Bertukar Badan Dengan CEO

Bertukar Badan Dengan CEO
Bab 10


__ADS_3

Setelah kami selesai mengemas diri masing-masing, kami berdua turun ke perjamuan kembali, di tempat perjamuan pertunangan itu banyak sekali tamu yang hadir.


Tanpa di duga, Erwin yang biasanya arogan, namun tiba-tiba dia berinisatif sendiri mengajak ngobrol santai dengan orang-orang di sana.


“Salam kenal, aku istrinya Erwin, Winda Gracia.”


Setelah tidak berapa lama, aku akhirnya tidak tahan dan menahan dia “ Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Memperkenalkan diri” Erwin dengan perilaku tenangnya.


“Iya kah?” dengan perasaan aneh aku bertanya, “ Yang mengerti bakal mengira kamu memperkenalkan diri tapi yang gak ngerti bakal ngiranya kamu mencari perhatian bagaikan anjing yang kencing sembarangan dimana-mana”.


Erwin menggertakkan gerahamnya “ Kamu, memarahiku, seekor, anjing?”


“Kamu yang bilang sendiri ya”, dia melototiku, “Aku bukan orang yang sejahat itu, kalau perilakumu begini yang lain bakal ngiranya Winda itu wanita yang pendengki”


Erwin terdiam


Dia terdiam dan mengikuti aku dari belakang, dia tidak memperlihatkan kelakuan sok nya lagi.


Aku sangat puas.


Dengan segera, dua tokoh utama muncul, setelah melakukan semua prosedurnya dan memasuki sesi minum bersama, Erika berdiri terus berlari menuju tempatku sambil mengangkat gaun pengantinnya.


Aku siap-siap memasang wajah senyum untuk menyambut pelukannya.

__ADS_1


Tapi ternyata matanya tidak tertuju padaku dan hanya melirik sebentar ke arahku, matanya tertuju pada orang di belakangku.


Erwin yang secara tiba-tiba di peluk menjadi kaku sejenak: ?


Aku dengan perlahan mengembalikan senyuman ini dari wajahku.


Iya benar, aku lupa, kalau sekarang aku bukanlah diriku sebenarnya.


“Iparku” Erika dengan kasih sayang memegang lengannya, “Kamu bisa datang ke sini itu hal yang bagus”


Terus dia menatapku: “Aku hanya khawatir kalau dia tidak membawamu ke sini”


Aku mengangkat kepalaku dan menatap langit-langit: “Aku benar-benar orang yang polos”.


Erwin mencoba yang terbaiknya untuk tersenyum: “Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?”


Aku menatap Erwin dan melihat wajahnya yang penuh rasa terkejut dan bingung.


Dia dengan perilaku tidak seriusnya, ketika kedua orang itu pergi, dia dengan segera menarik aku ke sampingnya.


“Kalian di belakangku sudah melakukan apa aja?” Erwin menatapku dengan tatapan mata yang dalam.


Sebenarnya tidak ada apa-apa.


Karena Erwin yang bersikap acuh padaku biasanya, jadi keluarganya juga tidak banyak berinteraksi sama aku.

__ADS_1


Terus Erika yang digambarkan sebagai pemberontak keluarga, melawan keluarganya dan bergaul denganku, setelah begitu lama, kami akhirnya jadi akrab.


Sebagai putri dari keluarga kaya, jalan cintanya penuh dengan lika-liku.


Selalu ada orang yang berkeinginan mendekati putri kaya ini dengan wajah polosnya, tapi aku selalu membantunya dalam menemukan pria yang tepat dengan menemukan sisi lain orang itu.


Terakhir kali, Erika dilukai oleh seorang pria bajingan, dan memintaku untuk memperkenalkan pria untuknya.


Jadi aku menemukan satu orang yang aku cari melalui relasi, semua aspeknya sangat sempurna.


“Hal seperti ini, kenapa aku tidak tahu?” Erwin menampakan wajah cemberut, “Terus kamu dari mana mendapat banyak sekali pria yang hebat?”


“Hal yang kamu tidak tahu itu banyak banget.” Aku membalikan mataku, jika aku tidak menikahi Erwin, masih banyak pria yang mengejarku, saking banyaknya bisa di bariskan sepanjang jalan.


Erwin menatapku tidak senang, terus membalikan badan dan pergi.


Sangat mengherankan.


Sebenarnya, ada beberapa hal kecil yang aku tidak sampaikan, Erika pernah bertanya padaku, kenapa kamu bisa begitu jelas dalam menilai pria yang mana yang bajingan dan yang mana bukan.


Aku bilang sangat gampang, aku menjadikan tatapan mata abangmu untuk dijadikan referensi pembanding.


Erika menghela nafas, terus bertanya mengapa aku bisa membantunya sebaik ini, tapi diri sendiri saja tidak tahu kapan harusnya melepaskan orang.


Aku tersenyum dan berkata, “Orang yang menonton catur lebih baik dari pada pemainnya dan juga aku adalah orang yang tidak bisa rela dengan hal seperti itu.”

__ADS_1


Aku sudah rela melepaskannya, tapi hasilnya adalah takdir datang pada kami.


Erwin yang tadi berjalan pergi, tiba-tiba kembali dan meraih tanganku.


__ADS_2