
Benar bahwa kejahatan tidak perlu dibalas dengan kejahatan kembali. Ia sudah cukup
terluka menanggung dosa masa lalunya. Abel tidak mau menambah beban hidupnya.
Bahkan jika bisa ia ingin menghilangkan penderitaan yang menimpa setiap orang.
Sekalipun orang tersebut telah jahat kepadanya, bagi Abel itulah yang membuat
Abel menjadi pengusaha sukses seperti saat ini. Karena cacian mereka Abel
jadikan motivasi agar bisa sukses.
Terbukti, sekarang telah banyak sawah yang ia beli, hektaran lahan perkebunan, renovasi rumah kedua orang tuanya, serta membangun rumah buat dirinya sendiri. Ayah dan Ibunya telah berangkat umroh,
dan sekarang sedang proses menunggu tahun yang telah ditentukan untuk berangkat
menunaikan ibadah haji.
Tidak ada sedikitpun dendam diantara Abel, Andre dan Gina. Gina bekerja di Resto Abel. Sekarang mereka hidup
bersahabat.
“Kakak bangga dengan sikap kamu. Kamu benar-benar telah tumbuh menjadi gadis dewasa. Tidak sedikitpun kamu
membencinya, padahal dulu sikap Gina diluar batas kepadamu. Sekarang kamu malah
menolongnya. Kamu juga mau mendengarkan penjelasan kakak, tidak pergi begitu
saja tanpa alasan. Terimakasih Abel”.
“Alhamdulillah. Abel seperti ini karena belajar dari masa lalu, kak. Abel tidak mau pergi tanpa tahu kebenarannya
terlebih dahulu. Karena jika hal seperti itu Abel lakukan kembali, penyesalan
akan menghampiri Abel. Abel tidak mau lagi berpisah dengan kak Andre. Sehingga
Abel selalu berusaha untuk befikir postif dengan kepala yang dingin agar tidak
salah dalam melangkah”.
***
__ADS_1
Tepat hari ini pada tanggal 25 November usia Abel bertambah 1 tahun. Harapan ia sangat besar untuk mendapatkan ucapan selamat dari orang-orang yang berada disekitarnya. Karena ucapan
langsung dari kedua orang tuanya tidak mungkin ia dengar, melainkan melalui
ponsel sebagai media perantaranya.
Ternyata ekspektasi berbanding terbalik dengan realita.
Bukannya mendapatkan ucapan, bahkan orang-orang nampak sibuk dengan
aktifitasnya masing-masing. Ucapan ‘selamat datang’ yang biasa ia dengar dari
security, pagi itu tak ia dapatkan.
“Tak apalah. Lagian tidak begitu penting juga sebuah ucapan. Toh mereka sedang asik dengan pekerjaannya sendiri”.
Abel mencoba tenang. Positif thinking itulah yang selalu dilakukannya. Tiba-tiba Abel dikagetkan dengan suara yang memanggil-manggil namanya dengan penuh histeris.
“Ada apa ? Tenangkanlah dirimu ! ini minum dulu, lalu ceritakan secara perlahan-lahan.”
Abel memberikan segelas air putih kepada Sri, salah satu pegawai di Restonya.
“Gawat Bu”.
“Pak Andre, Bu. Pak Andre temannya ibu dari kaffe AFD”.
“Iya, itu memang teman saya. Kenapa dengan dia ? Apakah ada yang salah ?”
“Dia kecelakaan. Ibu diminta untuk menemuinya sekarang juga”.
“Apaa ???? Kecelakan. . . kecelakaan dimana ? Bagaimana kronologisnya ?”
“Cepat, Bu. Tak ada waktu lagi, Ibu harus segera menemuinya sebelum semuanya terlambat”.
Tak karuan perasaan Abel. Pikirannya entah kemana.
‘Bagaimana dengan Andre ? Apakah dia baik-baik saja ?’
Itulah pertanyaan yang ada dalam benaknya. Karena ia masih belum mendapatkan kabar
yang pasti tentang situasi terkini Andre. Setelah ia tiba di Kaffe AFD sama
__ADS_1
sekali ia tidak mendapati Andre berada disana.
“Tidak ada yang mengetahui
keberadaan Pak Andre, Bu. Tadi kata orang Pak Andre dibawa ke Rumah Sakit
terdekat. Sampai saat ini kami masih mencari dimana Pak Andre”. Terang seorang
pegawai Kaffe tersebut.
Mendengar perkataan itu, benar-benar entah apa yang ada dipikiran Abel. Ia berusaha mencari tahu posisi Andre saat ini. Klinik, puskesmas, rumah sakit terdekat telah ia datangi. Hasilnya nihil. Tidak ada kabar tentang Andre
sedikitpun. Bahkan yang menambah tak karuan pikiran Abel, semua pihak yang
ditanyai selalu menjawab,
“Tidak ada kasus kecelakaan hari ini. Disini juga
tidak ada pasien dengan nama Andre Ferdiansyah Damanik”.
Abel tak tahu lagi harus kemana ia melangkahkan kakinya. Kemana ia harus mencari Andre.
”Ya Allah ! Tolong berikanlah petunjukmu ! Dimanakah Kak Andre sekarang ? Barulah sekejap aku
berada disampingnya, janganlah kau ambil dia dari hidupku secepat ini.” Dering
ponselnya sama sekali tak mengubah moodnya saat itu, karena nama yang tertera dilayar bukanlah Andre, melainkan Sri salah satu pegawai di Restonya.
“Jika kamu menelpon saya untuk menyuruh saya pulang. Saya gak akan pulang sebelum berhasil menemukan Andre. Tolong kamu handle resto saya dulu”.
“Lebih baik ibu pulanglah. Pak Andre berhasil ditemukan oleh warga”.
***************************************************************************
Terimakasih kepada semua yang telah berpartisipasi dan mendukung aku.🥰🥰🥰🥰
Tetap semangat dan sehat selalu yaa !!!!💪💪💪💪💪
Tinggal 1 episode lagi nih. Setelah novel ini selesai, aku akan membuat judul yang baru dengan kisah yang berbeda pula. . .😍😍😍😍😍😍
Mampir terus ya di karya aku selanjutnya.
__ADS_1
Terimakasih💙💙💙💙💙💙💙