Berpisah Untuk Bersatu

Berpisah Untuk Bersatu
Sosok Gina


__ADS_3

Gina adalah seorang gadis remaja yang modis, kekinian, fashionable, dan merasa berkuasa di sekolah. Wajar saja, karena ayahnya adalah orang nomor satu di sekolah tersebut. Gina selalu menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya. Hal tersebutlah yang membuat orang-orang enggan berkawan dengannya. Bahkan berbicara dengannya pun orang-orang akan berpikir panjang kali lebar terlebih dahulu.


Sejak awal masuk sekolah hubungan Abel dengan Gina memang kuranglah harmonis. Tidak pernah berbincang-bincang layaknya seorang teman. Bahkan bertegur sapa pun tidak terjalin diantara keduanya. Sering kali Abel selalu membuka pembicaraan terlebih dahulu. Malangnya, bukannya mendapat balasan, justru ia ditinggalkan tanpa sepatah kata apapun dengan sorotan mata yang sinis. Sampai detik ini Abel sungguh tidak mengerti atas sikap Gina yang selalu cuek terhadapnya. Hanya saja orang lain beranggapan bahwa Abel lebih baik, rendah hati, dan mau bergaul dengan siapa saja. Walaupun Abel adalah anak yang pintar. Tapi ia tidak pernah pelit ilmu, ia selalu mengajarkan anak-anak lain yang kurang bisa.


Ketika suatu hari Abel memasuki kelas, tubuhnya tersungkur ke lantai. Terlihat kaki yang mengganggu lagkahnya. Siapa lagi kalau bukan Gina pembuat onar di kelas itu.


“Kasihan ya hidup kamu. Baru aja deket, ehh ditingalin gitu aja”.


Abel perlahan bangkit, menepuk-nepuk kedua tangannya agar debu yang menempel bisa lepas. Tidak sedikitpun ia menunjukkan emosinya. Bahkan terlihat sangat santai dalam menghadapi masalah itu. Bagi Abel, jika api dilawan oleh api, maka sampai kapanpun tidak akan menemukan titik damainya.

__ADS_1


“Kamu kok bisa ya deket sama pria yang sudah memiliki kekasih. Kamu ini wanita, harusnya tahu gimana sakitnya diperlakukan seperti itu”.


Langkah Abel tiba-tiba terhenti. Pikirannya kembali kepada suatu waktu di kantin ketika orang berkata


“Jangan terlalu dekat sama dia. Dia sudah ada yang punya”.


Perkataan tersebut selalu menghantui Abel. Kini ia tahu siapa yang berbicara. Suara keduanya sama persis. Makna yang terkandung di dalamnya sama pula.


“Kamu pura-pura gak tahu apa memang tidak mau tahu ? Semua orang sudah tahu kalau kamu itu orang ketiga yang hadir dihubungan orang lain. Apa kamu tidak sadar itu ?”

__ADS_1


Sekejap Abel menjadi pusat perhatian. Semua mata tertuju kepadanya. Terdengar suara orang berbisik-bisik lirih. Bertanya-tanya tentang kebenaran yang dituduhkan Gina kepada Abel. Tidak sedikit pula diantara mereka yang tidak mempercayainya. Namun ada pula yang langsung menelan kabar angin tersebut.


“Kenapa kamu diam ? Karena kamu merasa, kan ? Kak Andre. Bukankah ia dekat dengan kamu? Dan kamu tahu bahwa kak Andre telah memiliki tambatan hati namun kamu menutup mata dan telinga tentang itu. Kamu memang cantik, pintar. Tapi apakah setelah ini orang-orang akan memandangmu seperti iu ?”


“Semua yang kamu ucapkan, tidak seperti apa yang sesungguhnya. Saya tidak akan menjelaskan, karena saya yakin kamu tidak akan mempercayainya. Tapi kamu harus tahu, saya dengan kak Andre hanyalah sebatas adik dan kakak kelas, tidak lebih”.


Abel segera berlalu meninggalkan tempat kejadian perkara.


Dibawah pohon yang rindang, duduklah ia seorang diri. Abel sungguh merasa sakit hatinya dengan perkataan Gina. Apalagi tuduhan Gina yang menyebut dirinya sebagai ‘orang ketiga’. Diusaplah sedikit demi sedikit air mata yang berjatuhan membasahi pipinya.

__ADS_1


“Sungguh tidak terlintas sedikitpun niatan di benakku untuk hadir ditengah-tengah hubungan orang lain. Pertemuanku dengan kak Andre, semuanya benar-benar diluar nalarku. Kenapa semuanya jadi serumit ini ? Kenapa hatiku jatuh kepada orang yang salah ?”


********


__ADS_2