
Mungkin ia bisa membohongi orang lain. Tapi tidak dengan hatinya. Ketika mulut mengatakan “Tidak”, tapi hati berkata sebaliknya. Sekeras tekadnya untuk berhenti memikirkan, kekuatan hatinya lebih kuat untuk selalu peduli. Sekencang kakinya melangkah berlari menjauh, hatinya bersikeras untuk kembali. Kemanapun ia membawa raganya pergi, bahkan ke tempat yang sulit dijangkau sekalipun, ia merasa bahwa separuh hatinya tertinggal.
Setelah sekian lama Abel mencari tempat tinggal Andre. Sampailah ia disebuah rumah petak yang dihuni oleh para perantau. Nampak pintu-pintu berjajaran membatasi kost-an satu dengan kost-an lainnya.
“Permisi kak, saya mencari kak Andre. Apa benar ini kost-an nya kak Andre ?”
“Ooh Andre. Iya ini memang kost-an nya Andre. Tapi dulu saat ia masih menjadi osis. Sekarang ia sudah pulang ke kampung dimana ia dilahirkan”.
Keadaan hening sekejap. Suara klakson motorlah
yang memecahkan kesunyian itu.
“Kamu siapanya Andre ? Ada yang mau disampaikan kepada Andre ? Kebetulan saya tetangganya Andre di kampung. Dan dalam waktu dekat saya juga akan pulang kampung”.
“Tidak kak, terima kasih. Maaf telah mengganggu waktunya. Kalau begitu saya permisi”.
__ADS_1
Benar-benar tak karuan perasaanya. Pedihnya bak di iris pisau tajam. Remuk jantungnya seolah terkikis gelombang yang menerjang dengan amat deras. Bahkan kata sedihpun seolah tak pantas untuk mengungkapkannya. Jika ada kata yang lebih dari itu, mungkin akan Abel ucapkan. Apalah daya nasi telah menjadi bubur. Apa yang ia sedihkan, apa pula yang ia tangiskan, tak ada gunanya. Menangis sederas apapun tak mungkin mengubah kebenaran bahwa ia kini telah kehilangan sosok yang teramat ia kagumi dengan sepenuh hatinya.
Tak terpancar kesenangan sedikitpun diraut mukanya. Bahkan ia sangat ingin malam berlalu lebih panjang dari biasanya. Abel tak mau menginjakkan kaki ke tempat yang menurutnya sangat bersejarah. Karena ketika melihat tempat duduk di halte, tak lain dan tak bukan, bayangan Andre seolah duduk di kursi yang telah disediakan tersebut.
“Kamu yang kemarin nyari Andre kan?”
“Emm, iya kak. Maaf kak, kok kakak bisa tahu
sekolah saya?”
“Kebetulan saya juga sekolah disini, dan baru lulus. Tapi karena masih ada yang harus saya selesaikan, jadi saya belum bisa meninggalkan sekolah ini ataupun kembali ke kampung tercinta”.
“Saya sudah sampaikan kepada Andre, rupanya kalian berdua telah saling mengenal. Andre bilang kalau kamu bisa menghubungi Andre ke nomor yang dulu. Dia masih sama kok, tidak berubah. Atau ada yang mau kamu titipkan buat Andre ?”
Abel tak bisa menjawab dengan cepat perkataan dari pria tersebut. Butuh proses untuk mengutarakan apa yang ia kehendaki. Dirogohlah kertas dari dalam tasnya. Kertas yang telah dilapisi dengan amplop berwarna pink yang tak lupa ditutup dengan rapat seakan tidak ada yang boleh mengetahui rahasia di dalamnya.
__ADS_1
“Maaf kak, kalau boleh saya mau titip ini buat kak Andre”.
Diterimalah surat yang diberikan oleh Abel. Dan mereka kembali dengan aktifitasnya masing-masing.
***
Perlahan tapi pasti, Abel berusaha keras untuk menghapus luka yang tergores dihatinya. Walau tak dapat dipungkiri hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak pernah sedikitpun ia menampakkan pilu. Sehingga orang mengira kehidupan Abel sangatlah menyenangkan. Tak apa, memang itu yang diharapkan oleh Abel.
Abel selalu menjadi bintang di kelasnya. Selain memiliki rupa yang menawan, kecerdasannya menambah ketertarikan orang kepadanya. Ada yang benar-benar tertarik kepada kepribadian yang dimiliki Abel. Ada pula yang tertarik untuk mengusik kehidupan Abel karena ia merasa iri atas apa yang ada di diri Abel. Terlebih semester inipun ia menjadi juara pertama dikelasnya. Semakin membuat Gina merasa tersaingi dan terkalahkan oleh Abel.
*****************
Author mohon dukungannya dari para readders 🥰🥰🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak😇
__ADS_1
Like dan koment🥰🥰
Terimakasih💙💙