
Erwin pergi karena marah padaku
Setelah aku keluar, aku ke tempat gym dan berolahraga seperti orang gila selama satu jam di sana, setelah memastikan diriku tidak merasa kelelahan, aku baru kembali ke kamar untuk tidur sejenak.
Di hari kedua, aku dengan malu berbicara dengan Erwin.
Di awalnya kami berencana melakukan hal masing-masing, tapi Erwin tumben berinisiatif mau menggantikanku pergi kerja.
Reaksi pertamaku adalah memperingati: “Kamu mau pergi mukulin orang?”
Erwin mengangkat tangannya: “Aku sumpah, kalau aku mukul lagi maka aku adalah seekor anjing.”
Aku ingin melemparkan dokumen ke wajahnya: “Kamu sekarang adalah aku!”
Erwin meyakinkan beberapa kali.
Meskipun dia keterlaluan, tapi dia selalu melakukan apa yang dia ingin lakukan, tapi aku sedikit khawatir apa dia bisa melakukan pekerjaanku.
Erwin yang sulit dimengerti: “Winda, kamu meragukanku?”
Lupakan saja, anggap aku percuma bertanya padanya.
Direktur Erwin kan banyak kemampuan.
Aku gugup karena khawatir selama satu hari, tapi tidak diduga, ternyata Erwin bekerja dengan baik.
__ADS_1
Kami berkomunikasi lewat telepon dan chattingan di aplikasi chat mengenai pekerjaan, kami bisa bekerja sama dengan baik.
Kami melewati beberapa hari dengan kondisi seperti ini.
Pas setelah aku sudah mulai tidak khawatir, niat jahat Erwin akhirnya terungkap.
Dari awal saat dia menggantikan posisi kerjaku, aku telah menerima banyak sekali pesan seperti “Terima kasih” “Kopinya enak diminum”.
Erwin bilang dia hanya membantu rekan kerja yang kesulitan dalam kerjaan, terus memberikan beberapa gelas kopi ke rekan kerja juga.
Jadi aku tidak begitu peduli.
Tapi pada akhirnya, aku menerima pesan seperti “Bunganya sangat indah” “Terima kasih bunganya” Dengan beberapa foto yang bergambar bunga.
Aku bertanya ke dia lagi, dia bilang dengan alasan pekerjaan di kantor yang membosankan jadi dia membeli bunga sebagai hiasan.
Sampai di sini, aku melihat layar handphone menerima pesan suara “Suamimu sangat baik padamu” “Suamimu sangat murah hati” Baru menyadari telah kelolosan beberapa hal kecil.
Jadi aku melanjutkan obrolan dengan temanku, sampai membuatku hampir marah karenanya.
Erwin beberapa hari ini di kantor menunjukan perasaan kasih sayang yang gila, terus mengatakan pernikahannya sendiri sangatlah bahagia.
Untuk menguatkan pernyataannya, dia memesan teh susu atas namanya sendiri untuk diminum rekan-rekannya, dan itu bukan beberapa cangkir sama sekali, tetapi seluruh perusahaan!
Terus dia memesan sekeranjang bunga yang besar, kemudian dia pura-pura tidak tahu agar rekan kerjanya yang mengambilnya, bisa dibawa pulang ke rumah atau pun menyimpannya di kantor.
__ADS_1
Jadi sekarang seluruh perusahaan tahu bahwa aku adalah istri dari pria kaya yang disembunyikan, wanita yang sangat dicintai oleh suaminya, dan mengetahui hubungan kami yang sangat intim.
Aku saking marahnya sampai-sampai aku berjalan memutar di kantor.
Saat Pak Argus masuk, aku dengan marah memerintahnya: “Suruh Winda ke sini!”
Pak Argus sedikit terkejut: “Mau dipanggil ke sini?”
Aku lalu memberikan tatapan membunuh.
Pak Argus segera berlari keluar.
Tapi kutunggu sampai pulang kerja pun, Pak Argus belum juga membawa Erwin kesini.
Saat aku ingin pulang, Pak Argus membawa seseorang yang tidak diduga ke hadapanku.
Yang datang adalah Sherline.
Dia masuk ke kantor langsung memberikan tatapan yang penuh kehangatan: “Bang Erwin….”
Aku baru sadar, orang yang dicarinya adalah Erwin, jadi aku tidak terlalu terkejut.
“Ada apa?” Aku bertanya.
Sherline tersedak sejenak, terus berbalik dan meminta Pak Argus keluar.
__ADS_1
“Abang Erwin, barusan aku melihat…melihat” Sherline berkata dengan ragu.
“Kalau ada urusan, cepat katakan.” Aku sampai merasa gugup.