Bertukar Badan Dengan CEO

Bertukar Badan Dengan CEO
Bab 2


__ADS_3

Diketahui bahwa CEO Erwin mengelola sebuah perusahaan besar yang bergerak di berbagai bidang, serta menguasai kunci perekonomian. Dalam hitungan menit sudah bisa membuat keluarga lain bangkrut.


Aku adalah Nyonya Hantoro, tetapi bekerja di sebuah perusahaan kecil karena tidak disayangi dan tidak mau menjadi ibu rumah tangga.


Oleh karena itu, kami memiliki pendapat yang berbeda dalam masalah kerja.


Erwin tentu ingin tidak peduli dengan pekerjaanku dan ingin pergi ke PT. Harwin bersamaku.


Menurutku, Erwin seharusnya menggantikan aku pergi bekerja.


Erwin mencibir, “Sudah menjadi Nyonya Hantoro masih bekerja di luar. Memangnya berapa gaji di tempat kecil begitu?”


Aku mencibir balik, “Tidak ada pekerjaan yang terhormat atau rendahan. Aku tidak merasa CEO lebih terhormat dariku.”


Kami saling bertatapan dan tidak ada yang mengalah.


Aku merasa aku menang di aura karena badan Erwin yang tinggi kekar.


Pada akhirnya Erwin mengalah dan menyuruhku minta izin. Dia akan memberi kompensasi gajiku dan memberi bonus kalau aku menggantikan dia pergi bekerja. Barulah aku puas.


Segera, sopir Erwin datang menjemput, lalu kami masuk ke dalam mobil. Begitu melihatku, lebih tepatnya melihat Erwin yang memakai wajahku, Argus Budianto sang asisten berekspresi kaget dan terhibur.


Di dalam mobil, Pak Argus langsung memasuki mode kerja dan melaporkan agenda hari ini yang padat.


Aku asal mengiyakan dan berpikir dalam hati, setiap hari sibuk begini masih sempat berinteraksi dengan Sherline, capek sekali Pak Erwin.

__ADS_1


Sampai di kantor, aku menyuruh Pak Argus pergi, “Kamu keluar dulu.”


Erwin langsung berwajah masam setelah Argus pergi.


 “Tidak mirip,” kata Erwin dengan jengkel, “Bisa tidak kamu lebih teliti?”


Aku bersandar di sofa dengan acuh tak acuh, “Ini bukan urusanku.”


Erwin mengerutkan alis, “Winda, hari ini kenapa kamu?”


Wah, akhirnya sadar aku tidak memanjakan dia seperti biasanya?


Aku mengangkat alis dan berkata dengan tegas, “Aku mau cerai.”


Erwin tidak menganggapnya serius, langsung duduk di depan meja untuk menangani urusan kerja setelah melirikku acuh tak acuh.


Aku juga tidak peduli dengan sikap Erwin. Aku meminjam laptop Erwin dan bermain dengan asyik.


Enak sekali bisa makan gaji buta!


Di tengah itu, Pak Argus masuk sekali ke dalam kantor. Dokumen di tangannya hampir jatuh karena melihat “Winda” mengerutkan alis dan sibuk bekerja di meja CEO, sedangkan “Erwin” bermain laptop dengan santai di sofa.


Ketika Erwin bangun untuk merenggangkan badan dan melihat layar laptop saat lewat di depanku, ekspresi Erwin berubah serius, “Kamu serius?”


Aku sedang menelusuri artikel tentang surat pernyataan cerai dan mengangguk dengan girang, “Iya.”

__ADS_1


Erwin bertanya dengan serius, “Kenapa?”


Aku pun tertawa, “Kasih tempat untuk Sherline kamu. Bukannya kamu suka dia? Begitu aku pergi, kamu bisa nikahi dia dong.”


Aku menatap Erwin sambil bermain mata.


Wajah Erwin sangat masam dan tidak senang.


Mungkin terlalu menusuk mata karena aku menunjukkan ekspresi begini dengan wajahnya.


Berikutnya, Erwin terus memasang wajah masam.


Hampir jam sepuluh, Pak Argus masuk dan mengingatkan rapat akan segera dimulai.


Secara refleks Erwin berkata dengan dingin, “Oke.”


Pak Argus kebingungan.


Aku menahan tawa, “Oke.”


Pak Argus pergi keluar dengan heran.


Dengan wajah masam Erwin mengeluarkan headset, lalu memakaikannya pada telingaku, tetapi gagal karena tinggi badan.


Aku melipat tangan di depan dada sambil menatap Erwin.

__ADS_1


“Winda,” kata Erwin sambil menggertakkan gigi, “Kamu doakan saja kita jangan ditukar kembali.”


__ADS_2