Berpisah Untuk Bersatu

Berpisah Untuk Bersatu
Rahasia Andre F D


__ADS_3

Begitu terperanjatnya Abel saat seseorang mendekatinya dari belakang, sedikit rasa takut kalau dia akan berbuat jahat. Namun ternyata, pikiran itu salah. Orang itu adalah pahlawan pagi.


Kebingungan Abel semakin bertambah, kenapa dia masih disini ? Dengan baiknya, dia menawarkan diri untuk menemani Abel menunggu bus.


Belum ada jawaban dari Abel mengenai tawaran yang pria itu berikan. Ia masih tetap berdiri. Sampai akhirnya Abel hanya mampu menjawabnya dengan anggukan.


***


‘Assalamualaikum. Jangan tidur terlalu malam. Awas besok bangunnya kesiangan. Dan jangan sampai nabrak orang lagi ya 😄.'


Itu pesan yang Abel terima, ketika mendapati ponselnya berdering. Andre F D, nama pengirim yang tertera dilayar ponsel. Ya, dialah sosok pahlawan pagi. Setelah mereka berbincang-bincang sambil menunggu bus, pria itu memperkenalkan namanya terlebih dahulu. “Andre Ferdiansyah Damanik”, katanya. Dan Abel melihatnya di name tag. Persis seperti yang ia ucapkan. Abel pikir ia akan ikut pulang bersamanya naik bus, ternyata tidak. Ia bilang bahwa kost-an nya dekat sini jadi gak perlu naik bus.


“Apa mungkin dia rela menemaniku menunggu bus ?” pertanyaan itu tiba-tiba muncul di pikiran Abel.


‘Iya, aku hanya nemenin ade. Soalnya ini udah sore, masa nunggu bus sendirian. Itu gak baik’.

__ADS_1


Itu jawaban yang pria itu berikan saat ditanya melalui pesan singkat. Lagi-lagi ia adalah sosok pahlawan bagi Abel, ia selalu membantu Abel.


‘Ade’ begitulah ia memanggil Abel. Wajar saja, dia adalah kakak kelas di sekolahnya Abel. Ia duduk dibangku kelas 12, sedangkan Abel masih kelas 11.


***


“Perlu bantuan ?”


Perkataan itu seolah menyambut pagi hari yang baru tiba disekolah. Ini pertama kalinya seseorang menawarkan jasanya tanpa ada yang memintanya.


Benarlah ! Sosok itu tidak lain tidak bukan adalah ‘pahlawan pagi’. Dia benar-benar seorang pahlawan dimata Abel. Tidak pernah sebelumnya jantung Abel berdetak lebih kencang dari biasanya, mulutnya seolah terkunci tak mampu mengungkapkan sepatah katapun. Hanya bahasa tubuh yang bisa menjawabnya. Mengangguk, menggeleng, atau bahkan sesekali hanya tersenyum tersipu.


***


“Abel, aku ingatkan supaya kamu jangan terlalu dekat sama dia, dia sudah ada yang punya”.

__ADS_1


Perkataan seorang wanita siang itu menghantui pikiran Abel. “Ada yang punya. Apa makna dari kata itu ? apa mungkin hati pahlawan pagi telah ada yang menghuni ? Apa itu berarti aku tidak bisa dekat lagi sama dia. Tapi kenapa aku sedih ? Apakah aku benar-benar jatuh cinta kepadanya ?”


Pagi itu Abel bangun dengan muka kusut, lebih kusut dari biasanya Abel bangun pagi sebelum-sebelumnya. Semangatnya seolah memudar terkikis arus yang begitu keras.


"Pagi."


Suara itu, suara yang tidak asing ditelinga Abel. Abel tetap berjalan lurus tanpa menengok kepada sosok yang telah menyambut paginya. Dia terus bicara. Sedangkan Abel, seperti biasa hanya menjadi sosok pendengar yang baik.


“Dari kemarin kamu gak ada kabar, aku khawatir sama kamu?”


Perkataan itu yang membuat Abel terperanjat. Sejenak ia hentikan langkahnya, dilihatlah sosok yang dari tadi mengikuti langkah kakinya. Rasanya sulit untuk mengungkapkan kata-kata. Hening.


Hingga ‘ekhem’ suara itu membangunkan Abel dari lamunan.


“Maaf kak Andre, tapi aku sedang sibuk.”

__ADS_1


Tidak ada kata lain yang terucap lagi pagi itu. Bergegas Abel langkahkan kaki seribu meninggalkan sosok pahlawan paginya.


***


__ADS_2