
Kini hari-hari terasa lebih berseri. Walaupun kicauan burung sangatlah sulit didengarkan ditengah hirup pikuknya keramaian kota. Tak ada suara ayam berkokok yang menyambut paginya. Ia sangat bersyukur masih berada disamping orang yang ia cintai.
“Ada yang bisa kami bantu mbak ?”
“Saya rekannya Pak Andre. Bisakah saya bertemu dengan atasan anda ?”
“Maaf bu, Pak Andre sedang tidak berada diruangannya. Tadi saya lihat Pak Andre keluar.”
“Kalau boleh saya tahu kemanakah perginya Pak Andre ?”
“Bukannya saya tidak mau memberi tahu, tapi maaf sekali lagi, saya benar-benar tidak tahu kemana perginya Pak Andre”.
“Baiklah. Terimakasih. Maaf telah mengganggu waktunya”.
“Adakah pesan yang ingin ibu titipkan buat Pak Andre ?”
“Emmm, sepertinya tidak ada. Sekali lagi terimakasih”.
Abel segera pergi dari kaffe AFD. Mendengar penjelasan karyawan tersebut, terpaksa Abel berlalu tanpa sempat bertemu Andre. Niatnya, ia ingin mengajak Andre makan siang bersama.
__ADS_1
Ketika perjalanan kembali, ia melihat pria yang tak asing baginya.
“Tunggu dulu. Tapi siapakah wanita yang duduk disampingnya ? Tenanglah. . . jangan terbawa emosi, kamu harus lebih dewasa sedikit Abel !”
Tapi apakah Abel masih bisa tenang saat ia melihat dengan kedua matanya bahwa wanita tersebut memeluk sosok pria yang tak lain dan tak bukan adalah Andre.
Ketika Abel berlari, rupanya larinya tidak secepat kuda, Andre mengetahui kehadiran Abel dan segera mengejarnya.
“Tunggu dulu biar kakak jelaskan. Apa yang Abel lihat tidak seperti apa yang ada dipikiran Abel”.
“Lepaskan tangan Abel kak. Karena memang Abel bukan siapa-siapa kakak, sehingga Abel tidak mempunyai hak untuk melarang apa yang dilakukan oleh kak Andre”.
“Iiihh apaan sih kakak. Pede nih. Marah. . . kenapa pula aku harus marah ? Silahkan kakak selesaikan terlebih dulu urusan kakak dengan wanita itu. Setelah itu, Abel akan mendengarkan penjelasan langsung dari mulut kak Andre”.
Andre tidak memberikan jawaban atas apa yang dikatakan Abel. Ia langsung menarik tangan Abel dan membawanya kepada wanita yang duduk dikursi menunggu Andre kembali.
“Abel, coba lihat ! Barangkali kamu mengenali siapa orang ini”.
“Memangnya siapakah dia, kak ? Apakah kita pernah ketemu sebelumnya ?”
__ADS_1
“Boleh kamu tengadahkan kepalamu agar Abel bisa melihatmu”.
“Aku malu. . . aku malu jika harus melihat Abel. Dulu aku selalu bersikap angkuh kepada Abel. Tapi sekarang, semuanya berbanding terbalik. Kamu telah sukses Abel, sedangkan aku malah semakin terpuruk”.
“Tidak perlu kamu malu kepada aku. Semua yang aku miliki bukanlah milik aku seutuhnya, melainkan itu semua adalah titipan Allah Swt.”.
Abel mencoba meyakinkan wanita tersebut untuk selalu percaya diri, dan tidak usah minder kepadanya. Lalu ditengadahkanlah kepalanya.
“Gina . . . Benarkah ini Gina ?”
Rupanya wanita yang duduk bersama Andre adalah Gina. Sama sekali Abel tidak mengenalinya karena penampilannya sangat jauh berbeda dengan yang dulu. Sekarang terllihat seperti tidak terurus, baju yang tidak jelas warnanya karena telah memudar, rambut yang kusut, kulit yang nampak gelap. Kasihan dan iba hati Abel melihat kondisi Gina yang sekarang ini.
“Apa yang terjadi dengan kamu Gina ? Kenapa kamu sekarang seperti ini”. Tanya Abel dengan penuh penasaran.
“Ayahku meninggal ketika hendak melakukan perjalanan menuju Batam. Kapal yang mengangkut Ayah diterjang gelombang yang sangat ganas. Sehingga tidak ada seorangpun yang berhasil selamat dari peristiwa naas tersebut. Sejak saat itu tidak ada pemasokkan uang bagi keluarga kami. Ibuku sudah renta dan tidak kuat bekerja. Apalagi aku tidak punya saudara. Kami hanya bergantung kepada tunjangan pensiunan ayah."
"Namun uang tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup kami. Hutang kami disana-sini, bank, bahkan renternir. Harta kami sedikit demi sedikit habis. Rumah peninggalan ayah disita bank karena kami tidak mampu membayar cicilannya. Terpaksa kami tinggal dijalanan. Ibu tidak mampu bersahabat dengan kondisi luar, sehingga ibu meninggal 6 bulan yang lalu."
"Sejak saat itu aku benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi. Apapaun aku lakukan untuk tetap bertahan hidup di dunia ini, termasuk mengorek-ngorek tong sampah demi sesuap nasi. Ketika aku mendengar kalian berdua telah sukses, jujur aku malu atas apa yang telah aku perbuat dahulu. Dan ketika aku bertemu kembali dengan kak Andre, aku refleks dan memeluk kak Andre, tapi itu semua karena kak Andre masih mau membantu aku dengan kondisiku yang seperti ini. Sungguh kamu tidak perlu marah atau cemburu kepada kak Andre. Kamu memang pantas mendapatkan kak Andre. Maafkan aku kak Andre, Abel, aku tahu sikapku dahulu telah membuat kalian terluka”.
__ADS_1
***************