
Entah bagaimana aku bertukar badan dengan seorang CEO.
Pagi hari, aku terbangun karena sakit kepala dan sedang telungkup di lantai.
Aku bangun dan ingin menyalakan lampu, tapi kesandung seseorang.
Dia langsung marah, “Winda Gracia, kamu buta ya?”
Kami pun terbengong.
Ini … bukannya suaraku?
Jiwaku dan Erwin Hantoro tertukar.
——————————————
Kami duduk berhadapan dan terdiam.
Erwin mengerutkan alis dengan wajahku.
Sesaat kemudian, Erwin berkata, “Winda, kamu ngapain?”
Mungkin tidak terbiasa dengan suaranya, Erwin meraba leher yang tidak berjakun dan ekspresinya berubah janggal.
Aku menjawab dengan wajah polos, “Aku tidak ngapa-ngapain.”
Sebenarnya aku telah melakukan sesuatu.
Kemarin adalah hari peringatan tahun ketiga dari pernikahan kami, jadi aku menyiapkan satu meja masakan dan menunggu Erwin pulang.
Alih-alih kepulangan Erwin, aku dikirimi sebuah foto dari Sherline Christine.
__ADS_1
Sherline dan Erwin sedang makan bersama. Tatapan Erwin sangat lembut dan penuh asmara.
Erwin tidak pernah melihat aku sang istri sahnya seperti itu.
Setelah tiga tahun, aku benar-benar lelah.
Aku merenungkan dengan serius kenapa aku yang dulu bersikeras ingin menikah dengan Erwin. Apa otakku tidak waras?
Jadi aku ingin bercerai karena sepertinya cintaku pada Erwin tidak begitu dalam.
Malam ini saat Erwin pulang mabuk-mabukan, aku tidak menunggunya di depan pintu, tidak membantunya menggantung pakaian, bahkan tidak membuatkan sup pereda mabuk.
Aku menyandung Erwin di depan kamar sehingga Erwin langsung jatuh di lantai.
Dibandingkan dengan kekerasan emosional yang aku alami selama tiga tahun terakhir, hukuman kecil ini bukan apa-apa, ‘kan?
Aku berencana membiarkan Erwin di lantai untuk semalaman, lalu besok akan mengajukan cerai.
Sebelum pingsan, ternyiang sebuah kalimat dalam benakku, yaitu bagaimana ditanam, begitulah dituai.
Aku tentu tidak akan memberitahukan hal ini pada Erwin.
Erwin berkata dengan nada mendominasi seperti biasa, “Cari cara untuk tukar kembali.”
Erwin memegangi kening dan langsung mendesis, lalu pergi bercermin.
“Winda, kenapa dahimu?” Aura Erwin tidak berkurang walau menggunakan wajahku.
Aku memalingkan tatapan, “Kayaknya … tidak sengaja kebentur?”
Erwin mencibir sambil melihatku dengan jijik, “Dasar bodoh!”
__ADS_1
Aku langsung tersadarkan.
Aku berencana cerai, kenapa masih membiarkan Erwin meremehkanku?
Aku tersenyum dingin, “Kalau aku bodoh, kamu pria bajingan, ‘kan?”
Erwin terbengong, “Apa?”
Aku menguatkan diri, “Di hari peringatan pernikahan tidak pulang menemani istri, malah berpesta dengan wanita lain. Siapa lagi pria bajingan kalau bukan kamu?”
Erwin memalingkan tatapan, “Aku bukan sengaja, hanya lupa.”
Coba dengar apakah ini omongan yang pantas?
Ketika aku ingin lanjut menuntut, Erwin menatap dahiku, “Lalu kenapa dahiku?”
Aku pergi bercermin dan melihat lebam di dahi yang sama dengan di kepalaku.
Muncul sebuah tebakan dalam benakku.
Aku menghampiri Erwin dan memegangi wajahnya. Di tengah tatapan heran Erwin, dengan kuat aku membentur dahinya.
Phuum!
”Winda, kamu gila ya?” Erwin menatapku dengan tidak percaya.
Mataku berlinang karena kesakitan, lalu menjadi tenang seakan tidak terjadi sesuatu.
Aku menjawab pertanyaan Erwin dengan lugas, “Aku kan sedang cari cara.”
Erwin bertatapan tidak percaya, tetapi tidak memiliki bukti.
__ADS_1
Pada akhirnya kami juga tidak menemukan ide dan dihadapkan pada masalah berikutnya, yaitu bagaimana kami pergi kerja?