. Sedetikpun kak Andre tak pernah menyimpannya. Kemanapun kak Andre pergi, surat ini selalu kakak genggam dengan erat”.
__ADS_1
... *juni 2018
Dear Kak Andre . . . ,
Sebelumnya Abel memohon maaf dengan sebesar-besarnya atas sikap Abel yang mungkin sangat membingungkan kak Andre. Jujur Abel sendiri tak mengerti dengan apa yang Abel rasakan. Kak Andre bilang mau tanya tentang perkataan Abel terakhir waktu di halte bus. Ingin rasanya Abel menjelaskan kepada kakak secara langsung. Tapi kepergian kak Andre sangat mengagetkan bagiku.
Kenapa Abel pernah bilang bahwa seharusnya kita tidak pernah bertemu ? Karena sejak awal pertemuan itu, ada rasa yang sebelumnya tak pernah Abel rasakan. Rasa kagum. Rasa suka. Bahkan rasa sayang. Dan lebih dari itu, yaitu rasa Cinta. Iya . . . Abel menyukai sikap kakak yang selalu memperdulikanku.Abel menyayangi kakak sebagaimana rasa sayang terhadap diri sendiri. Dan Abel mencintai semua yang ada di diri kak Andre.
Tapi Abel sadar, bahwa apa yang Abel kehendaki tidak akan menjadi milik Abel. Abel ga mungkin merusak hubungan yang telah kakak jalin. Mungkin itu jawaban Abel buat kakak yang selalu bertanya-tanya atas perubahan sikap Abel. Karena hati kak Andre telah ada yang memiliki dan aku sadar bahwa kehadiranku hanya akan menghancurkan kebahagiaan yang telah tercipta sebelumnya.
Pada saat hari dimana aku terakhir melihat kakak, keberanianku tidaklah kuat. Mungkin aku hanya seorang pengecut yang bersembunyi dibalik zona nyaman. Aku melihat betapa bahagianya kakak karena bisa lulus sekolah. Hari itu aku hadir buat kakak.
__ADS_1
Dan kini. . . tak ada lagi yang menyapa pagiku. . . tak ada yang menemani senjaku. . . Aku merindukanmu
kak Andre. . .
Amberlie Delmora Lazuardi*
***
“Kak Andre akan menunggu sampai Abel mau menceritakan yang sedetail-detailnya”.
“Jika diperkenankan, izinkanlah Abel untuk menunaikan janji yang tertulis dalam surat tersebut. Abel akan menjelaskan seluruhnya kepada kak Andre. Bahwa suatu pagi pertama kita bertemu, Abel telah kagum dengan ketulusan kak Andre. Senyuman yang kak Andre berikan seolah menjadi penyemangatku. Dan lagi, kak Andre yang menolong Abel ketika Abel sedang susah. Kak Andre bagaikan sosok pahlawan dimata Abel. Kian hari, Abel mulai menyukai kak Andre. Hingga pada suatu hari ada perkataan yang mengatakan bahwa kak Andre telah memiliki kekasih. Aku tidak mau menjadi perusak dalam hubungan orang. Dan aku lebih memilih untuk mundur. Hal tersebutlah yang menjadi alasan atas perubahan sikapku kepada kak Andre”.
__ADS_1
“Jika benar apa yang kamu ucapkan. Maka sama halnya dengan kak Andre. Jika ada orang yang mengatakan tidak mungkin jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak bagi kakak, karena Kakak telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Kakak selalu berusaha melindungi dan menjaga Abel, tidak peduli bagaimana perubahan sikapmu kepada kakak. Kakak akan tetap menjadi sosok pahlawan bagimu. Kakak selalu memperhatikan Abel. Ketika Abel menunggu di halte bus, sesungguhnya kamu tidaklah sendiri. Kak Andre selalu menemani Abel dengan jarak yang tidak dapat Abel pandang. Mungkin hanya itu yang bisa kak Andre lakukan, menjagamu tanpa harus membuat kamu merasa tidak nyaman”.
“Jika memang benar seperti itu. Bagaimana dengan perasaan kekasih kak Andre?”