
“Uhuk uhuk.” Erwin tiba-tiba tersedak air.
Tapi setelah batuk dua kali, dia memaksakan dirinya untuk berhenti batuk, ekspresinya mulai berubah, ekspresi yang sangat aneh dan membuat seketika tubuhku terasa tegang.
“Kenapa?” Aku berbicara dengan cemas.
Erwin menatapku dengan tatapan kosongnya: “Itu mengalir keluar.”
Aku termenung beberapa saat dan akhirnya aku tertawa terbahak-bahak.
Erwin dengan ekspresi bingungnya: “Dulu kalau bicara soal menstruasi selalu tertawa terbahak-bahak, ternyata begini rasanya, ini benar-benar tidak bisa ditahan.”
Erwin yang telah mengalami pengalaman luar biasa dalam hidupnya, akhirnya sampai pada kesimpulan: “Menjadi seorang wanita itu sulit.”
Aku merasa bangga dan menepuk punggungnya: “Pak Erwin, kamu sudah tumbuh dewasa.”
Erwin ketika mendengar kata-kataku, tatapannya menjadi halus, sambil membersihkan tubuh bagian bawahku: “Dimana, kamu sudah merasakannya?”
Aku tercengang dan tersipu malu, terus berteriak: “Bajingan.”
Erwin tertawa dengan gembira.
Setelah dia tertawa beberapa kali, dia terhenti dan mulai menampakan ekspresi rumit.
Aku seketika mengerti.
Oh, mengalir keluar lagi.
Sore hari ini aku seharian mengecek komputer, dan akhirnya memutuskan untuk memberitahu Erwin agar mencoba strategi berciuman itu.
Erwin yang sedang melihat-lihat dokumen, kepalanya saja tidak sempat diangkat: “Ini, setelah lewat beberapa hari lagi baru dibicarakan saja.”
__ADS_1
“Hm, Kenapa harus lewat beberapa hari lagi baru dibicarakan?”
Atau mungkin dia suka dengan keadaan seperti ini?
Setelah dia tidak mendengarku berbicara beberapa saat, Erwin mengangkat kepalanya, setelah melihat ekspresiku, dia sepertinya ingin menyodokku dengan pena.
“Bisa gak kamu gak berpikir sembarangan!”
Dan akhirnya aku bilang “Oh” terus menundukkan kepala berpura-pura menurut.
Aku kira hari ini akan lewat begitu saja tanpa masalah, tapi sore ini aku mendapat panggilan telepon.
Telepon dari perusahaan, dikarenakan Erwin memukul Pak Kemmel kemarin, jadi dia meminta penjelasan dari perusahaan.
Walaupun aku tahu Pak Kemmel punya perasaan padaku, tapi dia juga melakukan pelecehan seksual dengan verbal, karena tanpa bukti yang kuat, jadi aku yang pertama disalahkan.
Perusahaan hanyalah media untuk menengahi, pada akhirnya aku disuruh untuk pergi meminta maaf, dan meminta aku untuk menandatangani surat kesepahaman.
Dia duduk di kursi kantor sambil melipat tangannya, berkata dengan ekspresi dingin: “Aku gak mau pergi.”
Aku bilang: “Kamu harus pergi.”
Erwin Mencibir: “Emangnya kenapa?”
Aku mengepalkan tanganku dan berkata: “Kerjaan itu aku yang menemukannya, tapi orangnya itu kamu yang memukulnya”
Erwin tidak setuju: “Ada banyak pekerjaan yang lebih bagus dari itu, jika kamu mau bertanya.”
Aku melototinya.
Erwin mengerutkan keningnya: “Kenapa?”
__ADS_1
Aku berbicara dengan pelan, "Jika kamu tidak pergi, aku akan menanggalkan pakaianku dan berlari telanjang di perusahaan sekarang."
Erwin membalas: "Jika kamu berani melakukan itu, aku juga akan menemanimu melakukannya bersama."
"Oke." Aku tersenyum, "Kita lihat siapa yang jadi berita utama"
Erwin menatapku dengan lama.
"Kamu kejam."
Benar saja, orang yang gak tahu malu sulit dikalahkan.
Erwin membanting pintu dan berjalan pergi, cepat sekali sehingga aku tidak punya waktu untuk mengejar untuk memakaikannya headphone.
Itu sebabnya aku tidak dapat dengan cepat menguasai gerak geriknya.
Erwin akhirnya membuat masalah lagi denganku.
Setelah mendapat telepon dari polisi, aku kebingungan.
Karena nona memukul seseorang, kemungkinan hukumannya cukup serius.
Aku bergegas ke kantor polisi dengan gugup, terus aku melihat Erwin yang duduk di kursi dengan kaki disilangkan, kelihatan sangat arogan, hanya kurang adegan menyalakan rokok saja.
Pak Kemmel mengenakan seragam kerjanya, berbicara dengan emosional, tangan yang satu menunjuk dirinya sendiri dan tangan satunya menutupi bagian bawahnya.
Oh, akhirnya aku tahu bagaimana dia memukulnya, sehingga begitu parah.
Untuk seorang laki-laki, konsekuensinya adalah mandul, apakah itu tidak cukup serius.
Aku berjalan kehadapan Erwin: “Hebat juga kamu menahannya, dengan tubuhmu yang seperti ini, apa masih ada tenaga untuk mengalahkan orang.”
__ADS_1
Erwin yang mempunyai rasa benci di wajahnya: “Dia yang cari mati.”