
Mengangguk. Hanya bahasa isyarat itu yang Abel gunakan.
“Ingin kucoba tuk mengembalikan rasa ini. Rasa sebelum aku mengenal dia. Tapi bagaimana bisa, kalau sikapnya mampu membuat aku luluh dan terpana”.
Sore ini Abel duduk dikursi halte bus. Sambil sesekali menjawab pertanyaan orang-orang yang kepo.
“Iya aku gapapa kok, udah sembuh juga”.
Itulah jawabannya. Mungkinkah mereka tulus perhatian, atau hanya sekedar ingin tahu. Entahlah, tapi sore itu bus seakan tidak membutuhkan uang. Teman-temannya semakin berkurang. Mereka tidak sabar menunggu, dan memutuskan untuk naik kendaraan lain. Dijemputlah, atau bahkan mencari tumpangan.
“Kak Andre”.
“Ehh, hai . . . Lho Abel, belum pulang?”
Abel kebingungan sendiri. Apa yang harus dikatakan. Ia tidak bermaksud untuk memanggil namanya. Melainkan itu semua karena refleks.
__ADS_1
“Gimana udah sehat ?”
“Em. . .iy. . .iya. . .ud. . udah mendingan ko”.
Abel semakin malu dan memerah mukanya.
“Kamu ingat ga waktu hari pertama kita bertemu, kakak temenin abel nunggu bus disini”. Ka Andre seakan-akan mengajak Abel kembali ke masa lalu. Masa dimana semua itu bermula. Perasaan yang tak biasa ia rasakan kepadanya. Itu emang indah. Tapi itu awal kehancuran.
“Hari itu, seharusnya aku ga ketemu sama kak Andre”.
“Aku belum pernah sedekat ini sama pria. Kak Andre selalu menolong dan selalu ada saat aku kesusahan. Ternyata, aku salah mengartikan kebaikan kakak. Kakak orang pertama yang mampu membuat aku tertawa walau hanya melalui telepon genggam. Memberikan aku kenyamanan. Mungkin memang benar, bahwa bintang itu indah, tapi tanganku terlalu lemah untuk menggapainya. Dalam mimpi, aku bisa memilikinya. Namun nyatanya, ia terlalu indah untuk kumiliki. Egois kah bila aku mengharapkannya ?”
Detikkan jam lebih nyaring dari suara apapun. Tidak ada yang mengalahkan keheningan sore itu. Bahkan kendaraan pun seolah tidak mau menyaksikan kesunyian yang terjadi kala itu.
'Aku salah menjatuhkan hatiku. Andai aku bisa menolaknya. Andai aku bisa memilih, aku lebih memilih untuk tidak pernah bertemu dengannya. Namun, rasa itu hadir tanpa diminta. Ia tidak bisa memilih, apakah orang itu pantas atau tidak untuk dicintai. Yang ia tahu, ia begitu menyukainya.'
__ADS_1
Kamar kecil milik Abel terasa lebih luas. Kesepian melanda malam ini. Berdiam diri. Ia menengadahkan mata ke luasnya angkasa. Benar. . . hening, sunyi, bahkan bintang tak menampakkan gemerlap sinarnya. Bulanpun bersembunyi dibalik kelabunya awan hitam. Hanya separuh cahaya yang terlihat.
***
Waktu demi waktu. . . Detik demi detik. . . Hari demi hari. . . telah berlalu. . . sendiri, Abel sendiri, benar-benar sendiri. . . Tiada lagi sosok ‘pahlawan pagi’ tiada pula yang menemani kala ia sendiri menantikan bus. Abel benar-benar telah kehilangannya. Semakin keras tekadnya untuk menghapuskan pikirannya tentang dia, semakin keras pula hatinya memberontak. Karena pada dasarnya, hati tidak bisa berbohong meskipun mulut berkata mampu, tapi tidak dengan hati.
“Dia. . . apa mungkin mengerti dengan kata yang terucap dari mulutku tempo lalu. Kurasa tidak. Jika aku harus menggenggam duri, apakah aku kuat tanpa harus terluka ? Namun jika ia hanya bisa ditatap, bahkan dari jarak 1000 meter, apalah daya diri ini ? Jika ia terlalu sulit untuk dicintai, tetapi apakah melupakannya itu mudah ?”
Kata orang cinta itu tak harus memiliki. Kalau mencintai seseorang maka harus bisa membuatnya bahagia. Walaupun bukan bersama kita kebahagiaan itu tercipta. Jika dia bahagia dengan pilihannya saat ini, lalu kenapa masih mempertahankan cinta sepihak ini ?
*************************
Author sangat memohon dukungan dari para readders 😊
Mari saling mensupport😇😇😇
__ADS_1