
Erwin menatapku dengan dingin.
Aku menahan tawa, “Lin, kamu pulang dulu, ada yang mau aku bicarakan dengan dia.”
Sherline pergi dengan enggan.
Wajah Erwin berubah masam setelah Sherline pergi. Aku berbaring di sofa dan tertawa terbahak-bahak, lalu mengepalkan tangan dan mengarahkannya ke depan Erwin, “Mohon wawancara sebentar, bagaimana perasaan Pak Erwin saat ini?”
Erwin menjawab dengan tatapan bahwa detik berikutnya aku akan dibunuh olehnya.
“Kenapa tidak beritahu aku?” tanya Erwin dengan nada dingin.
“Memangnya kamu percaya?” jawabku acuh tak acuh.
Kesan pertama sangat mengerikan.
Aku begitu cinta mati pada Erwin karena kesan pertama, sedangkan Erwin begitu percaya pada Sherline karena kesan pertama.
Kami makan siang di kantin PT. Harwin.
Erwin makan dengan tidak fokus, sedangkan aku makan dengan lahap.
Makanan untuk CEO benar-benar lezat sekali.
Aku yang tidak kerja apa-apa mengikuti Erwin yang sibuk seharian pulang ke rumah.
Di tengah jalan, Pak Argus terus menatap kami sambil tersenyum sehingga Erwin langsung bertanya karena heran.
Pak Argus berkata, “Melihat Bapak dan Ibu begini, akhirnya aku bisa tenang.”
__ADS_1
Perkataan ini membuat ekspresi Erwin menjadi kompleks selama sisa perjalanan pulang.
Setelah pulang, Erwin berkata dengan canggung, “Lain kali bilang denganku.”
Aku memiringkan kepala, “Tidak perlu, lagian kita sudah mau cerai.”
Urat nadi di dahi Erwin menonjol, “Aku sudah setuju belum?”
Aku memutar mata, “Memangnya aku peduli?”
Aku yang berada di tubuh Erwin menjadi congkak, tetapi perasaan ini lumayan bagus juga.
Erwin berkata dengan kesal, “Aku pergi mandi.”
Tiba-tiba aku menahan Erwin, “Tunggu.”
Erwin menoleh padaku dengan heran. Aku terbata-bata, “Kamu … mau mandi gimana?”
Aku berteriak, “Tidak bisa!”
Mungkin karena suaraku terlalu feminin, Erwin menatapku dengan ekspresi tidak keruan seperti sangat ingin meracuniku hingga bisu.
Diketahui bahwa CEO akan menjaga keperjakaan sebelum cintanya dipastikan, walau kami mengambil alur sedih.
Setelah menikah tiga tahun, aku tidak pernah melihat Erwin yang telanjang, tentunya Erwin juga tidak pernah melihat aku yang telanjang.
Aku terbata-bata, “Kamu … asal siram saja, jangan pakai tangan!”
Erwin tersenyum dingin dan memasang ekspresi kemenangan.
__ADS_1
“Memangnya kamu bisa apa kalau tidak aku turuti?”
Aku bangkit berdiri, lalu mengambil gunting dan mengarahkannya ke bagian ******** sambil mengangkat alis melihat Erwin. Menurutmu?
Ekspresi Erwin saat masuk kamar mandi membuatku curiga dia ingin merusak wajahku.
Untung Erwin tidak melakukannya dan keluar dalam waktu cepat.
Namun, aku hampir menderita pendarahan otak saat melihat Erwin yang hanya membalut setengah badan dengan handuk!
Aku menunjuk Erwin dengan tangan gemetaran.
Erwin melihat ke bawah dan berkata acuh tak acuh, “Oh, maaf, aku lupa.”
Erwin membuka handuk dan membalut lagi.
Bajingan ini pasti sengaja, pasti sengaja!
Aku menarik napas dalam-dalam beberapa kali agar tidak mati karena emosi.
Sebelum aku masuk kamar mandi, Erwin menatapku dengan penuh makna, “Aku tidak keberatan, bebas kamu mau mandi gimana.”
Dengan malu-malu aku bilang “Preman!”, lalu masuk ke kamar mandi di bawah tatapan kaget Erwin.
Walau tidak pernah berhubungan seksual dengan Erwin, aku juga tahu postur badan Erwin sangat bagus. Namun, tak disangka akan sebagus ini.
Otot dada yang kekar, otot perut yang jelas, kaki yang ramping, serta …
Aku membasahi diri dengan shower sambil berpikir dengan wajah merah tersipu, tidak heran Erwin bilang tidak keberatan dengan begitu percaya diri.
__ADS_1
Modalnya cukup besar!