
Kata orang cinta itu tak harus memiliki. Kalau mencintai seseorang maka harus bisa membuatnya bahagia. Walaupun bukan bersama kita kebahagiaan itu tercipta. Jika dia bahagia dengan pilihannya saat ini, lalu kenapa masih mempertahankan cinta sepihak ini ?
***
“Abel. . . ada tamu tuh. Katanya temen sekolah kamu”.
Suara mamah malam itu membangunkan tidur lelap Abel. Dilepaskanlah headset yang terpasang ditelinganya. Kaki kiri, lalu kaki kanan bekerja bergantian.
“Mah. . tolong mamah bilang aja kalau aku udah tidur”.
“Lho, tapi kenapa ? Itu temannya kasihan malam-malam katanya mau melihat keadaan kamu”.
“Aku gak mau ketemu sama dia mah”.
***
Pagi hari. Perlahan Abel membukakan matanya. Matanya tertuju pada sinar mentari yang menerobos melalui jendela. Seolah berbanding terbalik dengan keadaanya saat ini yang begitu kelabu. Ia memutar pandangannya dan melihat bingkisan disebelah tempat tidurnya. Semalam, Abel memang tak menjumpainya. Kata mamah dia langsung pulang, dan menitipkan bingkisan ini. Sepucuk kertas yang nampak di dalam kotak.
... Juni 2018
Dear Abel . . . ,
*Jujur sampai detik ini, aku ga mengerti atas perubahan sikapmu. Kakak hendak menanyakan perkataan Abel tempo lalu, saat kita duduk di halte bus. Kalau waktu masih mengijinkan kita untuk bertemu, biarkan kakak melihat lesung pipit yang tersimpul di wajahmu. Izinkan kakak untuk mendengar lembutnya suaramu. . .Lusa, adalah hari pelulusan kakak. Kakak berharap besar kamu hadir. Walaupun kehadiranmu bukan untukku. . . .
__ADS_1
Andre F Damanik*
***
Detik demi detik. Waktu berlalu pergi. Sinar mentari bersinar dengan cerianya. Burung-burung bernyanyi menyambut hangat pagi. Tak mau kalah suara ayam jago membangunkan lelapnya tidur setiap insan yang bernyawa.
Layaknya anak ayam yang kebingungan karena kehilangan induknya. Begitulah yang dirasakan Abel. Dilema ia antara pergi atau tetap berdiam diri tanpa melihat pahlawan paginya di hari istimewa tersebut. Yaa. . . hari ini adalah hari pelulusan Andre. Tetapi rupanya langkah kaki Abel seakan menanggung beban yang teramat berat sehingga sulit untuk dilangkahkan.
Satu bus telah berlalu. Dua bus. Tiga bus. Abel masih tetap pada posisinya tanpa melakukan perubahan sedikitpun. Sepucuk surat digenggamnya erat-erat. Dibuka, dibaca, kemudian ditutup kembali. Kegiatan tersebut dilakukannya berulang-ulang. Walapun sebenarnya ia telah paham betul isi surat yang diberikan oleh Kak Andre tersebut.
Matahari nampaknya tidak malu-malu lagi. Kini ia bersinar lebih terang dari waktu-waktu sebelumnya. Saat melihat jam yang menghiasi tangannya, benar bahwa hari semakin siang. Abel memutuskan memilih bus yang berhenti berikutnya untuk mengantarnya ke tempat yang dituju.
Setelah menurunkan kaki dari bus. Rupanya keresahan semakin menyelimuti pikiran Abel. Ia tak mau menemui Andre. Tapi ia tidak mungkin kembali ke rumah dengan tangan kosong. Setelah Abel memastikan bahwa Andre berhasil menyelesaikan sekolahnya, barulah ia pulang. Penglihatan Abel tidak begitu jelas. Karena ia hanya melihatnya dengan jarak yang tak cukup dekat. Bahkan orang yang diperhatikan oleh Abel tidak menyadari kehadirannya.
Tidak dapat dipungkiri Abel merasa bahagia karena Andre berhasil lulus sekolah. Ingin rasanya Abel bertatap muka langsung, menjabat tangannya, dan memberikan ucapan selamat. Tetapi bak benteng yang sangat tinggi menghalangi mereka untuk saling bertemu, bahkan hanya sekedar menegur sapa tak dapat mereka lakukan.
***
Tetesan air mata langit membasahi tanah yang gersang. Cukup lama berdiam diri sendiri menunggu hujan reda. Kekhawatiran melanda hati, ketakutan jikalau pintu gerbang sekolah telah terkunci rapat.
“Biasanya kalo Abel sedang kesusahan kak Andre selalu muncul memberikan pertolongan, bahkan tanpa diminta sekalipun”.
Hati Abel berbisik lirih. Kehilangan mulai terasa. Abel benar-benar tersadar bahwa Andre kini sudah tak berada di sampingnya lagi. Tak ada sosok yang menyambut paginya. Menunggu bus saat waktu larut sore pun ia sendiri. Kini Abel menyadari bahwa ia telah jatuh cinta kepada Andre. Namun, apalah daya ia seorang wanita. Sebesar apapun kasih sayang yang ia rasakan, tak mampu tuk diungkapkan.
__ADS_1
Dengan langkah yang percaya diri. Tatapan mata yang optimis. Lesung pipit yang tersimpul dipipinya, sangat berbanding terbalik dengan kedaan hati yang sesungguhnya. Cukup pandai memang dalam menyembunyikan lukanya. Namun ia sedikit terhentak ketika temannya menanyakan hubungannya dengan Andre. Cukup lama mulutnya terkunci, tak tahu kata apa yang harus keluar dari mulutnya.
“Baik-baik saja”.
Mungkin kata itu yang hanya mampu Abel ucapkan. Tanpa ada penjelasan yang lebih detail, ia mengalihkan topik pembicaraan. Rupanya Abel tidak mau sedikitpun berbagi kesulitan kepada orang lain. Karena baginya, masalah ini tercipta karena kesalahannya sendiri yang tak bisa mengendalikan persaannya, jadi tak berhak seorangpun mengetahui atau bahkan merasakan kesulitan yang kini menimpa dirinya.
*********************
Kali ini author akan memberikan visual dari Amberlie Delmora Lazuardi (Abel) dan Andre F Damanik nih.
sebelumnya author minta maaf jika visualnya tidak sesuai dengan apa yang readders harapkan.
Ini sosok Abel dengan lesung pipit yang menambah kemanisannya
Dan ini sosok Andre Ferdiansyah Damanik. Cowok yang sangat tampan disertai dengan penampilan nya yang keren.
💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙
Jangan lupa untuk like dan koment yaa kakak.
__ADS_1
Untuk mendukung author dalam mengembangkan karya-karya berikutnya.
Terimakasih🥰🥰🥰🥰🥰🥰